Wildan & Gagasan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Sulaiman Abda (kiri) dan Wildan (kanan). DPRA mendukung penuh pembangunan gedung baru Pustaka Aceh. (aceHTrend/Muhajir Juli)

ACEHTREND.COM, Banda Aceh-Sebuah gedung lima tingkat–termasuk lantai dasar– berdiri gagah di tepi jalan kawasan Lamnyong, Banda Aceh. Bangunan tersebut merupakan Pustaka Aceh yang kelak akan dijadikan sebagai pusat kegiatan semua komunitas.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Aceh Dr. Wildan, M.Pd., Sabtu (13/7/2019) kepada aceHTrend mengatakan selama ini perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi buku. Hanya dikunjungi oleh mahasiswa dan pihak-pihak yang membutuhkan data dan referensi terkait dengan tulis menulis.

Ke depan, fungsi pustaka, khusus Pustaka Propinsi Aceh, tidaklah sebatas tempat yang demikian. Tapi akan menjadi pusat pemberdayaan ekonomi melalui pendekatan inklusi sosial.

Hal ini disampaikan oleh Wildan ketika ikut mendampingi kunjungan anggota Pansus I DPRA Drs. Sulaiman Abda, M.Si., yang meninjau perkembangan pembangunan Perpustakaan Aceh.

Wildan menerangkan, program perpustakaan berbasis inklusi sosial, bahwa perpustakaan menjadi pusat studi yang bisa diakses oleh semua kalangan untuk semua kebutuhan.

“Misal, ketika seseorang ingin membuka usaha tempe goreng, maka dia akan ke pustaka. Di sana oleh pustakawan akan diarahkan sang calon usahawan untuk membaca buku tentang teknik membuka usaha, cara mengemas produk dan lainnya. Pustakawan bukan sekedar menunjukkan buku, tapi juga melayani diskusi dan sebagainya. Sehingga pustaka tidak lagi menjadi tempat sepi. Tapi berubah menjadi tempat konsultasi bisnis dan sebagainya,” ujar Wildan.

Menurut Wildan, konsep pustaka berbasis inklusi sosial merupakan program Pemerintah Aceh dalam rangka mewujudkan Aceh Carong. Sebagai kepala dinas, ia memfasilitasi terwujudnya harapan tersebut dalam bentuk program tersebut.

Ia menjelaskan, konsep pustaka berbasis inklusi sosial adalah mengantarkan bacaan kepada masyarakat. Bentuknya beragam. Mulai dari menyiapkan pustakawan yang aktif di perpustakaan, juga menyediakan pustaka keliling serta juga menyiapkan ipustakaaceh. Berupa buku berformat PDF yang eyecatching dan nyaman ketika dibaca.

“Jadi nanti, di perpustakaan akan disediakan pustakawan aktif. Pustakawan yang menjadi teman ngobrol tentang tema yang sedang dibutuhkan referensinya oleh pengunjung. Pustkawan akan membantu mencarikan buku yang dibutuhkan oleh pengunjung. Juga memberikan rekomendasi judul buku yang cocok dibaca oleh pengunjung yang mencari tema tertentu,” ujar Wildan.

Pustaka Nyaman dan Friendly

Dalam rancangan yang sudah disusun, gedung Pustaka Aceh yang sedang dibangun, nantinya akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung yang mewah dan friendly.

Dalam rancang bangunnya, gedung tersebut dibuat untuk memenuhi rasa entertaint, nyaman dipandang, nyaman disinggahi serta nyaman untuk berlama-lama. Serta layak dikunjungi oleh semua kalangan.

Untuk itu di Pustaka Aceh akan disediakan kantin kejujuran, ruang diskusi, sofa yang nyaman, teater, tempat latihan menari, ruang eskpresi baca puisi dan fasilitas lainnya.

“Aceh Carong akan kita mulai dari sini. Gedung Perpustakaan Aceh akan menjadi tempat bagi kita semua untuk memulai gagasan, merencanakan gagasan, belajar merencanakan program bisnis dan sebagainya,” kata Wildan.

Pada kesempatan yang sama, Sulaiman Abda mengatakan DPRA mendukung penuh pembangunan Pustaka Aceh. Karena perpustakaan yang representatif, menurutnya, merupakan bentuk koitmen Pemerintah Aceh melaksanakan cita-cita yang telah dirumuskan.

“Kunjungan hari ini merupakan bentuk dukungan. Inyaallah, tahun 20120 bangunan ini sudah selesai dan bisa dipergunakan untuk mewujudkan semua cita-cita Pemerintah Aceh yang disampaikan oleh Pak Wildan,” ujar Sulaiman Abda.

KOMENTAR FACEBOOK