Tanduk Kerbau

Ilustrasi @Pixabay

Syahdan, bagi negeri ini dalam perhelatan keluarga dan masyarakat penganugerahan “tanduk kerbau” adalah simbol kehormatan dan kemuliaan. Negeri aman damai sejahtera ini sungai menjadi jalur transportasi antarkampung.

Pagi itu udara cerah. Mentari pun ceria menyinari seantero pelosok negeri. Bias sinar mentari turut menghangatkan flora dan fauna membangunkan spirit kicauan burung dan terpaan cahayanya jatuh ke pelataran sungai bersih yang mengalir tenang membuat kilauan indah.

Sebuah perahu melaju perlahan pasti dengan seorang penumpangnya sekaligus sebagai nakhoda, sebut saja namanya Tuan Mulia. Tujuan utamanya adalah ke hulu sungai. Di sana ada sebuah kampung dengan penduduk sangat kompak yang sedang melaksanakan kenduri dengan menyembelih seekor kerbau besar. Tuan Mulia ini di setiap kehadirannya memperoleh pemberian kepala kerbau yang bertanduk sekaligus itu adalah simbol kemuliaan.

Peluh berkilauan mengucur perlahan seumpama butiran permata dari sela pipi dan dagu Tuan Mulia pertanda keseriusan mendayung perahu agar dapat tiba tepat pada waktunya. Di tengah perjalanan Tuan Mulia berpikir dengan keramahtamahan penduduk kampung di bagian hilir sungai. Kebetulan pada saat jam dan hari yang sama juga melakukan kenduri. Bedanya di kampung hilir ini disembelih dua ekor kerbau.

Hatinya bergetar dan penuh kebimbangan, ke Kampung Hulu penduduk kompak menyembelih seekor kerbau sementara di Kampung Hilir penduduk ramah tamah menyembelih dua ekor kerbau. Kebimbangan dan hasrat mengusik hati dan pikiran Tuan Mulia. Akhirnya Tuan Mulia mengarahkan perahunya ke Kampung Hilir bermaksud menerima pemberian dua kepala kerbau tentu dengan dua pasang tanduknya. Padahal tujuannya ke Kampung Hulu hampir sampai.

Dengan penuh semangat dia kayuh perahu agar tiba tepat waktu di Kampung Hilir. Menjelang sampai Tuan Mulia kepikiran dengan warga kampung yang kompak meskipun menyembelih seekor kerbau. Tuan Mulia memutuskan untuk ke arah Kampung Hulu, sampai di kampung ini kenduri telah selesai. Tetua warga telah menganunegarahkan kepala kerbau kepada sosok yang dituakan di kampung itu.

Mengetahui hal ini Tuan Mulia segera balik arah menuju Kampung Hilir dengan penuh semangat mengayuh perahunya. Jelang tiba di kejauhan terlihat warga bubar. Perhelatan di Kampung Hilir pun telah usai. Tuan Mulia dengan napas terputus-putus muka memerah peluh bercucuran balik lagi sampai tiba di labuhan kampungnya sendiri.

Opsi kehidupan

Dari pengalaman Tuan Mulia mengajarkan bahwa menjalani kehidupan itu adalah opsi. Pikiran cerdas dan keinginan haruslah diselaraskan sehingga tidak menuai kekecewaan. Acapkali dalam kehidupan ini kita dipengaruhi serta dihantui oleh keinginan sehingga lupa kepada fakta yang memungkinkan dicapai. Untuk itu opsi kehidupan haruslah realistis bukan mengikuti keinginan apalagi selera. Dahulukanlah kebutuhan dan kemuliaan Anda ketimbang keinginan yang tidak akan pernah sempurna untuk diwujudkan.

Krisis tanduk kerbau

Tanduk kerbau bagi pengrajin rencong di Aceh adalah bahan baku yang diperlukan untuk dipasang pada gagang rencong. Dalam konteks terkini produksi rencong meningkat sementara tanduk kerbau mulai sulit didapat. Tantangannya akankah digantikan tanduk kerbau sebagai gagang rencong dari bahan baku lainnya. Keadaan ini menandakan adanya konektivitas suatu benda dengan melahirkan produk benda lainnya. Saatnya semua komponen bersinergi itulah kehidupan yang damai mulia. Wallahualam bi al shawwab.[]

Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK