Kolom: Ceruk

Jokowi dan Prabowo di dalam MRT. (Ist)

Oleh Bung Alkaf

Menjelang pilpres, penceramah kondang, Ustad Abdul Somad memberi dukungan kepada Prabowo. Ketika UAS dengan syahdu memberi pesan politiknya, yang sampai membuat Prabowo menitikkan air mata, publik Indonesia gempar. Saya, ketika melihat peristiwa itu, paham, bahwa dukungan UAS itu, tidak akan berdampak serius secara elektoral. Kecuali pada satu hal, memberikan dukungan moral kepada pendukung Prabowo.

Mengapa tidak berpengaruh? Jawabannya sederhana, karena yang menyimak ceramah UAS adalah pendukung Prabowo juga. Kalau kata Denny JA, dalam satu ceramahnya pasca mengumumkan hasil quick count pilpres, “dukungan UAS itu, too little dan too late.

Kita, lalu, menyebut kecendrungan politik demikian sebagai ceruk.

Ceruk, selama Pemilu tahun 2019, terutama Pilpres, adalah kata yang paling sering diperdengarkan. Kata itu memberi penjelasan tentang sejauh mana sebuah wilayah, pandangan politik, etnisitas, orientasi keagamaan dan ingatan sosial mengarahkan dukungannya.

Celakanyanya, ceruk yang cenderung awet dewasa ini, bukan karena kuatnya basis ideologi sebuah partai atau adanya kepemimpinan yang kharismatik, melainkan ada pada setiap individu. Individu berkuasa atas pilihan sekaligus wacana politik. Jadi, setiap pilihan dalam proses elektoral kini, tidak lagi berada dalam kontrol kekuasaan elit yang bersifat patron client. Hal tersebut dimungkinkan karena akses informasi yang deras. Situasi demikian merupakan salah satu indikator utama, betapa berdaulatnya pemilih – terlepas informasi apa yang dikunyah akhir-akhir ini.

Individu kini dapat menukar dan lepas sambut sosok yang diinginkannya. Individu yang berkerumun dan bersosialisasi itu kemudian dapat menjadi pemutus. Bukan sebaliknya.

Ada dua cerita soal itu. Cerita tentang relasi sosial yang berubah.

Pertama, tentang pengalaman antropolog James Siegel. Saya beruntung mendapatkan cerita penting ini dari cendekiawan Aceh di IAIN Langsa. Dia mendengar langsung dari orang yang hidup di masa Siegel mengerjakan penelitian etnogafinya itu. Saat Siegel masuk ke Aceh, terutama di Pidie, Daud Beureuh masih hidup. Beureuh memberi sebuah penegasan bahwa Siegel tidak boleh diganggu. Dia harus nyaman selama melakukan penelitiannya. “Sebab dia mau belajar dengan kita,“ kata Beureuh. Bereueh khawatir bahwa masyarakat setempat akan mengancam hidup Siegel, karena ingatan sosial orang Aceh tentang orang barat, adalah tentang Perang Kolonial. Siegel memang tidak hanya selamat jiwa dan raganya, bahkan dia menghasilkan karya, The Rope of God yang sampai kini terus dibicarakan.

Cerita kedua, mengenai Yusuf Mansur. Pendakwah yang sangat populer pada bisnisnya dan gerakan menghafal Quran. Segenap puji-pujian diberikan untuknya oleh “umat.” Oleh umat, yang memiliki kekuasaan, dibangun sebuah wacana bahwa dia adalah panutan. Harus diteladani. Tetapi, ketika Yusuf memberi dukungan politik kepada Jokowi, maka “umat” pun meninggalkannya. Yusuf menjadi terpidana.

Kini, hari-hari panjang, yang dialami Yusuf Mansur, sepertinya akan menimpa Prabowo – dan juga Gerindra.

Pertemuannya dengan Jokowi, dianggap telah melukai para pendukungnya. Sumpah serapah, kecaman dan ratapan gegar di jagat maya. Prabowo terhukum. Dia didakwa telah meninggalkan barisan.

Di saat yang sama, pendukung Jokowi misalnya – atau yang selama ini gerah dengan hiruk pikuk politik, atau mereka yang menunggu di persimpangan; bersorak sorai kegirangan. Pertemuan itu diangggap sebagai akhir dari sengketa tiada putus yang kita tonton dari panggung politik kita.

Padahal, dari pertemuan dua kubu yang berseteru itu, menunjukkan bahwa dalam sistem politik kita, pemilih pada akhirnya harus melepas kekuasaannya setelah pilihan dijatuhkan. Angka sekian persen pemilih Prabowo, tidaklah cukup kuat untuk menyetir arah politik yang dikehendaki pemilih. Betapapun sumpah serapah dan amarah yang menggelegak timbul setelahnya. Bahkan, lebih jauh, politik kita di atas segalanya ternyata sekumpulan negoisasi dan kompensasi.

Akan tetapi yang harus diingat, pemilu kita yang lalui penuh dengan konflik dan ketegangan ini, telah menghasilkan pembelahan yang serius di tengah masyarakat kita. Pembelahan yang tidak selesai dengan pelukan di MRT itu.

KOMENTAR FACEBOOK