Baris Waktu

Oleh Muhajir Juli*

Di tengah lapangan golf, pria beruban itu berdiri. Ia menatap langit sore yang cerah. Ia melenguh pelan. Sudah dua bulan ia menepi, sendiri, berkawan dengan angin dan rerumputan.

Lelaki itu menggunakan sun visor di kepalanya yang seperempatnya telah botak. Kumis tebalnya tak lagi garang. Uban pun telah merajai dengan leluasa di sana.

Sejenak ia mengeker. Mengira-ngira sejauhmana bola putih seukuran telur ayam akan melambung. Ia bukan pegolf profesional. Sejak muda tak berbakat memainkan olah raga yang digemari oleh Tiger Wood, pria kulit hitam juara dunia golf.

Dulu, dengan kemampuannya bergolf sangat buruk, ratusan tepuk tangan bergema kala ia memainkannya. Mereka memuji bahwa ia berbakat. Ia paham itu pujian penuh kebohongan. Akan tetapi ia terlena. Bersebab hatinya condong pada dunia dan segala kebohongan di dalamnya.

Dua hari lalu ia menelpon seorang anak muda yang pernah ia bantu berkali-kali kala ia masih punya pengaruh. Sampai lima kali ia mencoba telepon, selalu dialihkan. Ia kecewa, walau tak murka. Lelaki tua itu teringat kata maja pada suatu ketika: “Bila kau mengejar dunia, maka ia akan meninggalkanmu. Dunia adalah bangkai.”

Kilau jingga di ufuk barat kian dekat pada pucuk gunung. Andaikan waktu bisa diputar, ia ingin mengubah segalanya. Tapi, dunia bukan roda kemudi. Dunia adalah wahana untuk menuju ke depan. Bukan sarana mundur. Dunia diciptakan sebagai ruang ujian, bukan kelas latihan.

Kembali ia mengeker bola. Dengan sekali pukul, bola melambung tinggi. Kemudian mengelinding. Sebuah fairway shot yang sempurna. Ia berteriak histeris. Tapi tak ada tepuk tangan. Ia tiba-tiba tersadar bila kemampuannya itu tidak dilihat oleh orang lain. Ia sendirian di sana. Bilapun ada yang melihat, tentu tanpa tepuk tangan. Karena ia bukan lagi siapa-siapa. Ia hanya sampah waktu yang sebentar lagi akan mati.

Ia hanya seonggok tubuh tua yang mulai bongkok.

***
Semua orang akan dihadapkan pada kekosongan. Bertemu hampa, ketika isi dunia enggan menoleh. Manusia di dunia ini berjalan pada ruang yang berbatas. Sehebat apapun ia mencoba melumer batas, tapi setiap manusia telah diberi batas.

Semua manusia memiliki masa tersendiri. Walau terlihat saling mengisi di ruang sosial, tapi sesungguhnya tiap individu sedang menjalani takdir masing-masing. Tuhan telah meniupkan langkah, rezeki dan maut kepada tiap hambanya, tak soal apakah ia muslim maupun kafir.

Bagi Tuhan, setiap yang ia ciptakan pasti akan diberikan takdir masing-masing. Hanya saja sang Khaliq mengatakan bahwa manusia harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai impian. Karena sekalipun menjalani takdir, perubahan menuju kesuksesan tidak akan hadir andaikan manusia tidak memperjuangkannya.

Untuk menghadirkan keteraturan, Tuhan membuat batas berupa garis visual yang harus dihormati oleh tiap individu. Siapa saja tidak boleh menzalimi individu lain, ketika ia ingin menjadi yang terunggul di antara yang unggul. Tapi, manusia kerap melampau batas. Demi mencapai target, kerap menginjak orang lain. Tak peduli, walau teman seperjuangan.

***
Jabatan, kekuasaan, kekuatan, semuanya memiliki batas. Orang sebesar Firaun pun berakhir kekuasaanya hanya oleh air laut. Namruz mati dalam kehinaan. Qarun mati dengan kesombongan, Hitler pun mati dalam depresi tak berujung.

Kita semua memiliki batas. Jangan terlalu eforia atas sebuah jabatan. Jangan angkuh saat mendapatkan nikmat yang besar. Manusia unggul adalah yang mampu membumi. Bukan sok-sok bijak tapi hati angkuh luar biasa.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK