Menyaksikan Keakraban Fadhlullah Bersama Warga Tangse

Matahari mulai condong ke ufuk barat. Fortuner yang ditumpangi Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud terus menerobos jalanan Tangse – Meulaboh, Sabtu (6/7/2019). Rintik hujan dan gumpalan kabut masih terliat menyembul di balik gugus pegunungan Keumala menemani perjalanan kami. 

Ada cerita menarik dalam kunjungan kerja pria yang akrab disapa Bang Fadhlu ini. Mulai dari antusias pemuda dari lintas komunitas yang berkemping ria, cerita sedih dari warga Geunie yang lahannya dirusak kawanan gajah liar, hingga ibu-ibu yang tertawa lepas dan berswafoto ria bersama orang nomor dua di Kabupaten Pidie tersebut.

Kisah pertama berawal ketika Bang Fadhlu dalam perjalanan ke Tangse untuk meninjau dan sekaligus meramaikan dengan berkemping ria bersama pada Festival Krueng Tangse. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada 6-7 Juli di desa Krueng Meuriam, Kecamatan Tangse.

Selama perjalanan, kaca mobil sengaja biarkan terbuka sehingga bisa merasakan langsung kesejukan udara pegunungan.

“Sungguh luar biasa karunia Allah kepada warga di sini. Alamnya yang indah dan sungainya yang jernih,” ujar Bang Fadhlu.

Peulom meunyoe soal makanan lagee boh drien ngon keureulieng. Meunan cit dara Tangse yang ceudah rupa. (Apalagi soal kuliner seperti durian dan ikan keureulieng. Begitu juga soal dara Tangse yang cantik jelita),” seloroh Zulkifli yang disambut gelak tawa.

Droekeuh asai jak ngon droekeuh cit hana jioh ngon eumpeun takue (Kamu asalkan pergi tidak boleh jauh dengan makanan),” ucap Fadhlullah menimpali.

Soal makanan, Zulkifli alias Apadun memang tidak boleh diajak kompromi. Meski demikian, lelaki berperawakan kulit gelap, berbadan tambun, tapi enggan dipanggil buloe (rakus-red) ini merupakan sosok yang diperhitungkan orang nomor dua di Kabupaten Pidie tersebut. Jabatannya pun beragam, mulai dari pengemudi sekaligus merangkap sebagai petugas pengamanan tertutup.

Selang 15 menit kemudian, rombongan tiba di lokasi. Setiba di sana, Fadhlullah langsung disambut hangat oleh pemuda dan tokoh masyarakat setempat. Di lokasi, panitia sudah menyediakan tenda khusus baginya untuk bermalam dan sekaligus bercengkerama bersama warga.

Keesokan paginya, Minggu (7/7/2019), Fadhlullah secara resmi membuka Festival Krueng Tangse. Acara ini merupakan ajang mempromosikan keindahan alam Tangse. Ini dikarenakan sungai Tangse merupakan salah satu subjek utama bagi kehidupan masyarakat Tangse. 

Ia berharap, festival sungai harus menjadi agenda tahunan dan rutin dilaksanakan. Pasalnya, selain menggalakkan wisata air, juga memberikan edukasi untuk menjaga ekosistem hutan Tangse agar tetap lestari dan terjaga, sehingga bisa dinikmati oleh generasi masa depan.

“Melalui Festival Sungai Tangse inilah kita harapkan bisa mempromosikan keindahan alam Tangse dengan masyarakatnya yang ramah, sehingga kian menarik minat wisatawan kemari. Ini juga mendeskripsikan Tangse, Mane, dan Geumpang sebagai desa yang kental dengan budaya agraris dan ecotourism,” ujar Fadhlullah TM Daud.

Sekira pukul 12.30 WIB, telepon genggam miliknya tiba-tiba berdering. Ia mengangkatnya sambil menjauhi kerumunan massa. Terlihat mimik serius tatkala ia bercakap-cakap via teleponnya.

Kamoe meulakee izin dilee, na syedara geutanyoe di gampong Geunie pakat meurumpok. Meusigoe keuneuk jak bak takziah bak rumoh Pak Keuchik (kami mohon izin dulu, ada saudara kita di Desa Geunie ingin berjumpa. Sekalian hendak bertakziah ke rumah Pak Keuchik),” ujar Fadhlullah seraya berpamitan.

Selang 20 menit kemudian, Fadhlullah beserta rombongannya tiba di Desa Geunie, Kecamatan Tangse. Sepanjang lorong menuju rumah duka, ia disambut sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat. Keuchik Geunie, Mustafa mengadukan perihal warganya yang menjadi korban kawanan gajah liar di kebunnya sendiri.

Bukan hanya itu saja, peristiwa miris juga menimpa salah satu warga bernama Tgk Thamrin (56) yang juga tuha peut gampong. Dua bulan lalu ia mengalami patah rusuk, giginya patah, dan pahanya tertusuk gading mamalia besar tersebut yang masuk ke kebunnya. Saat ini kondisi Tgk Thamrin sudah mulai membaik. Begitu juga dengan sejumlah gubuk warga yang porak-poranda. Tanamannya juga ikut dimakan mamalia besar yang melintasi wilayah jelajahnya itu.

“Kalau menjelang magrib, kawanan gajah selalu datang bergerombolan turun ke desa, sehingga kami selalu waswas. Apalagi saat ini sudah mulai meresahkan warga,” ujar Mustafa kepada Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud.

Menanggapi hal itu, Fadhlullah menegaskan akan terus memantau dan berkoordinasi dengan BKSDA Aceh serta instansi terkait. Tujuannya untuk meminimalisir terjadinya eskalasi konflik antara manusia dengan hewan mamalia bertubuh besar tersebut.

“Dari sejumlah kejadian, siapa yang harus diprioritaskan? Gajah liar yang harus digiring kembali ke hutan dan kemudian melakukan tindakan preventif untuk menghindari masuknya gajah kembali ke pemukiman warga,” ujar Fadhlullah.

Fadhlullah menjelaskan, keselamatan manusia dan juga perlindungan gajah sebagai satwa dilindungi dari ancaman kepunahan juga perlu diperhatikan. Baik manusia dan gajah sama pentingnya diselamatkan.

“Sekarang yang diperlukan dari kedua belah pihak adalah berbagi ruang. Manusia sebagai makhuk yang dianugerahi akal, hati, dan pikiran harus lebih bijak, karena gajah tidak mengenal batas wilayah administratif. Yang diketahui gajah hanya melintas, menjelajah, dan mencari makan. Artinya, untuk ke depannya kita harus membuat semacam barrier berupa pembangunan parit sedalam 3 meter di pinggiran bukit. Tujuannya untuk menghambat masuknya gajah ke pemukiman warga,” ujarnya.

Usai itu bersilaturrahmi dengan keuchik Geunie, giliran ibu-ibu dan muda-mudi tiba-tiba mencegatnya tatkala berkunjung ke taman bunga di desa setempat. Kaum ibu-ibu tersebut lantas menyalaminya dan sekaligus memperkenalkan dirinya masing-masing. Mereka kemudian bergantian berswafoto ria bersama bang Fadhlu. Ia terlihat kewalahan, apalagi ketika beberapa pemuda yang terus bergantian juga minta foto bareng.

Mereka kemudian saling tersenyum melihat foto bersama Fadhlullah di telepon selulernya. Beberapa orang dari rombongan Wabup Pidie memperhatikan tingkah mereka. Ada yang kikuk dan malu-malu, ada juga yang dengan spontan berkata.

“Rupajih Pak Wakil Bupati geutanyoe reumeh cit watee tapakat foto,” seloroh salah satu ibu.

Mendengar itu tiba-tiba pengawalnya, Apadun ikutan nimbrung dan berujar “Ngon gobnyan mandum ureueng pakat foto. Pakon han neupakat ngon lon sigoe-goe,” seloroh Apadun yang disambut gelak tawa kaum ibu-ibu.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK