Nezar Patria: Ekonomi Aceh Harus Dibangun dengan Semangat Wirausaha

ACEHTREND.COM, Jakarta – Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat yang digelar dalam Forum Silaturahmi Aceh Meusapat di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta pada 30 Juni 2019 lalu menghasilkan tujuh rekomendasi yang didukung oleh berbagai kalangan. Salah satunya dari wartawan senior Nezar Patria yang tak lain adalah putra Aceh.

Alumnus Fakultas Filsafat UGM dan master dari London School of Economics, Universitas London ini mengatakan, apa yang telah didiskusikan dalam forum tersebut telah menjawab sebagian besar kerinduan akan dialog sehat antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.

Menurutnya, diskusi seperti itu dapat menjadi salah satu solusi bagi generasi muda Aceh untuk memahami tentang problem krusial Aceh hari ini, terutama dalam mengantisipasi tenggat waktu dana Otsus yang akan berakhir beberapa tahun ke depan.

“Ekonomi Aceh harus dibangun dengan semangat entrepreneurship atau berwirausaha yang tinggi, dengan memanfaatkan potensi komoditi, terutama pertanian dan perkebunan serta perikanan. Aceh harus memanfaatkan posisinya yang strategis di Selat Malaka, pintu gerbang Indonesia untuk urusan ekspor impor komoditi itu,” ujar Nezar, yang juga Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga Periode 2016-2019, Dewan Pers.

Nezar mengatakan, untuk menjalankan poin-poin rekomendasi tersebut, perlu pula Pemerintah Aceh menciptakan jejaring bisnis dengan perspektif outward looking, yakni memperkaya pemahaman pemerintah terhadap persoalan internal, atau melakukan perubahan internal ke arah lebih baik.

Begitu pula terkait pernyataan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah yang mengatakan bahwa saat ini di Aceh investasi loyo dan kemiskinan meningkat, Nezar berharap masalah tersebut harus segera dicarikan solusinya. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini perekonomian Aceh digerakkan oleh konsumtif poeple, bukan pada sektor produktif.

“Artinya, harus pula dibangun kekuatan dagang yang berkelanjutan dan Pemerintah Aceh harus menggandeng berbagai praktisi untuk mencari solusinya sesegera mungkin,” jelas dia.

Nezar juga menekankan agar Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh yang baru, Makmur Budiman dapat menjadi motor dan motivator dalam pembangunan ekonomi Aceh. Diketahui, selama ini Kadin Aceh sebagai salah satu poros ekonomi yang diharapkan mampu menggerakkan usaha-usaha di Aceh belum mampu bekerja secara maksimal.

“Kadin Aceh harus menjadi penggerak untuk menciptakan pebisnis-pebisnis muda, dan motivator untuk inovasi-inovasi bisnis. Ada banyak komoditi yang bisa digarap dari hulu ke hilir dari sektor industri pertanian dan juga perikanan,” ujarnya.

Terkait ekonomi kreatif, Nezar juga meminta pemerintah untuk membangkitkan sektor tersebut. Perlu juga dipikirkan membangun ekonomi dari desa, dengan memanfaatkan dana milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang dipadukan dengan jaringan teknologi.

“Kita bisa belajar dari China dan India bagaimana mereka mampu mengembangkan UKM dengan bantuan teknologi. Dengan internet via media sosial dan paltform e-commerce, mereka bisa memasarkan produk rumah tangga di pelosok China ke seluruh dunia,” jelas Nezar, yang juga Pimpinan Redaksi The Jakarta Post, salah satu koran berbahasa Inggris di Jakarta.

Dialog tersebut menampilkan empat pembicara, yakni Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Dr. Ir. Hamman Riza, M.Sc., Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Dr. Syamsul Rizal, M.Eng., dan Kapala Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, Ir. Sabri Basyah.

Adapun ketujuh poin rekomendasi tersebut, yaitu merekomendasikan Forum Aceh Meusapat menjadi agenda reguler Pemerintah Aceh sebagai wadah mendiskusikan gagasan, menampung masukan, dan menghubungkan kepentingan Aceh. Forum Aceh Meusapat dilaksanakan secara periodik oleh BPPA di Jakarta untuk selanjutnya diarahkan terselenggara bergilir di kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh demi menggali potensi dan menyiapkan strategi pengembangan sektor ekonomi unggulan sesuai kawasan masing-masing.

Selanjutnya, forum ini mendukung Pemerintah Aceh menyiapkan instrumen dan kebijakan strategis untuk optimalisasi pembangunan ekonomi Aceh melalui sektor prioritas pertanian/perkebunan, perdagangan, perikanan, dan pariwasta sebagai upaya menunjang dan memacu akselerasi 15 program unggulan Pemerintah Aceh.

Meminta bank-bank yang beroperasi di Aceh mengalokasikan pembiayaan maksimal pada sektor-sektor ekonomi prioritas yakni pertanian/perkebunan, Perdagangan, perikanan, dan pariwisata Aceh. Mengimbau pengusaha-pengusaha diaspora Aceh untuk aktif berinvestasi, membina dan mendukung terciptanya lapangan kerja kreatif dan kompetitif di Aceh.

Selanjutnya memperkuat sinergi Pemerintah Aceh, dunia usaha/industri, perguruan tinggi dan media dalam implementasi strategi pembangunan ekonomi Aceh Hebat yang berbasis teknologi, data, konektivitas, dan kompetensi sumberdaya manusia. Mendorong partisipasi media memberikan informasi mengenai Aceh yang kondusif dan fakta-fakta inspiratif terkait dunia investasi dan pembangunan ekonomi Aceh Hebat.

Terakhir, meminta Pemerintah Aceh untuk membuka Bank Aceh Cabang Jakarta dan mendorong warga Aceh diaspora berpartisipasi dengan membuka rekening dan bertransaksi melalui Bank Aceh Cabang Jakarta.[]