Atasi Konflik Gajah-Manusia, Ini Solusi dari Wabup Pidie

Wabup Pidie saat bertakziah ke rumah Geuchik Gp Geunie di Tangse, Minggu (7/7/2019) @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Sigli – Geuchik Gampong Geunie, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Mustafa, mengadukan perihal warganya yang menjadi korban kawanan gajah liar di kebunnya sendiri pada Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud.

Warga tersebut kata Mustafa, bernama Tgk Thamrin (56) yang juga tuha peut gampong tersebut. Dua bulan lalu ia mengalami patah rusuk, giginya patah, dan pahanya tertusuk gading mamalia besar tersebut yang masuk ke kebunnya. Saat ini kondisi Tgk Thamrin sudah mulai membaik.

Begitu juga dengan sejumlah gubuk warga yang porak-poranda. Tanamannya juga ikut dimakan mamalia besar yang melintasi wilayah jelajahnya itu.

“Kalau menjelang magrib, kawanan gajah selalu datang bergerombolan turun ke desa, sehingga kami selalu waswas. Apalagi saat ini sudah mulai meresahkan warga,” ujar Mustafa kepada Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, yang bertakziah ke rumahnya pada Minggu (7/7/2019).

Mustafa mengaku, berdasarkan keterangan beberapa warga, konflik berawal pada akhir tahun 2018 lalu saat datangnya sekelompok gajah yang diperkirakan berjumlah 12 ekor. Kawanan gajah ini melintasi perkebunan warga melalui Buket Jeulatang desa setempat.

Sejumlah warga yang baru kembali pulang dari ladangnya terkejut dan berusaha mengusir kawanan gajah tersebut. Akhirnya, situasi tak terkendali, sehingga tanaman dan padi milik warga menjadi sasaran amukan gajah.

Sebelumnya terjadi juga konflik gajah dengan manusia di Gampong Keumala Dalam, Kabupaten Pidie.

Kawanan gajah liar yang masuk permukiman dan perkebunan warga masih terjadi. Peristiwa ini terjadi ketika ada kelompok gajah masuk ke pemukiman warga. 

Menganggapi hal itu, Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud menegaskan akan terus memantau dan berkoordinasi dengan BKSDA Aceh serta instansi terkait. Tujuannya untuk menimalisir terjadinya eskalasi konflik antara manusia dengan hewan mamalia bertubuh besar tersebut.

“Dari sejumlah kejadian, siapa yang harus diprioritaskan? Gajah liar yang harus digiring kembali ke hutan dan kemudian melakukan tindakan preventif untuk menghindari masuknya gajah kembali ke pemukiman warga,” ujar Fadhlullah TM Daud. 

Fadhlullah menjelaskan, keselamatan manusia dan juga perlindungan gajah sebagai satwa dilindungi dari ancaman kepunahan juga perlu diperhatikan. Baik manusia dan gajah sama pentingnya diselamatkan.

“Sekarang yang diperlukan dari kedua belah pihak adalah berbagi ruang. Manusia sebagai makhuk yang dianugerahi akal, hati, dan pikiran harus lebih bijak, karena gajah tidak mengenal batas wilayah administratif. Yang diketahui gajah hanya melintas, menjelajah, dan mencari makan. Artinya, untuk ke depannya kita harus membuat semacam barrier berupa pembangunan parit sedalam 3 meter di pinggiran bukit. Tujuannya untuk menghambat masuknya gajah ke pemukiman warga,” ujar Fadhlullah TM Daud.

Di sisi lain, orang nomor dua di Kabupaten Pidie ini mengatakan, contoh pembelajaran yang baik antara masyarakat dengan pemerintah dan pemerhati hutan di desa setempat. Hal ini dikarenakan sebagian warga yang tinggal sekitar kawasan diberikan pelatihan dan edukasi secara sadar menganggap kedatangan kelompok gajah ke permukiman atau kebun mereka sebagai hal biasa. Warga memberi ruang toleransi, karena sesungguhnya wilayah yang ditempati mereka sekarang adalah perlintasan gajah. 

“Beberapa desa di sekitar kita berikan pelatihan, khususnya yang tinggal dekat dengan area konflik gajah, justru sudah memiliki satuan tugas (satgas) penghalau gajah,” kata Fadhlullah.

Fadhlullah mengatakan, gajah merupakan satwa liar dilindungi. Gajah merupakan satwa pintar yang bisa memahami apa yang dimaksud manusia atau mahoutnya. 

“Gajah yang dilatih bisa menghalau gajah liar yang masuk ke areal kebun masyarakat yang tinggal di sekitar area jelajahnya. Ini sudah dilakukan di sejumlah wilayah lain di Provinsi Aceh maupun di wilayah lain Indonesia,” katanya.

Fadhlullah berharap perlu adanya peningkatan kualitas dan kapasitas habitat gajah di ex situ. Selain itu, perlu adanya pengetahuan, penyadartahuan, dan pendampingan masyarakat, serta pentingnya pelestarian gajah di habitat alaminya. 

“Hubungan yang tak dapat dipisahkan antara konservasi gajah sehingga membuat keduanya harus saling mendukung. Oleh karena itu, konflik antara manusia dengan gajah harus segera diselesaikan dengan sesegera mungkin. Untuk itu perlu kontribusi dan proaktif dari semua pihak,” tegas Fadhlullah TM Daud.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK