Gunakan Dana Desa, Pembuatan Kolam Ikan di Gampong Adan Abdya Dinilai Asal Jadi

aceHTrend/Masrian Mizani

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Pembuatan kolam ikan di Gampong Adan, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dinilai dibangun asal jadi. Kolam yang tidak diketahui jumlahnya tersebut pembuatannya jauh dari harapan masyarakat setempat.

Apalagi, letak kolam-kolam itu sangat dekat dengan aliran sungai Adan, ditambah lagi jarak tempuh menuju ke lokasi kolam lebih kurang 2 kilometer dari pemukiman warga.

Salah seorang warga Gampong Adan, Syarifuddin, kepada aceHTrend, Sabtu (13/7/2019) mengatakan, pembuatan puluhan kolam ikan tersebut dibuat dengan menggunakan Dana Desa tahun anggaran 2018. Dirinya mengaku, banyak masyarakat Gampong Adan tidak mengetahui jumlah kolam dan jumlah anggaran keseluruhan pembuatan kolam tersebut.

“Rencana pembuatan kolam ikan itu tidak dilakukanmusyawarah dengan masyarakat umum. Kolam-kolam itu pun kami tidak tahu untuk apa, anggarannya berapa, dan siapa-siapa pemiliknya. Anehnya lagi, pembuatan kolam itu tidak bisa dimanfaatkan, sebab sangat dekat dengan aliran sungai,” ujarnya.

Dulu, katanya, saat terjadinya banjir, kolam-kolam tersebut ikut tenggelam, sebab letak kolam-kolam itu hanya dibatasi oleh tumpukan batu pasir di pinggirannya. Parahnya lagi, kata Syarifuddin, bila musim kemarau, kolam-kolam itu hanya digenangi sedikit air, apalagi di sekeliling kolam sudah dipenuhi semak belukar.

Menurut informasi yang diperolehnya, sejumlah kolam tersebut ada yang dibangun di atas tanah milik geuchik gampong setempat. Pembuatan kolam di atas tanah pribadi geuchik itu pun tidak dilakukan musyawarah dengan masyarakat gampong, sehingga masyarakat sendiri tidak mengetahui bagaimana status kolam tersebut.

“Ada beberapa kolam dibangun di atas tanah milik pak geuchik. Jadi kami sebagai masyarakat kan bingung bagaimana status kolam dan tanah itu, apakah tanah itu sudah dijual ke gampong, sebab pembuatan kolam itu menggunakan uang desa,” papar Syarifuddin yang turut diiyakan oleh sejumlah warga lainnya.

Parahnya lagi, sambung Syarifuddin, informasi yang berkembang di kalangan masyarakat Gampong Adan, bahwa sejumlah kolam tersebut juga dipergunakan untuk sejumlah perangkat desa.

“Kami menilai dalam pembuatan kolam ini tidak ada transparansi antara perangkat desa dengan masyarakat. Apalagi pembuatan kolam-kolam itu tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Maka kami meminta penegak hukum agar turun langsung ke Gampong Adan untuk melakukan pengecekan pembuatan kolam-kolam ini, sehingga masyarakat mendapatkan keadilan,” pinta Syarifuddin.

Secara terpisah, Geuchik Gampong Adan, Waidi, saat dikonfirmasi aceHTrend lewat telepon seluler mengaku dirinya tidak mengetahui jumlah keseluruhan pembuatan kolam-kolam tersebut. Padahal, kolam-kolam itu merupakan tanggung jawab dirinya sebagai orang nomor wahid di gampong tersebut.

“Gimana ya, itu pembuatan kolamnya banyak, jadi enggak bisa saya ingat jumlah keseluruhannya, karena kurang hafal juga saya jumlahnya,” ujar Waidi.

Selain itu, Waidi juga tidak mengingat terkait jumlah anggaran dana desa yang digelontorkan untuk pembuatan kolam-kolam tersebut.

“Pembuatan kolam-kolam itu menggunakan Dana Desa Tahap II dan III tahun 2018, dan aggarannya tidak sekaligus, sehingga penarikannya juga berbeda-beda. Untuk jumlah anggarannya saya lupa, yang pastinya ratusan juta,” jelasnya.

Terkait wacana pembuatan kolam-kolam tersebut, Waidi membantah kalau tidak melakukan musyawarah, sebab program itu tertuang dalam musrembang gampong.

“Kita ada musyawarah, buktinya ada juga masyarakat yang tau pembuatan kolam tersebut. Ya namanya juga di gampong, karena waktu kita tawarkan kolam tersebut banyak yang bilang buat apa itu kegiatan mubazir, bahkan kami tawarkan lagi, bagi masyarakat yang ada tanah dan bisa akses alat berat (beko) dan ada sumber air diajukan terus sebelum ditetapkan anggaran. Bagi berminat langsung mereka mengajukan tempat tersebut, bagi yang tidak ada minat, kan tau sendiri gimana,” katanya.

Saat ditanyai terkait kepemilikan kolam-kolam tersebut, dirinya mengakui bahwa ada kolam-kolam tersebut yang dimiliki oleh perangkat desa. Selain itu, ia juga membenarkan jika ada kolam yang dibuat di atas tanah milik pribadinya.

“Benar ada kolam dibuat di atas tanah saya. Tanah itu masih milik saya, kalau kolam itu sepanjang masyarakat mampu manfaatkan memanfaatkan kolam tersebut, saya juga siap membuat surat, yang penting masyarakat bekerja,” pungkasnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK