I am a Professional Film Director; Kisah Alumni Kompetisi Film Dokumenter Aceh Documentary

Astina Ria

Oleh Astina Ria*

Aceh Documentary adalah dunia baru bagi saya. Seperti tidak mungkin untuk saya yang tidak punya kemampuan di bidang perfilman untuk bisa membuat film. Film yang berhasil meraih beberapa penghargaan di tingkat nasional. Sejak menempuh pendidikan di Banda Aceh, saya memang suka bergabung dengan beragam komunitas. Tapi untuk bergabung di Aceh Documentary seperti mimpi dalam lamunan, yang tidak mungkin bisa terwujud dengan mudah.

Tahun 2016, saya diajak oleh sejawat dari komunitas kepenulisan, Maulidar.  Awalnya, ajakan itu sebatas membantunya dalam membuat ide cerita untuk dikirim ke Aceh Documentary Competition 2016. Kebetulan saat itu Yayasan Aceh Documentary sedang menyelenggarakan kompetisi film dokumenter. Langkah awalnya adalah mengirim ide cerita. Tanpa disadari, ide cerita kami lolos ke tahap berikutnya. Menemukan ide cerita termasuk langkah yang lumayan sulit. Tidak sembarang kisah bisa diangkat menjadi sebuah film. Ditambah lagi, ini adalah film dokumenter. Sangat berbeda dengan film fiksi. Tokoh, alur cerita, konflik, sudut pandang, bagi saya ini lebih berat membuatnya dibandingkan FTV atau opera sabun.

Selama mengikuti training dan workshop perfilman, ada satu yang membuat Aceh Documentary ini begitu spesial, yaitu ilmu gratis. Saya kagum dengan Aceh Documentary yang rela melatih anggota baru dari nol hingga menghasilkan sebuah karya yang luar biasa, dalam waktu singkat. Sangat singkat tapi hasilnya “I am a professional director“.

Kilas balik, saat itu saya sedang menyusun skripsi di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Setelah menunggu waktu hingga satu tahun bergelut dengan skripsi, akhirnya tugas akhir saya disetujui untuk diseminarkan. Namun, yang terjadi adalah dengan bahagia saya menunda. Bagi saya, kesempatan untuk menjadi bagian dari Aceh Documentary tidak akan terulang lagi. Ini kesempatan yang sangat diidamkan oleh banyak orang yang punya mimpi dan cita-cita untuk menjadi bagian dari perfilman Indonesia. Lalu, adakah alasan untuk ditolak?

Lanjut perjuangan. Memperdalam ide cerita, riset lagi, pendekatan dengan subjek (pemeran film)  pagi hingga malam. Setelah jadwal shooting selesai, kami diajarkan untuk pandai mengedit layaknya editor hebat. Kami melewati proses rough cut, edit lagi, hingga film dokumenter ini layak untuk ditonton oleh masyarakat dan penikmat film. Mengarungi langkah yang tajam, menguji kesabaran, menata emosi kurang lebih dua bulan lamanya. Akhirnya kami berhasil memproduksi sebuah film dokumenter yang berjudul “Senja Geunaseh Sayang” karya Astina Ria dan Maulidar.

Kalian tahu, apa kebahagian yang saya dapatkan setelah menjadi bagian dari Aceh Documentary?

Sosok pengajar di Aceh Documentary, Bang Ayi (sapaan akrab Azhari), Bang Jamal (Jamaluddin Phonna) dan abang-abang yang ramah lainnya di Aceh Documentary. Mereka secara sukarela memperkenalkan saya dengan sineas-sineas hebat Indonesia. Ini seperti mimpi saat bisa bertemu, bahkan mengobrol bersama mereka. Saya jadi banyak tahu tentang dunia perfilman Indonesia, dan hal-hal menarik dalam pembuatan film. Tidak kalah dengan sineas nasional, Aceh juga punya sineas yang siang-malam bekerja keras dalam memajukan perfilman Indonesia. Mereka adalah orang-orang hebat di Aceh Documentary.

Kawan, Aceh Documentary ini aset terbaik yang dimiliki Aceh. Karena film-film produksi Aceh Documentary selalu mengangkat tentang budaya dan tradisi Aceh, isu-isu menarik dalam masyarakat, kritikan yang membangun, dan nilai-norma keislaman. Jika kalian punya cita-cita untuk menjadi sutradara, ikutilah kompetisi Aceh Documentary Competition yang diadakan setiap tahun.[]

Astina Ria, alumnus Aceh Documentary Competition 2016

KOMENTAR FACEBOOK