212 untuk Joko Widodo

Presiden RI Ir. Joko Widodo. (Ist)

Oleh Muhajir Juli*

Ini adalah Pilpres paling melelahkan sepanjang sejarah Republik Indonesia. Bila melihat pola kampanye, maka apa yang terjadi kali ini serupa dengan pemilu di era Orde Lama (1955), kala partai politik menjual apapun –termasuk Agama dan Tuhan–demi meraih simpati rakyat.

Penyebaran berita bohong, pendelegitimasian lembaga hukum dan penyelenggara pemilu, telah membuat rakyat Indonesia terpecah dalam dua faksi besar yaitu cebong dan kampret. Di media sosial kedua kelompok ini berseteru seperti perang Baratayudha. Nilai kebenaran tidak lagi ditentukan oleh norma umum, tapi sudah dikooptasi sesuai kepentingan politik.

Narasi-narasi politik yang disematkan pada agama kian kencang menghujam siapapun yang berbeda. Di Aceh, saya ikut merasakan, betapa berbeda pilihan politik seperti berada di zaman Jahiliyah kala Nabi Muhammad baru mendakwahkan Islam. Dituduh macam-macam. Bahkan oleh meraka yang selama ini saya kenal memiliki kemampuan komunikasi yang bagus. Rupanya, kepentingan untuk mewujudkan kepentingan bisa mengubah manusia. Di media sosial mereka beringas luar biasa. Seakan-akan sudah menjadi orang yang di SK kan oleh Tuhan sebagai pencatat amal manusia serta seakan-akan sudah diberikan surat PAW oleh Malik Ridhwan sebagai penjaga pintu surga. Walau ketika bertemu di warung kopi dan di kenduri, mereka tidak memiliki argumen yang kuat, bahkan kalau diseriusi akan cengar cengir seperti kambing mengunyah asam sunti yang sudah dilaburi garam. Lage kameng pajoh asam, demikian orang Aceh menyebutnya.

***

Kontestasi 2019 sudah usai. Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh permohonan gugatan hasil Pilpres 2019 yang diajukan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dengan putusan ini, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin tetap memenangkan Pilpres 2019.

“Mengadili, menyatakan, dalam eksepsi menolak eksepsi termohon dan pihak terkait untuk seluruhnya. Dalam pokok permohonan: menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya,” ujar Ketua MK Anwar Usman membacakan amar putusan dalam sidang gugatan hasil Pilpres di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019).

Demikian laporan media massa.

Saya ikut memantau jalannya sidang di MK. Terbuka dan terang benderang. Sebagai mahasiswa hukum, saya belajar banyak hal dari proses itu. Seperti Pilpres 2014 kala Prabowo-Hatta mengajukan gugatan, tim kuasa hukumnya raya reuboh ngon but. Bukti dan saksi benar-benar tak seperti yang digembar-gemborkan. Saya kasihan pada Prabowo.

Terlepas dari hal tersebut, saya tertarik pada angka 212 yang sempat menjadi sangat populer di Indonesia. Bahkan setelah demo besar-besaran itu dengan tagline 212 serta telah pula melahirkan alumni dan minimarket. Angka yang telah begitu lama dipopulerkan oleh Bastian Tito melalui Pendekar Naga Geni 212 Wiro Sableng, sepertinya berpihak kepada Joko Widodo.

Lelaki kurus asal Solo, Jawa Tengah itu pernah dua kali terpilih sebagai Walikota Solo, sekali menjadi Gubernur Jakarta dan dua kali menjadi Presiden RI. Bila prestasi itu disatukan, secara otomatis akan membentuk angka 212. Luar biasa kan?

Di luar itu semua, kemenangan Jokowi-Ma’ruf menjadi sangat penting bagi Aceh. Walau secara umum pemilih di sini menolak mereka, tapi kemenangan 01 secara nasional menjadi garansi bagi keberlanjutan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa mega proyek infrastruktur besar. Aceh tidak akan maju andaikan tidak memiliki infrastruktur yang mencukupi. Untuk bersaing di era 4.0, Aceh harus terlihat mewah di mata orang lain.

*)Penulis adalah kolomnis, pengasuh Jambo Muhajir. CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK