Boat Hancur Kena Badai, Nelayan Krueng Raya Butuh Bantuan

Oleh Teuku Muttaqin*

Selasa, 25 Juni 2019 lalu bukanlah hari seperti hari biasa bagi Pawang Burhan (47 tahun). Ia harus bertaruh nyawa di 60 mil laut dari Krueng Raya ke arah laut lepas kala “bot thep-thep” yang dia kemudikan pecah, hancur, dan terbelah dua menjadi dua bahagian akibat diempas bakat (badai). Beruntung, temannya Pawang Samsul (60 tahun) yang berada di bot thep-thep lain yang melaut bersama-sama pawang Burhan dengan sigap menolongnya.

Jika tidak, boleh jadi hari itu ialah hari terakhir Pawang Burhan di dunia, ia akan tinggal nama. Paling mujur, Burhan bisa selamat jika mampu bertahan mengapung bersama fiber ikan yang ia bawa. Namun kemungkinannya, ia akan diempaskan ke pantai sekitaran Thailand dan bisa saja ditangkap di sana karena telah memasuki batas teritorial negara lain.

Menurut cerita Burhan, ia dan teman-temannya terpaksa melaut hingga sekitaran Zona Eekonomi Ekslusif (ZEE) karena ikan di wilayah lhok Kreung Raya, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar tidak didapati lagi ikan. Selain karena jumlah perahu semakin banyak, ikan di wilayah lhok semakin berkurang. Untuk ukuran sehari hari penangkapan jika menangkap di wilayah lhok, “Kadang meuteumee 100 ribee si uroe,” katanya kepada penulis.

Potong biaya operasional dan biaya untuk pemilik boat, paling hanya mendapatkan Rp30 ribu per hari. Katanya lagi dengan nada lirih.

Makanya, tidak ada jalan lain kecuali mencari ikan di 35 mil sampai dengan 60 mil laut, walau nyawa jadi taruhan.

Di sana, ia dan teman-temannya bisa memancing di sekitaran rumpon-rumpon besar milik nelayan toke besar.

“Alhamdulillah, biasanya kami bisa bawa pulang uang bersih antara Rp100-120 ribu setiap melaut.

Semenjak boat milik Pawang Amri (64 tahuh) yang ia bawa medapatkan musibah, praktis sudah hampir satu minggu ia tidak punya penghasilan. Sementara ia mempunyai tiga orang anak, dua masih kecil-kecil, satu balita dan TK, serta satu lagi berusia remaja (15 tahun).

Pawang Burhan mengaku sedih dan kasihan pada Pawang Amri karena boat miliknya ya ia bawa sudah rusak.

Maka jih, hom, boat atra gob nyan ka hanco bak jaroe lon. Ngon hana boat gob nyan (Pawang Amri) ka menganggur lon sidroe, ka meutamah pengangguran/kemiskinan sidroe teuk urueng Aceh,” ungkapnya.

Dengan nada penuh harap, ia lantas mengungkapkan, “Adak jeut beuna yang bantu boat Pawang Amri yang ka hanco nyan. Kamoe hana meutupat peugah hai. Nyan keuh pat-pat nyang meusareung ju kamoe peugah. Kebutulan troh awak droe, kakeuh bak awak droenueh ju kamoe keluh kesah,” katanya.

Tanpa boat itu ia seperti orang yang kehilangan kaki karena tidak bisa mencari rezeki.

Lagee kheun ureung awai, ‘mita anuek matee nang, bak tapusiblah/tabela anuek matee droe‘,” cerita Pawang Burhan yang masih tetap optimis meski lima hari lalu bertaruh nyawa di tengah lautan.

Sebenarnya, menurut Panglima Laot Lhok Krueng Raya, Pawang Imran (47 tahun) yang ikut mendampingi, Pawang Burhan memiliki boat sendiri seukuran boat Pawang Amri yang panjangnya 8 meter. Sayang, boat tersebut juga rusak akibat banjir di kawasan krueng Raya sekitar tahun 2017 lalu. Tidak bisa dioperasikan lagi.

Pawang Imrah sudah menyampaikan permasalahan kerusakan boat nelayan akibat banjir tersebut ke Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Besar waktu itu. Hingga hari ini, sudah tiga tahun mereka menunggu belum ada satu pun bantuan yang datang.

Penulis dan beberapa teman yang hadir di situ menyempatkan diri melihat boat Pawang Burhan tersebut. Boat berada persis di seberang TPI Kreung Raya. Meskipun rangka boat masih ada, tetapi papan dan hampir seluruh badan boat mengalami kebocoran, tidak bisa diperbaiki lagi. Jika pun terpaksa diperbaiki, biayanya dipastikan lebih kurang seharga boat baru.

Harga boat thep-thep baru ukuran 8 meter lengkap dengan alat pancing sekitar Rp33 juta/boat, terdiri atas: body boat Rp19 juta; mesin merk Pentiang 32 PK Rp10,5 juta. Sementara, sisanya Rp3,5 juta untuk peralatan pancing dan alat tangkap lainnya.[]

*Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK