Surga Dunia

Di sudut desa itu, dalam perjalanan pulang ke huma, dua sosok pemuda, Amal dan Hilmi serius tengah memperbincangkan substansi pengajian yang baru usai mereka ikuti. Pengajian malam itu ditutup oleh Ustaz Rasyid dengan kalimat, “Dunia ini pun dijadikan surga sebelum surga yang sebenarnya.”

Perbincangan jemaah di sela-sela pengajian kali ini terkait dengan “surga dunia”. Adakah surga di dunia? Kenapa tidak, bukankah mereka yang mengakhiri masa lajangnya mendambakan “surga dunia”. Benar, malam pertama pengantin baru dalam kultur sosial adalah sebagai “surga dunia”.

Dalam pengajian itu tidak disebutkan sama sekali surga dunia dalam konteks bulan madu. Surga dunia yang dikupas adalah dalam konteks kebaikan.

Bukankah dalam doa yang masif diketahui setiap muslim kita berucap, “Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan anugerahkan juga kepada kami kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Ustaz Rasyid menguraikan surga dunia itu adalah kebaikan seperti halnya kita minta kepada Allah kebaikan hidup di dunia itulah esensi dari surga dunia. Untuk apa material yang mengitari kehidupan ini jika tidak disertai dengan kebaikan ataupun rezeki yang melimpah tanpa disertai oleh berkah dalam anugerah itu.

Segala bentuk kenikmatan kebahagiaan itulah kebaikan duniawi yang sejatinya diburu oleh setiap insan yang memiliki cita ketakwaan terhadap Allah Swt. Kebaikan beraktivitas itu penting sepanjang hayat duniawi karena itulah bekal untuk seseorang memperoleh kebaikan akhirat. Bedanya kebaikan duniawi ini sifatnya fana dan sementara sementara kebaikan (baca: surga) di akhirat sifatnya kekal abadi.

Kebaikan abadi hanya dapat diraih oleh seseorang di saat mengisi kehidupan duniawinya dipenuhi oleh kebaikan duniawi. Obsesi ketakwaan dan keberimanan seseorang tentu saja dibungkus oleh bagaimana ia menyikapi kehidupan yang dilaluinya dalam rida-Nya.

“Gunakan semua potensi dan peluang yang ada untuk mengisi kehidupan ini dengan kebaikan,” sela Hilmi.

“Bagaimana kita meraih kebaikan di saat kita gagal mengelola hati agar penuh keikhlasan. Bukan begitu kita tidak boleh putus asa, sempurnakan kehidupan itu dengan aktivitas sarat kebaikan, di sana ada ketenteraman dan kebahagiaan itulah surga dunia, ya surga duniawi. Sampai besok ya sahabat,” Amal memutus perbincangan karena telah tiba di lorong menuju rumahnya.

Berlomba untuk kebaikan

Diskusi tersebut membangun spirit bahwa dalam kehidupan ini diisi dengan perlombaan untuk kebaikan adalah sebuah keniscayaan.

Niat beramal mengisi kehidupan dengan kebaikan adalah anugerah tiada tara. Setiap orang dapat merasakan spirit sebuah kebaikan yang terpatri dalam bingkai kehidupannya.

Sampaikan spirit baru untuk sebuah kebaikan dan hentikanlah ujaran dan ikatan komunikasi yang dapat menjauhkan diri dari sebuah kebaikan. Entitas apapun yang dilakoni setiap yang mengasah nilai imaniah dalam dirinya obsesi kebaikan adalah pilihan yang menentukan. Mengerjakan kebaikan itu buka sebatas sikap yang ditunjukkan tetapi itu adalah cerminan karakter pribadi yang telah diisi oleh a ugwtab ilahiyah bahwa hidupnya berada dalam berkah-Nya.

Berlomba mengerjakan kebaikan cerminan sikap warga yang berperadaban. Setiap aktivitas yang di dalamnya disertai keikhlasan untuk mencari sebuah kebaikan itulah surga dunia. Raihlah kesempatan mengisi kehidupan dengan kebaikan surga duniawi sebelum meraih surga ukhrawi. Wallahualam bi al-shawaab.[]

*)Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK