Ketika Pimpinan Pesantren Meminta Lebih

AI (kanan) dan MY (kiri) pimpinan dan guru di Pesantren AN di Kota Lhokseumawe. Keduanya diringkus polisi karena dilaporkan telah memaksa sejumlah santri melakukan oral seks. (Ist)

Muhajir Juli*

Taharap keu pageu, pageu pajoh pade. taharap keu jantong, jantong nyang thok hate.

Citra Aceh sebagai daerah yang menyelenggarakan Syariat Islam, lagi-lagi tercoreng. Seorang pimpinan pesantren yang menyelenggaran tahfidz Quran di Lhokseumawe, diringkus polisi karena dilaporkan (diduga) telah memaksa sekitar 15 orang santri –secara terpisah– melakukan oral seks. Bahkan dari beberapa sumber disebutkan, bukan sekedar oral seks, tapi juga ikut disodomi.

Baca: Di Lhokseumawe, Oknum Pimpinan Pesantren & Guru Ngaji Paksa Santri Oral Seks

Perbuatan terkutuk yang dilakukan sejak 2018, terkuak ketika seorang santri yang masih belia mengadu kepada orangtuanya. Ternyata, selain jumlah korban yang fantastis, sang pimpinan pesantren yang dikenal sebagai mubaligh ulung, tidak melakukannya sendirian. Seorang ustad muda di sana berinisial MY (26) diduga ikut-ikutan aksi serong sang pimpinan.

Perbuatan laknat yang dilakukan oleh AI bin N (45) bersama MY, mengingatkan saya kepada kejadian pencabulan yang dilakukan oleh seorang ustad di Lhoksukon yang mencabuli kakak beradik, Melati (10) dan Mawar (13). Pria itu berhasil ditangkap pada 7 November 2018 di kediamannya, setelah dua bocah perempuan itu buka suara kepada ibunya pada 2 November tahun yang sama.

Baca: Diduga Cabuli Dua Bocah, Seorang Ustad di Lhoksukon Ditangkap

Dari Aceh Tengah seorang santriwati berusia 15 tahun dicabuli oleh pemilik pesantren tempat sang belia menimba ilmu. Ustad berinisial AD
ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerkosaan terhadap santrinya sendiri, AS (15), Senin (25/2/2019).

TM (53),pimpinan salah satu dayah di Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, mengakui sudah menyetubuhi santriwati D (17) dua kali. Selain bersetubuh dengan santrinya, dia juga mengaku pengguna aktif ganja.

Baca: TM, Selain Cabuli Santri Juga Konsumsi Ganja
Saat diwawancarai wartawan aceHTrend Kamis, (29/09/2017) kemarin, TM mengaku bahwa ganja yang ditemukan petugas di rumahnya adalah miliknya.

“Benar, saya konsumsi ganja dalam dua tahun terakhir. Ganja yang ditemukan di rumah itu milik saya, untuk meningkatkan selera makan saja,” katanya di Mapolres Aceh Utara.

TM mulai melakukan tindakan asusila itu pada pertengahan Juli 2017, dan dia juga sangat menyesali perbuatanya itu bahkan menghimbau kepada pimpinan dayah lain agar tidak melakukan hal yang sama. Selain itu, dia juga mengaku akan melamar santriwati tersebut dalam waktu dekat jika pihak keluarga mau menerimanya untuk menikahi D.

***
kekerasan seksual baik berupa pemerkosaan maupun sodomi serta pelecehan seksual, bukanlah cerita baru di Aceh. Termasuk di institusi pendidikan agama. hanya saja, banyak yang memilih tidak melapor ke polisi karena berbagai alasan. Pembelaan-pembelaan buta kepada oknum teungku oleh masyarakat, kerap membuat para korban lebih memilih diam, ketimbang harus berurusan dengan masyarakat yang memiliki fanatisme tanpa ukuran.

Kita tentu saja sering mendengar kalimat pembelaan: Hana pu meunyo teungku adak geupubut jeuheut, geutuoh taubat. Itu kalimat yang memiliki kadar racun mematikan nalar. Mematikan logika sekaligus mematikan nilai keislaman. Kejahatan tidak pernah bisa dibandingkan dengan pengetahuan. Sedalam apapun pengetahuan seseorang tentang agama, ketika ia melakukan pelanggaran serius, ia tetaplah “bangsat” yang harus dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Apalagi ketika kejahatan yang dilakukan adalah sesuatu yang bukan saja merusak kehormatan orang lain, tapi juga menimbulkan kehancuran psikologi dan kehilangan harapan masa depan. Santri-santri yang diperkosa, santri-santri yang disodomi dan santri-santri yang mendapatkan pelecehan seksual, mereka akan mengalami trauma berkepanjangan. Mereka akan kehilangan harapan dan kepercayaan. Mengapa? Karena yang merusak mereka justru orang yang selama ini tangannya mereka cium. Orang yang telah merusak mereka, di luar gedung pesantren adalah para pemberi khutbah tentang kebaikan.

***

Aceh memang memiliki persoalan yang kompleks. wajar bila orang sekaliber Mahfud MD mengatakan Aceh garis keras. Ya, negeri ini adalah sebuah daerah yang sangat unik. Banyak penduduknya yang merasa paling pintar beragama, paling zuhud dan paling Islam di antara umat Islam di luar Aceh. Tapi nyatanya daerah ini meruakan kawasan yang paling mudah menemukan orang tidak jujur. Di sini fitnah begitu mudah menyebar. Jangankan yang awam, agamawan dan akademisi juga ikut-ikutan sebagai pelaku namimah, tanpa pernah merasa bersalah.

Dilansir oleh Faktual News, 25 Januari 2018, dirilis oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, mendaulat Aceh sebagai provinsi dengan tingkat kasus pelecehan seksual tertinggi di Indonesia. Korban tidak cuma perempuan. Menurut data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak, tahun 2015 mencatat 147 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Saya tidak terkejut. Selama ini di Aceh para pelaku pemerkosaan terhadap anak-anak di bawah umur, bukanlah orang asing. rata-rata adalah orang yang dekat dengan mereka. Seperti abang, paman, ayah, tetangga hingga guru ngaji. Tempat terjadinya pemerkosaan, pelecehan seksual atau sodomi yaitu di kebun, di tempat pendidikan, di dalam rumah, di dalam kamar. Tak sekalipun pemerkosaan terjadi di tempat wisata, di warung kopi, ataupun di lapangan olahraga.

***

Saya menyarankan ke depan, Pemerintah Aceh perlu membentuk sebuah lembaga kajian yang kemudian berwenang memberikan izin terhadap seseorang yang ingin mendirikan lembaga pendidikan agama.

Dalam bahasa yang lebih mudahnya, semua orang yang ingin mendirikan lembaga pendidikan agama, haruslah memiliki sertifikat Lulus Uji Kelayakan (LUK).

Ikhtiar ini perlu dilakukan dalam rangka menangkal praktek-praktek sesat: Ketika implementasi takzim dan berbakti kepada guru dibawa sampai ke urusan harus melayani guru di tempat tidur.

Bui nyang kab boh u, kameng keunong poh bak gateh. Na lhe droe teungku nyang peulaku pajoh murid lam keulumbu, man saboh Aceh teuh dithe paleh.

*)CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK