Titimangsa MoU Helsinki

Muhajir Juli

Oleh Muhajir Juli*

Teungku Apui berdiri di pintu meunasah yang berlantai semen. Sebuah bangunan persegi panjang di Dusun Seuneubok Dalam, Teupin Mane. saya sudah lupa tahun dan tanggal. lelaki 50 tahunan itu menggenggam lembaran kertas fotokopi berisi syair Prang Sabi–yang sudah diubah sesuai kebutuhan perjuangan GAM.

Tiga hari kemudian, tanpa sadar, saya dan adik saya sudah mampu menghafal lirik-lirik penuh kobaran semangat perlawanan itu. Teungku Apui–aktivis GAM level kampung– sukses menjalankan misinya. Puluhan remaja tanggung dan anak usia SD setidaknya sudah membaca dan menyanyikan syair itu, tanpa harus diperintah lagi.

Semangat kami kian bertumbuh karena beberapa staf pengajar pengajian tanpa bayaran itu, adalah anak-anak muda yang mulai bergabung dengan GAM. Seorang di antaranya sampai kini tak pernah pulang. Ia menjadi bagian dari syuhada tsunami. Setelah lari dari kampung karena dicari oleh aparat keamanan.

Teungku Apui, bertahun setelah berdiri di depan pintu meunasah, gugur sebagai martir. Ia ditembak di depan pintu rumahnya. Di depan istrinya. Ia gugur secara lelaki–demikianlah kata orang-orang kampung– karena memilih berhadap-hadapan dengan TNI pada subuh berdarah itu.Ia menyusul putrinya yang telah lebih dulu menghadap Ilahi di persembunyian. Sang putri sakit keras setelah menjadi orang yang ikut dicari-cari oleh tentara pemerintah, karena keterlibatannya dalam perjuangan GAM.

Beberapa waktu kemudian, putra Teungku Apui juga menyusul ke alam baqa. Kombatan dengan dua anak itu ditangkap pada suatu malam dan kemudian mayatnya ditemukan di Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Bireuen.

***
15 Agustus 2005.

tanggal penting dan bersejarah. Sebuah masa di mana kondisi berputar 150 derajat. Perang dihentikan, GAM dan Republik Indonesia memilih jalan damai. Atas desakan tsunami yang menghumbalang Aceh pada 26 Desember 2004.

Setidaknya tsunami mempercepat kesepakatan itu dilakukan. Karena sebelumnya, setelah hingar-bingar Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU-MPR) Aceh digelar di halaman Mejid Baiturahman, 8 November 1999, doa-doa tulak bala dan doa memohon agar damai segera hadir di Aceh, kian gencar dibacakan para imam di meunasah dan diaminkan oleh rakyat Aceh yang ikut shalat. Kian hari semakin gencar saja doa tersebut dipanjatkan, diperdengarkan ke se antero kampung melalui pengeras suara meunasah.

Rakyat Aceh kala itu sudah lelah berkonflik. Kehadiran Darurat Militer dan Darurat Sipil membuat ruang gerak rakyat kian sempit. Angka kemiskinan semakin besar. Pembangunan tidak berjalan. Rakyat meratap, rakyat putus asa. Banyak lelaki yang akhirnya lemah syahwat. Jamu kuat lelaki pun laku keras di berbagai kota di Aceh. Efek ikutannya, telur ayam kampung dan telur bebek hijau ikut mahal. Semua kabar itu saya baca di surat kabar yang terbit kala itu.

Sekolah dibakar, pustaka ikut dibakar. laboratorium pun dibakar. Balai pengajian kosong. Semua ketakutan. Banyak yang lari ke luar negeri. banyak pula yang sakit jiwa. Janda dan yatim dari hari ke hari semakin banyak jumlahnya.

***
Kini, 14 tahun sudah damai hadir di Aceh. Negeri ini bergeliat dengan riang. Tak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi hantu dan kekuatan yang tidak bisa ditandingi. Rakyat kembali bergairah. Kebun yang dulunya terlantar kini digarap kembali. Para istri yang suaminya dulu lari, kini telah kembali. Ibu dan ayah yang dulunya terus menerus dilanda cemas, kini tenang kembali. Bahkan binatang pun yang kerap kena peluru nyasar, kini bergembira kembali. Karena aktivitas mereka memasuki kebun orang, menguasai jalan raya tanpa harus cemas kena tembak oleh Orang Tidak Dikenal (OTK). Para provokator pun bisa bernafas lega. Kini, mereka dengan bebas bisa mengompori orang lain untuk melakukan kekerasan, tanpa harus khawatir pada malam harinya akan jadi sasaran “hantu kojet”.

Masih banyak hal yang harus terus dilakukan. Aceh yang telah tertinggal puluhan tahun, karena konflik, kini perlahan bangkit. Dana melimpah, sarana semakin mudah.

Hanya saja, di tengah semangat membangun, kekuatan-kekuatan radikal, kelompok-kelompok yang merasa diri paling benar, merasa diri paling harus didengar, mulai eksis di Serambi Mekkah. Pemerintah harus tegas terhadap kelompok demikian. Bila dibiarkan, mereka akan semakin eksis dan bisa menjadi ranjau bagi siapa saja yang ingin memajukan Aceh.

Aceh membutuhkan citra positif di mata dunia, agar kita bisa membangun, meminta bantuan orang lain serta membangun kemitraan dengan orang lain. Tanpa citra positif, Aceh takkan pernah dilirik. Aceh takkan pernah dianggap penting untuk dimajukan. Bila demikian, maka Aceh tidak akan pernah maju. Orang-orang yang tidak maju akhirnya akan saling menghancurkan sesamanya. Saling memfitnah, saling menikam. Bangsa yang sibuk berkonflik dengan sesamanya akan terpenjara dalam delusi yang tidak berujung. []

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK