ADC Ke-7 Angkat Tema Geunulam

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Aceh Documentary Competition (ADC) ke-7 kembali digelar oleh Aceh Documentary (Adoc) dengan  mengusung tema “Geunulam”  yang bermakna pikulan dan telah menyelesaikan program in house training sejak 16-23 juni 2019. Acara tersebut bertujuan untuk mencari ide-ide menarik dari sineas muda Aceh untuk disampaikan melalui medium film dokumenter. Kegiatan ini digelar di LPMP Neuheun Aceh Besar yang berlangsung selama satu minggu.

Aceh Documentary merupakan sebuah lembaga edukasi film dokumenter pertama di Aceh, dan telah memulai kiprahnya sejak tahun 2013 yang bernaung di bawah Yayasan Aceh dokumenter. Hingga kini terus berkomitmen untuk mengadakan program ADC. Saban tahun telah lahir puluhan karya film dokumenter terbaik serta sutradara muda Aceh melalui program ADC. Film-film karya sineas muda selalu menampilkan tokoh dan peristiwa unik yang memuat fakta-fakta menarik dari isi pendidikan, kebudayaan, lingkungan sosial, ekonomi serta kesehatan.

Tema Geunulam diangkat sebagai upaya mengambil spirit dari kata tersebut yang bermakna beban yang menjadi tanggung jawab masa depan dengan berbagai fenomena yang terjadi di Aceh hari ini.

“Aceh Documentary Competition (ADC) 2019 berupaya mengajak para sineas muda agar memberikan jawaban atas keresahan yang dirasa belum ideal melalui cara kreatif dengan nuansa karya yang mampu menggugah emosi, mengubah perspektif serta mengedukasi,” kata Jamaluddin Phonna, salah satu juri ADC 2019, kepada aceHTrend, Senin (24/6/2019).

ADC 2019 telah berlangsung sejak hari pertama pendaftaran kemudian berlanjut ke tahap seleksi degan mengumpulkan proposal ide cerita dari hasil riset,  lalu beralih ke pelatihan dasar hingga seleksi tahap kedua (pitching forum).

Ide menarik dari peserta terpilih akan menjalani program pelatihan dari pra produksi sampai pascaproduksi selama delapan hari di Banda Aceh yang dipandu oleh pembuat film dokumenter profesional serta supervisi yang berpengalaman. Proses ini membantu merumuskan ide cerita dalam bentuk naskah yang siap diproduksi oleh peserta mulai dari pengenalan kamera hingga manajemen produksi serta pendanaan film.

Setelah melalui beberapa proses seleksi yang matang, para juri memilih dua tim menjadi finalis. Adapun finalis yang terpilih salah satu tim berasal dari Banda Aceh yang  mengangkat judul Minor versus Mayor, menceritakan tentang seorang gadis kristiani yang hidup bersama mayoritas muslim di Aceh. Sedangkan finalis lainnya berasal dari Meulaboh yang mengangkat judul Klinik Nenek, bercerita tentang seorang nenek yang masih mempertahankan pengobatan tradisional di era modern. Kedua film tersebut layak untuk ditonton oleh masyarakat Aceh.

“Menimbang urgensi isu yang dibawa oleh peserta, dua cerita tersebut yang paling memungkinkan untuk dieksekusi ke dalam bentuk film dokumenter sehingga dua ide cerita tersebut mendapat support untuk diproduksi oleh Aceh Documentary dan finalistnya mendapat beasiswa belajar film dokumenter,” ujar Jamaluddin Phonna.

Setelah diberikan pembekalan melalui tahapan in-house training, peserta kemudian diarahkan untuk memproduksi film dokumenter yang akan didampingi oleh supervisi berpengalaman. Peserta juga dibekali dengan peralatan shooting hingga dana produksi film dokumenter.

ADC 2019 menuntut peserta agar berkomitmen dalam mengikuti keseluruhan rangkaian kegiatan terjadwal yang dirancang panitia. Finalis pula diharapkan bertanggung jawab atas pemakaian dana produksi. Peserta yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia maka akan diberikan sanksi.

Setelah mengakhiri proses syuting, panitia akan menyaring footage peserta, agar tidak terdapat pelanggaran seperti menimbulkan kebencian, memicu pertentangan serta ajaran tertentu yang dilarang oleh hukum Indonesia.

Menajer Aceh documentary Competition 2019 Teuku Nasharul Julianda berharap kepada sineas muda terpilih agar karya yang dibuat bermanfaat bagi masyarakat. “Saya berharap agar finalis tidak patah semangat, walaupun lelah berlatih hingga larut malam. Semoga film yang dibuat dapat memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat,” ujarnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK