Menyoal Pernyataan Mundur Bupati Pidie Bila jokowi Menang

Oleh Muhammad Zaldi*

Manusia tak luput dari dosa, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Karena itu kita harus bisa menjaga sikap, perbuatan dan fikiran, termasuk menjaga lisan. Konon lagi dalam posisi sebagai pemimpin resmi yang dipilih oleh rakyat. Sangat diharapkan agar sang pemimpin menjaga tindakan dan perbuatan agar tidak menimbulkan kegaduan dalam masyarakat. Konon lagi ketika perbuatan dan tindakan tersebut berlaku di Aceh, sebuah daerah yang baru saja keluar dari sejarah konflik, di mana kegaduhan dapat dipicu dengan mudah.

Negeri Pedir memiliki banyak kisah dan cerita, baik kisah tentang kerajaan dahulu maupun tentang pemerintahan saat ini. Saat ini Negeri Pedir sudah berganti nama menjadi Kabupaten Pidie namun mozaik politiknya tidak pernah sepi dari pembicaraan publik. Banyak tokoh-tokoh Aceh di tingkat nasional yang berasal dari tanah Pedir seperti Tgk Chik di Tiro, Tgk Daud Beureueh, Tgk Hasan Muhammad di Tiro dan beberapa nama lainnya. Tgk Chik di Tiro adalah tokoh revolusi pada era penjajahan Belanda, Lalu Tgk Daud Beureueh adalah tokoh revolusi sosial dan Tgk Hasan Tiro merupakan tokoh pengerak gerakan pembebasan Aceh.

Semua pemimpin Pidie memiliki keberanian dan kecerdasan intelektual, sehingga mereka mampu untuk membaca strategi lawan-lawan politiknya. Inilah alasan kenapa Pidie begitu berpengaruh dalam peta politik Aceh dari masa lalu hingga masa kini.

Namun citra prestasi tersebut sedikit tercoreng belakangan ini di tangan para pemimpin Pidie kontemporer. Adalah Abusyiek yang dalam masa kampanye presiden lalu mengeluarkan pernyataan yang tidak rasional dan cenderung sensasional. Bayangkan saja seorang bupati yang baru dua tahun menjabat dan belum melakukan gebrakan nyata terkait pembangunan di Pidie malah mengeluarkan statement “Jika Jokowi menang, saya akan mundur dari Bupati Pidie.” (Harian Rakyat Aceh, 07/04/2019). Kenapa ada statement politisi sekonyol ini?
Lalu setelah Mahkamah Konstitusi (MK) pda tanggal 27 Juni 2019 yang lalu menyatakan menolak seluruh laporan pemohon dan memenangkan pihak termohon, Abusyiek harus bagaimana? Apakah Abusyiek harus menunaikan janji yang pernah disampaikannya ke hadapan publik atau pura-pura lupa saja? Sangat memalukan memang. Miris, karena semestinya Abusyiek harus menjadi teladan dan konsisten, konon lagi dalam pilkada 2017 yang lalu ia mengusung gerakan “Pidie Meusigrak’ yang di dalamnya termaktub visi Pidie Mulia dan Meu Adab.

Rakyat Pidie perlu mempertanyakan konsistensi narasi yang beliau sampaikan agar tidak berimbas pada menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat akibat dari pernyataan yang asal-asalan. Diperburuk oleh fakta pemerintahan abusyiek minim prestasi. Konflik kepentingan yang terjadi pada masa kampanye lalu menjadi acuan bahwa lemahnya kinerja pemerintah dibawah kendali Abusyiek. Lalu muncul pertanyaan “Apakah Abusyiek adalah sosok yang tepat memimpin Pidie hingga 2022 mendatang?”

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjatuhkan Kepemimpinan Abusyiek, tetapi dengan tulus bertujuan untuk mengingatkan agar Abusyiek tidak bermain-main dalam bernarasi sebab beliau hari ini adalah orang nomor satu di Kabupaten penghasil emping meulinjoe tersebut.

Harapan penulis untuk Abusyiek dan semua stakeholder yang ada di Pidie untuk terus merangkul dan terus memberikan konstribusi-konstribusi nyata untuk menyukseskan Kinerja dari “Pidie Meusigrak.” Terlebih untuk rakyat Pidie agar lebih terbuka kepada pemerintah terkait aspirasi-aspirasi yang ingin disampaikan, walau bagaimanapun setiap orang yang ada di pemerintahan juga manusia biasa yang tak sempurna dan sepemikiran.

*)Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Email : Muhammadzaldi1001@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK