Muslizar: Negara Tanpa Dasar Ibarat Bangunan Tanpa Pondasi

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Wakil Bupati Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Muslizar MT menjelaskan, dasar negara sangat penting bagi suatu bangsa. Tanpa itu, negara akan goyah dan tidak mempunyai tujuan yang jelas serta tidak tahu apa yang ingin dicapai setelah negara tersebut didirikan. Sebaliknya, kata Muslizar, dengan adanya dasar negara, suatu bangsa tidak akan terombang-ambing dalam menghadapi berbagai permasalahan yang datang dari arah mana saja.

“Perumpamaan negara yang tidak memiliki dasar negara, yaitu bagaikan bangunan tanpa pondasi, tentu saja bangunan itu akan cepat roboh,” ungkap Muslizar saat membuka seminar Lahirnya Pancasila yang diselenggarakan oleh PWI Abdya, Kamis (27/6/2019).

Muslizar memaparkan, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang dapat diartikan sebagai lima dasar terbentuknya negara. Istilah Pancasila ini termuat dalam Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular. Pancasila sebagai dasar negara juga memiliki sejarah yang tak lepas dari proses kemerdekaan Indonesia. Proses itu berlangsung mulai dari sidang BPUPKI sampai sidang PPKI setelah Indonesia merdeka.

“Dalam pidato yang sekarang dikenang sebagai Hari Lahir Pancasila, Soekarno berusaha menyatukan perdebatan yang alot di antara para anggota BPUPKI mengenai dasar negara merdeka. Usulan Pancasila milik Soekarno kemudian ditanggapi dengan serius, menyebabkan lahirnya Panitia Sembilan. Panitia ini kemudian bertugas untuk merumuskan ulang Pancasila yang telah dicetuskan oleh Soekarno dalam pidatonya,” jelas Muslizar.

Kemudian, tambahnya, Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sendi utama penyusun Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang kemudian tercantum pada paragraf ke empat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

“Maka sudah selayaknya kita selaku warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau memercayai, menghormati, menghargai, menjaga, memahami dan melaksanakan segala hal yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, khususnya dalam pemahaman bahwa falsafah Pancasila adalah sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Sehingga berbagai perselisihan serta kekacauan yang mungkin terjadi di antara kita saat ini dapat diatasi dengan lebih menjunjung tinggi serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” paparnya.

Sebagai sebuah Ideologi, tambahnya, Pancasila memang sedang menghadapi tantangan besar di tengah arus perubahan yang terjadi sangat cepat di seluruh belahan dunia. Tantangan tersebut, kata Muslizar, bukan saja berkaitan dengan masalah ancaman dari luar, tetapi juga berkaitan dengan kenyataan, bahwa Pancasila sebagai sebuah ideologi mulai terkikis dari pikiran dan pemahaman generasi muda kita sehingga berpotensi merusak tenun kebangsaan ini.

Seiring perkembanga zaman, sambungnya, Pancasila tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan generasi milenial, mengingat dalam beberapa puluh tahun ke depan merekalah yang akan menentukan arah dan nasib ke mana bangsa dan negara ini harus melangkah.

“Oleh sebab itu menjadi syarat mutlak agar Pancasila dapat bersemayam di dalam jiwa para generasi milenial, diperlukan model komunikasi dan pendekatan yang lebih konstruktif, dialogis, serta kekinian sesuai perkembangan zaman. Salah satu hal yang membedakan generasi milennial dengan generasi-generasi sebelumnya adalah soal media komunikasi, hal tersebut seiring dengan perkembangan teknologi media komunikasi yang sangat cepat,” sebutnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK