Kendi Insani

Ilustrasi

Oleh Prof. Dr. Syamsul Rijal*

Lelaki tua itu, sebut saja Insani saban sore menelusuri sisi lereng bukit ke lembah terhampar hijau bak permadani di tengahnya terdapat oase percikan air sebagai sumber kehidupan. Sumber air berada di sebelum bukit dari huma yang dihuninya.

Insani membutuhkan air empat kendi setiap harinya tetapi ia hanya mampu memindahkan air tiga kendi setiap kali ia mengangkutnya.

Insani mengangkut air dengan menggotong dua kendi yang dilekatkan pada kayu merentang untuk dipikulnya.

Sore itu Insani kaget mendengarkan dialog antara dua kendi yang dibawanya. Kendi sisi sebelah kiri merasa risih dan sedikit kecewa akan keadaanya karena tidak maksimal membantu Insani memuat air secara utuh sampai ke huma. Ini diakibatkan karena kendi itu ada bocor halus sehingga meneteslah air sepanjang jalan berliku yang dilalui Insani.

Setiap perjalanan pulang dari sebalik bukit itu menjadi bahan cercaan kendi sisi kanan yang dapat menampung utuh semua air yang dibawa Insani sampai di kediamannya, karena kondisi sempurna tanpa ada kebocoran sedikit pun.

Insani sangat cerdas dan mendengar keluhan dialogis antar kendi itu. Oleh Insani ditaburkanlah bibit bunga aneka warna di sepanjang sisi jalan yang dilaluinya.

Sehingga air yang menetes dari kendi bocor secara otomatis menyirami bibit bunga yang mulai tumbuh ke permukaan. Demikianlah hari-hari yang dilalui bunga tumbuh pesat subur sampai tampak kembang bunga yang aneka warna sehingga menambah kehagiaaan bagi siapa saja ya memandangnya.

Syahdan, sore itu masih mendengar dialog antara dua kendi. Kendi sisi kanan merasa sempurna tanpa bocor dan secara maksimal menampung air sampai ke huma Insani. Kendi sisi kanan merasa paling berjasa dalam kehidupan Insani. Sementara itu kendi sisi kiri merasa kurang maksimal karena hampir separuh dari air yang dimuat tercecer sepanjang jalan yang dilalui Insani.

Insani menyela dialog kedua kendi. Terima kasih kendi sisi kanan pengabdiannya sempurna. Dan kendi sisi kiri jangan merasa kurang karena tidak maksimal mengangkut air yang aku butuhkan.

“Ketahuilah subur tanaman dengan bunga aneka warna sepanjang jalan adalah jasa langsung dari kendi kiri yang telah meneteskan air sepanjang jalan yang kulalui,” ujar Insani.

Bunga aneka warna tumbuh subur dan mekar itu pada gilirannya menambah income Insani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kecerdasan mencermati realitas selalu mendatangkan manfaat spektakuler kehadirannya tanpa diduga sebelumnya.

Dengan penegasan dialog itu kendi kanan sadar dan menghilangkan sikap merasa sempurna ternyata bahwa kendi sisi kiri yang bocor juga punya hikmah yang berfaedah untuk kepentingan lainnya.

Spirit yang dapat diambil dari dialog kendi Insani adalah yang sempurna tentu berfaedah dan jangan menjadi bangga karenanya. Sementara kendi Insani yang bocor jangan merasa tidak berfaedah karena posisi kebocorannya membawa dampak kebajikan lainnya yang sangat berfaedah.

Demikianlah jika kita berkeinginan mencermati realitas yang ada selalu saja kita temui kesempurnaan dan kekurangan. Namun janganlah kesempurnaan itu menjadikan kita bangga dan menafikan yang lainnya. Sementara yang merasa kurang jangan bersedih karena ternyata entitas kekurangan itu juga mendatangkan faedah spektakuler.[]

*)Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK