Berpeluang Pimpin PDIP Aceh, Sofyan Dawod Akui Suka Tantangan

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Konferensi Daerah (Konferda) PDIP Aceh yang akan digelar pada Juli 2019, memunculkan sejumlah nama sebagai calon pengganti Karimun Usman yang kini menduduki kursi Ketua DPD I Aceh. Salah satu nama yang sering disebut adalah Sofyan Dawod, bekas petinggi miiter TNA–sayap militer GAM, yang juga Ketua KAJAK Aceh 2019.

Nama Sofyan Dawod bukan hanya dibicarakan oleh internal, tapi juga diperbincangkan di luar partai, sebagai salah satu kandidat yang dinilai layak. Banyak faktor yang membuat nama Sofyan Dawod masuk radar DPP PDIP di Jakarta. Selain sudah terbukti sebagai pendukung Jokowi sejak 2014, Sofyan juga dinilai memiliki pergaulan yang luwes dan diterima oleh banyak kalangan.

Ketika ditemui oleh aceHTrend, Senin (15/7/2019) di salah satu warkop di Ilie, Ule Kareng, Banda Aceh, Sofyan Dawod mengatakan bahwa bila dipercaya sebagai ketua DPD I PDIP Aceh, dia siap menerima mandat tersebut.

Sofyan paham bila di Aceh PDIP telah menjadi “pesakitan” politik akibat banyaknya tuduhan yang dialamatkan kepada partai yang dibesut oleh mayoritas anak ideologinya Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berhaluan marhaen.

PDIP di Aceh dituduh sebagai partai anti Islam, anti ulama, tidak pro terhadap perdamaian, serta penyebab terjadinya Darurat Militer di Aceh.

Citra negatif tersebut, menurut Sofyan karena ketidaktahuan publik tentang PDIP yang sesungguhnya. Sebagai partai besar dan kini sebagai terbesar di Indonesia, pemilih PDIP 90 persen adalah muslim. Mayoritas anggota partainya juga muslim.

“Seperti partai lainnya yang berhaluan nasional, PDIP tunduk kepada UUD 1945 dan Pancasila. Sama juga dengan partai yang mencitrakan dirinya berbasis agama (Islam) semuanya mempunyai dasar ideologi yaitu Pancasila. Demikian juga dengan partai lokal,” terang Sofyan Dawod.

Sebagai sosok yang bukan kader, andaikan nantinya dipercaya sebagai nahkoda PDIP Aceh, Sofyan Dawod akan melakukan sejumlah gebrakan politik untuk merangkul semua pihak serta merebranding PDIP di Aceh yang selama ini berhasil difitnah oleh kompetitor.

“Saya suka tantangan. Saya tipikal pribadi yang dinamis dan memiliki energi untuk menjawab tantangan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Sofyan mengatakan, sebagai orang Aceh ia memiliki tanggungjawab besar untuk mendukung Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf yang pada periode sebelumnya Jokowi-JK sudah membuktikan sekuat tenaga membangun Aceh. Proyek-proyek infrastruktur besar yang dibangun merupakan modal bagi Aceh untuk bangkit dan memajukan diri.

“Pak Jokowi membangun apa yang dibutuhkan oleh Aceh. Bukan apa yang diinginkan oleh segelintir orang. Apa yang sudah dibangun tentu belum cukup. Saya dan kita semua punya tanggungjawab untuk membantu pemerintah mewujudkan cita-cita besar membangun Indonesia dari pinggir. Aceh yang dulunya dikesampingkan kini mendapat prioritas. Ini harus kita syukuri,” katanya.

Sebagai partai pendukung pemerintah, PDIP memiliki pengaruh besar dalam terwujudnya berbagai pembangunan besar di Aceh. “PDIP partai pengusung Presiden Jokowi. Presiden kadernya PDIP. Misi membangun Indonesiajuga misinya PDIP. Misinya Pak Jokowi adalah misi seorang presiden dan partai pengusung,” kata Sofyan.

Lalu, apakah nama Sofan Dawod satu-satunya non kader yang masuk radar DPP PDIP? Dari desas-desus, ada beberapa nama lainnya. Tapi sepertinya Sofyan Dawod masuk dalam tiga besar yang sedang ditimang-timang oleh DPP. KOnferda PDIP Aceh akan menjawab itu. Tunggu saja.

KOMENTAR FACEBOOK