Obituari: Abu Hamid Teupin Manee, Sang Pencerah yang Sederhana

Usai kumandang azan Magrib, Jumat (12/7/2019) sang ulama sepuh itu pun berpulang. Kembali ke hadirat Ilahi dengan seluruh kisah kesederhanaan hidupnya di tengah gemerlap dunia.

Teungku Abdul Hamid Rasyid, adalah ulama senior Aceh yang sepanjang hidupnya jauh dari hingar-bingar dunia. Lelaki kelahiran Seuleumbah, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, merupakan ulama sepuh di Aceh yang tidak pernah mendirikan dayah. Ia mengajar Islam kepada umat melalui balai pengajian yang dibangun di halaman rumahnya. Diberi nama Darul Ulum. Bila diterjemahkan bermakna gudang ilmu.

Sejak menikah, bekas anggota DPRK Aceh Utara Fraksi PPP itu menetap di Teupin Manee. Di dekat sungai, beliau membangun rumah panggung. Di sana pula awalnya sang ulama membina balai pengajian. Karena pembangunan Bendungan Pante Lhong II ( Bendungan Peusangan) di penghujung 80-an, beliau pindah ke belakang Mesjid Baitul Huda, Gampong Beunyot, Juli. Kebun dan rumah beliau di Teupin Manee ikut menjadi bagian kawasan proyek yang dikerjakan oleh BUMN PP.

Abu Hamid merupakan ulama Aceh yang berpikiran terbuka dan modern. Dari delapan anaknya, empat di antaranya sarjana. Salah satunya adalah Dr. Marwan, M.Pd., Rektor Universitas Kebangsaan Islam (Uniki) Bireuen. Si bungsu Khairunnas alumnus Bahasa Inggris Universitas Serambi Mekkah. Satu-satunya putra beliau yang mondok lama kepada teungku lain hanyalah Teungku Nawawi, yang kini mengasuh pengajian mingguan di Mesjid Baitul Huda, Juli.

Abu Hamid dikenal mandiri. Ketika konflik melanda Aceh sekitar tahun 2000-2005, beliau masih aktif berkebun di siang hari dan mengasuh pengajian di malam hari. Dengan sepeda onthel gaek, setiap hari sang ulama ke kebun untuk menyiangi rumput dan mengelola tanaman. Kemauannya untuk hidup “tanpa subsidi”, membuat siapapun tidak bisa “mengurung” sang guru dalam balutan surban dan baju gamis.

Setiap pulang dari kebun, beliau sering singgah di warung kopi. Duduk di bagian teras, menyeruput kopi sembari bercengkerama dengan kawula ragam usia. Tak pernah menengok ke dalam warung, walau televisi sedang menyiarkan berita konflik Aceh.

Abu Abdul Hamid Rasyid Teupin Manee. (Ist)

Usai menyeruput kopi, beliau pamit setelah membayar. Jarang menerima dibayarkan oleh jelata dan sering pula mentraktir warga yang duduk semeja dengannya.

Sepanjang hidupnya, beliau sering memakai baju kemeja lengan panjang, kopiah hitam (juga terkadang kopiah bulat) dan kain sarung. Khas kyai kampung. Dulu, sekitar tahun 1990-an, ketika turun ke kota baik dalam kepentingan belajar bersama kolega maupun hajatan lain, beliau ikut memakai jas dan celana panjang.

Selalu hadir ke berbagai majelis ilmu, seunujoh, pesta perkawinan, sampai tahlil dan samadiyah, Abu datang dengan segala kesederhanaan. Bilapun dipaksa jemput, cukuplah dengan sepeda motor.

Kala masih sehat, tak ada protokoler yang harus dilalui ketika hendak berjumpa Abu Hamid. Beliau senantiasa mudah dijumpai oleh siapapun untuk keperluan apapun. Mulai dari sekedar diskusi ringan, hingga meluruskan masalah agama yang terjadi di tengah masyarakat. Abu Hamid adalah salah satu ahli ilmu faraid.

Walau hidup mandiri, Abu Hamid adalah ulama yang menaruh hormat kepada pemerintah. Tak sekalipun dia mencaci maki pemimpin. Ia bahkan selalu mengingatkan siapa saja untuk tidak menghina pemerintah yang sah.

Di usia yang ke 100, sang ulama dipanggil pulang ke hadirat Ilahi. Usai kumandang azan Magrib, allahyarham menghembuskan nafas terakhir di kediaman putrinya di Gampong Abeuk Budi, Juli, Bireuen. Selamat jalan wahai guru, engkau mulia dengan segenap kiprahmu selama di dunia. []

KOMENTAR FACEBOOK