Wartawan Pasee Kecam Opini “Parasit Demokrasi”

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Lintas Organisasi Wartawan Pasee mengecam opini yang ditulis oleh dosen Unimal, Teuku Kemal Fasya, dengan judul “Parasit Demokrasi” yang terbit di salah satu media cetak lokal. Dalam tulisannya, Kemal Fasya yang menjabat Kepala UPT Kehumasan dan Eksternal Unimal dinilai telah melecehkan profesi dan harkat martabat jurnalis. Bahkan tulisan itu dinilai dapat dimasukkan dalam ranah tindak pidana.

“Terkait opini itu kita meminta Teuku Kemal Fasya segera meminta maaf kepada semua wartawan terkait opini yang ditulis di salah satu media lokal Aceh serta mendesak Rektor Dr. Herman Fithra mencopot jabatan Kemal Fasya dari Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh,” kata Koordinator Lintas Organisasi Wartawan, Rahmad Antara, saat konferensi pers di Sekber Jurnalis Pasee di Lhokseumawe, Jumat (5/7/2019).

Rahmad menjelaskan, adapun kalimat yang dinilai tidak pantas tersebut seperti, “Para parasit demokrasi ini sebenarnya sama seperti kuman atau virus zoonotik yang memengaruhi nilai-nilai personal dan publik, yang secara evolutif akan merusak psikologi manusia”. Dalam kalimat lain ia menulis, “… Hal ini harus saya lakukan, ketika wartawan bodrex lebih banyak berkerumun pada momen-momen seperti itu”. Kalimat lainnya, “Idealisme demokrasi fenomena seperti itu semakin sulit ditemukan di era disrupsi dan resesi seperti saat ini, ketika seluruh pekerjaan kerap bisa dikuantifikasi dengan uang”.

“Jadi kita ingin mempertanyakan, apa maksudnya dengan menulis opini itu, banyak wartawan, amplopnya diambil, berita tak pernah dituliskan,” kata Rahmad.

Rahmad mengatakan, tulisan itu sudah melecehkan harkat serta martabat wartawan Aceh, khususnya di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara.

“Tulisan opini itu telah melukai hati wartawan dan ini bukan persoalan sepele tapi masalah serius, jika dikatakan banyak wartawan maka tolong sebutkan siapa orangnya,” katanya.

Rahmad menambahkan setiap orang bebas memberi pendapat di muka umum baik secara lisan, tulisan serta media, karena itu semua sudah diatur dalam undang-undang. Namun, setiap ingin mengeluarkan pendapat, jadi harus dengan memperhatikan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan negara yang ditegaskan.

Lintas Organisasi Wartawan merupakan gabungan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Aceh (DPP-PWA), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Pewarta Foto Indonesia (PFI).

Sementara itu, Ketua AJI Lhokseumawe, Agustiar Ismail mengatakan, pihaknya sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat baik media sosial maupun media massa.

“Kita mengapresiasi Kemal Fasya yang telah berkarya melalui opini, karena beropini atau berpendapat merupakan hak asasi semua orang. Namun sangat menyesalkan sikap seorang Kemal Fasya yang kurang bijak dan notabenenya adalah seorang akademisi dan pengamatan yang selama ini menjadi sumber para wartawan,” kata Agustiar.

“Tulisan opini itu yang menyanjung seorang wartawan antiamplop, di lain sisi dia malah menitipkan amplop untuk wartawan tersevyt melalui seorang wartawan senior, ini sangat memalukan, konon lagi itu anggota AJI,” ujarnya.

Selain itu, Deni Andeva perwakilan IJTI mengatakan, persoalan beropini di media massa sangat dihargai, tapi harus lebih cerdas melihat persoalan sehingga tidak berbenturan dengan etika dan kehormatan orang lain.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK