Kala PNA Memutar Haluan, Adakah Karena Arah Angin?

Tengah malam, kala jarum jam menuju 02 dinihari, Muhammad, pengurus teras Partai Nanggroe Aceh (PNA) tiba-tiba mengirimkan pesan ke WhatsApps CEO aceHTrend. Ia mengomentari perihal bergabungnya partai orange itu ke Koalisi Aceh Bermartabat.

//Koalisi Aceh Bermartabat itu sebenarnya hal normatif yg terjadi dlm dinamika politik parlemen//

Demikian lelaki yang akrab disapa MTA, memecah kesunyian malam buta, Sabtu (13/7/2019). Ini pesan pendek pertama yang dikirim aktivis politik asal Pidie itu, setelah kontestasi Pilpres 2019.

MTA tidak sedang salah alamat. Bekas komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh itu, pastinya sudah membaca editorial aceHTrend, tentang KAB dan arah politik PNA. Akankah KAB menjadi oposisi, ataukah sekedar membangun bergaining untuk mendapatkan posisi?

Pemerintah Aceh saat ini sedang bekerja keras–andaikan itu benar– mewujudkan Aceh Hebat yang dicanangkan sebagai jualan politik paslon Irwandi-Nova. Dengan konsep tersebut, andaikan dilaksanakan sesuai cita-cita awal tentu akan membawa hasil positif untuk Aceh di masa mendatang. Pembangunan selalu menghasilkan dua hal, hasil cepat dan hasil yang didapatkan kemudian. Konsep Aceh Hebat memiliki kedua hasil itu.

Untuk mencapai cita-cita itu, Pemerintah Aceh tentu membutuhkan kelompok oposisi kritis yang selalu hadir sebagai wacthdog, yang selalu “menyalak” bila pemerintah sudah tidak lagi on the track. Dalam demokrasi, keberadaan oposisi kritis adalah keniscayaan. Bukan sebatas pelengkap syarat berdemokrasi, tapi syarat utama agar kekuasaan tidak menjadi ajang bagi-bagi jatah reman para pemegang ujung pena kewenangan.

Tapi, mungkinkah, KAB menjadi seperti itu? Apalagi beberapa di dalamnya adalah partai pengusung Irwandi-Nova. Apalagi PNA, apakah akan menjadi oposisi terhadap kekuasaan yang diraihnya secara susah payah? Kalau iya, tentu ada masalah di dalamnya.

MTA memberikan paradigma politik –praktis– sebagai jalan yang menurutnya paling adil untuk melihat persoalan. Terbentuknya KAB Jilid II tidak bisa dipahami oleh pengamat yang tidak memiliki kapasitas tapi memaksa bicara politik.

Menurut MTA, akibat dari tafsir keliru–andaikan itu sebuah kekeliruan– publik tergiring pada kesalahan memahami tujuan dan fungsi koalisi parlemen.

//Jadi publik tergiring opini seakan-akan koalisi parlemen itu oposisi atau berpihak kepada pemerintah. Padahal itu tidak punya relevansi apa-apa.
Lebih parah ada pihak yg menyatakan seakan-akan PNA gabung ke KAB dikatakan keluar koalisi aceh hebat. Haha… ini pernyataaan yabg paling lucu//
tulis tokoh yang punya peran besar kala wacana referendum digaungkab mahasiswa Aceh sebelum damai maujud di Serambi Mekkah.

MTA menegaskan bahwa bergabungnya PNA ke dalam KAB Jilid II adalah dinamika politik pasca pileg dan pilkada. Ini soal strategi membangun jejaring di Parlemen Aceh.

Sebagai partai politik, PNA sama seperti dengan parpol lainnya yaitu berorientasi kepada dominasi politik di DPRA. Sehingga bergabung ke dalam koalisi merupakan bagian dari kerja-kerja politik, hasil dari negosiasi yang dilakukan.

Perihal haruskah PNA menjadi oposisi, menurut MTA itu sesuatu yang tidak penting. “Untuk apa menjadi oposisi?” ujarnya.

Perihal disinyalir sebagai bentuk memperkuat posisi mendapatkan kursi Wakil Gubernur Aceh, MTA mengatakan, dugaan demikian sesuatu yang lucu dan di luar konteks. Posisi Wagub Aceh masih terlalu dini dibicarakan. Juga tidak ada sangkut pautnya dengan koalisi. Karena soal jabatan yang kelak akan kosong itu (bila Irwandi dinyatakan berhalangan tetap) merupakan wilayahnya partai pengusung.

MTA memastikan bergabungnya PNA ke KAB Jilis II bukan sesuatu yang perlu dibahas terlalu mendalam. Hanya dinamika demokrasi. PNA tetaplah PNA, seperti ikan di laut, sedalam apapun berenang, tetaplah ikan yang mampu mempertahankan rasa dan warnanya.

Kami menyudahi diskusi online itu pada pukul 03.02 WIB. MTA menutupnya dengan kalimat la’ibon walahwon untuk sesuatu yang kami bicarakan sepintas, di luar perihal PNA.

Saya lupa apakah sempat mengajaknya ngopi? Entahlah. Saya pun sudah tidak berminat menscroll percakapan itu. Nun di ujung lorong, ayam-ayam kampung jantan mulai berkokok sesekali. []

KOMENTAR FACEBOOK