Juru Bicara dan Surat Mendagri

ILustrasi. Sumber: Standar-Examiner.

Oleh Muhajir Juli*

Surat Edaran dari Menteri Dalam Negeri, bernomor: 480/3503/SJ, bertarikh 6 Mei 2019, yang ditujukan kepada seluruh kepala daerah, sampai sekarang belum ditindaklajuti oleh para bupati di Aceh. Begitu sulitkah bagi seorang bupati untuk menentukan siapa yang diangkat menjadi juru bicara?

Memilih seorang jubir lebih sulit ketimbang memilih pasangan hidup. Karena juru bicara, setelah dipilih kemudian diberikan tugas untuk berhadapan dengan orang lain. Menjadi jembatan komunikasi antar pihak. Sedangkan pasangan hidup, dipilih untuk ditempatkan ke dalam ruang privasi.

Secara harfiah, juru bicara adalah seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk menerangkan kondisi atau situasi orang lain yang mengutusnya.

Bila dilihat dari definisi tersebut, seorang juru bicara haruslah memiliki kompetensi dasar, yaitu kemampuan berbicara. Berbicara yang dimaksud oleh ilmu pengetahuan, bukan sekedar mampu membunyikan kata. Tapi termasuk juga kemampuan mengontrol suara, kemampuan memberikan kepahaman, serta mampu menjadi penyambung lidah lembaga atau personal yang ia wakili.

Dalam bahasa yang lebih ringkas, juru bicara adalah personal yang dipilih sebagai ujung lidah orang yang diwakili.

Dengan demikian, ketika seseorang diangkat menjadi juru bicara, maka ia sudah harus mengerti bahwa saat itu pula ia tidak lagi mewakili dirinya sendiri dalam tiap pernyataan dan keputusan-keputusan yang diambil. Juru bicara bertugas sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan atau pemberi pernyataan mewakili sosok yang diwakili.

Dia harus mampu mengatur ritme, menjaga tingkah laku, mengontrol opini publik serta membentuk opini publik, dengan hasil akhir mempercantik citra lembaga atau sosok yang ia wakili.

Kembali ke soal surat Mendagri di atas, Pemerintah Pusat melihat setiap pemerintah daerah sudah waktunya memiliki juru bicara, karena selama ini narasi yang disampaikan oleh pemerintah selalu kalah oleh narasi yang dibangun oleh oposisi atau kelompok lain yang hidup bergantung pada isu yang disuarakan.

Contoh paling dekat, selama ini dalam konteks isu lingkungan hidup, pemerintah di manapun itu di Indonesia, selalu terlihat sebagai penjahat. Di sisi lain para pegiat lingkungan hidup, akan dipuja sebagai pahlawan karena keberanian mereka menyuarakan hal tersebut. Walau seringkali apa yang mereka sampaikan tidak mutlak benar. Pemerintah, dengan kemampuan komunikasi publik yang buruk, terlihat megap-megap dan tidak berdaya. Bila para pialang isu lengkap dengan data ketika menyerang pemerintah, di sisi lain pemerintah sendiri seperti kekurangan data.

***

Posisi juru bicara sangat seksi di mata siapapun. Karena ia dianggap adalah orang paling dekat dengan sosok yang diwakilinya. Untuk itu tiap saat dia akan selalu dijadikan sasaran tembak oleh oposisi atau oleh entitas lain yang menginginkan posisi jubir diberikan kepada dirinya. Perilaku like and dislike ini terlihat sangat kentara ketika seseorang menyerang juuru bicara pemerintah di media sosial.

“Bacut-bacut tawouk jubir. Bacut-bacut peugah bak jubir. Aneuk meulho di bineh gle pih peugah bak jubir.” Demikianlah kalimat yang cocok untuk mengambarkan perilaku netizen yang setiap hari mengkritik juru bicara pemerintah di media sosial.

Melihat kondisi yang demikian–terlalu banyaknya energi negatif dari luar yang dihempas kepada juru bicara, di sini kemampuan juru bicara sangatlah penting. Ia harus mampu memilah dan memilih, bagaimana ia harus bersikap. Jubir tentu tidak boleh frontal. Ia harus memiliki kemampuan diplomasi.

Jubir bukan sekedar sebagai penyambung lidah, tapi harus pula menjadi diplomat, negosiator serta fasilitator. Seorang jubir juga harus bersikap independen di luar tupoksinya sebagai jubir. ia tidak boleh bersikap otoriter, konon lagi ikut-ikutan pada berbagai dinamika di luar dirinya.

Tugas jubir, menjaga kualitas komunikasi, memastikan kondisi serta merangkul semua pihak yang potensial untuk dirangkul. Jubir tidak boleh menjadi pemukul, konon lagi memposisikan diri sebagai tukang gosip demi menjaga pertemanan dengan personal.

Karena ia berada di sana sebagai wakilah orang lain. Dia di sana karena dianggap pantas untuk menjadi penyambung lidah, penjaga stabilitas.

Bila melihat beratnya tugas yang diemban oleh juru bicara, maka wajar bila sampai dengan saat ini para bupati di seluruh Aceh sedang kesulitan menentukan juru bicara untuk mewakili mereka. Meupopo sinyak jeut duk di sinan. Bah pih jai sinyak nyang pike droe cocok di sinan.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK