Suhaimi, Pendulang Rupiah dari Sampah Plastik

Suhaimi

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Adalah Muhammad Suhaimi (25), pemuda itu membawa kami ke sebuah tempat yang dipenuhi barang bekas berbahan plastik. Tempat itu berada dalam lahan seluas 825 meter, terpagar rapat dengan seng. Laiknya gudang, di dalamnya dipenuhi gunungan–gunungan karung sampah plastik.

Inilah tempat usaha yang dirintis Suhaimi empat tahun lalu. Di tempat tersebut Suhaimi mempekerjakan tujuh orang pekerja untuk mengolah berbagai sampah rumah tangga berbahan plastik menjadi cacahan-cacahan kecil, untuk kemudian dikirimnya ke Sumatra Utara, Medan.

Suhaimi membangun usaha penggilingan botol sampah plastik tersebut berawal dari rasa kekhawatiran dirinya terhadap banyaknya produksi sampah keluarga yang berada dalam kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh, yang tidak ada jalan keluar.

Menurut Suhaimi saat itu dirinya membaca berita dari sebuah surat kabar online lokal yang menuliskan bahwa sampah di Banda Aceh ketika itu mencapai 230 ton per hari. Sebanyak 60 persen merupakan sampah plastik.

Kondisi itu dimanfaatkan Suhaimi, hal itu bukan hanya masalah tapi juga peluang bagi dunia usaha dengan inovasi dan kreativitas menjadikan sampah sumber pendapatan perekonomian baru.

“Secara personal saya juga ingin menjadi pengusaha di samping juga harus memilih usaha apa yang tepat untuk didirikan dan dapat mengurangi sampah plastik,” kata Suhaimi, Selasa (15/07/2019).

Suhaimi membangun usaha tersebut dengan menyewa sepetak lahan kosong di Dusun Geuchik Gam, Cadek, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa di Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry.

Usaha tersebut sangat berdampak bagi banyak hal dalam masyarakat, salah satunya dapat membantu pemerintah dalam menyelamatkan lingkungan. Melalui usaha itu ia juga membantu masyarakat supaya selalu tinggal di lingkungan yang bersih dengan ada pengurangan sampah plastik atau dengan adanya manajemen dalam mengelola sampah yang baik.

Ada sampah yang tidak terpakai lagi, tapi di sini dapat dimanfaatkan untuk dijadikan barang yang bernilai tinggi. Ini merupakan sebuah konsep ekonomi di mana sampah-sampah ini diolah menjadi cacahan dan diolah menjadi produk baru.

Suhaimi menjelaskan, konsep ini merupakan daur ulang yang memproduksi cacahan sampah-sampah plastik melalui penggilingan. Dari sampah yang beragam sampah plastik ini terutama jenis botol, seperti HD, HDPP, dan beragam sampah plastik lainnya. Kemudian disortir, memisahkan warna dan jenis, kemudian dicacah dengan mesin pencacah.

“Cacahan plastik inilah kemudian dijual atau dipasarkan ke industri-industri produser yang ada di Medan maupun di Jakarta,” ujar putra dari Ghazali Hasan dan Hasanah itu.

Menurut pemuda kelahiran Blang Cut, Aceh Utara tahun 1994 itu, sejauh ini usaha penggilingan botol plastik miliknya sudah memproduksi satu sampai tiga ton per hari plastik cacahan. Dalam dua minggu sekali ia mengirimkan barang itu ke Medan mulai dari 12-13 ton.

“Untuk sekali muat mencapai 80-90 juta dalam sebulan. Alhamdulillah kami mencapai dua kali pengiriman dalam sebulan, dengan jumlah pendapatan bersih per sekali kirim itu mencapai 20 sampai 25 juta, paling kecil itu 15 juta sekali pengiriman,” ujarnya.

Bahan baku untuk usahanya itu ia membeli dan dipasok dari pengumpul-apengumpul di Aceh Besar dan Banda Aceh. Umumnya dadi ri pengumpul Gampong Jawa. Selain itu Suhaimi juga mendapatkan bahan baku dari masyarakat yang menjual langsung ke tempatnya dan bahkan ia akan membayar lebih mahal dari agen pengumpul karena di tempatnya dapat diolah lansung.

Menurut mantan aktivis HMI tersebut, dengan adanya industri ini dapat menyerap sampah di masyarakat itu dua sampai tiga ton per hari. Memang serapan itu belum signifikan kata dia dengan jumlah produksi sampah yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar ini yang mencapai 230-250 ton per hari.

“Tapi dengan kami terus meningkatkan jumlah produkasi, target ke depan bisa memprodukasi atau mengolah daur ulang plastik ini mencapai lima ton per hari,” ujarnya.

Suhaimi mempunyai target besar untuk itu, kedepan ia ingin membangun sebuah industri atau sebuah pabrik yang dapat memproduksi barang cetak. Di mana bahan baku sampah ini menjadi pokok materialnya dicetak menjadi barang jadi dan dipasarkan ke provinsi lain.

Artinya ini masih dalam sebuah penjajakan di mana nanti pada akhirnya Aceh tidak terlalu bergantung pada Medan. Misalnya memproduksi sejenis ember atau jenis produk plastik lainya langsung di tempat.

Pencapaian ini membutuhkan proses yang panjang karena membutuhkan modal yang sangat besar untuk membangun sebuah industri dan banyak hal yang harus dihadapi.

Ia berharap ke depan ada kolaborasi baik dari pemerintah maupun pengusaha-pengusaha di daerah untuk bisa bekerja sama menghidupkan industri yang besar di Aceh, yang dapat menampung dan mengolah seluruh sampah plastik di Aceh.

Menurutnya ini merupakan sebuah potensi yang sangat besar karena harga plastik semakin hari semakin meningkat karena tingkat permintaan dari cacahan ini semakin meningkat. Di mana plastik terbuat dari campuran minyak, yang semakin hari juga naik tentu produsee plastik ini mencari cara supaya mereka menekan biaya produksi. Otomatis mereka beralih ke pemanfaatan daur ulang.

“Ini potensi besar bagi anak muda, jangan hanya melihat sampah plastik sebagai masalah dan ancaman bagi lingkungan tapi jika diolah bisa juga menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di daerah,” sebut Suhaimi.

Suhaimi menjelaskan, awal mula memulai usaha tersebut pada awal 2017. Baru normal beroperasi selama satu tahun yang lalu. Saat merintis usaha tersebut ia masih dalam pendidikan kuliah di Fakultas Tarbiah UIN Ar-Raniry.

Tidak berjalan mulus pada awal membuka usaha tersebut banyak kesulitan yang dihadapi, pertama tidak memiliki pemahaman sama sekali terhadap pengolahan sampah plastik dan jenis jenisnya. Bermodal nekat karena melihat ada ide dan memiliki potensi besar untuk besar usahanya tersebut.

Dengan modal nekat tersebut ia langsung mendirikan usahanya, dan sedikit belajar ke daerah Bekasi, Jawa Barat, itupun hanya beberapa hari untuk mendalami dan mengenal jeni-jenis plastik.

Tidak berhenti di situ, saat usahanya sudah berjalan, ia kembali menuai masalah ketika melakukan pengiriman barang olahannya ke luar. Begitu juga saat membeli bahan baku tidak begitu paham dengan kadar air yang terkandung dalam karung sampah tersebut kemudian dihadapkan dengan modal yang kurang.

Pernah suatu ketika di awal produksi barangnya ditolak ketika sampai di Medan karena kurangnya pemahaman tentang permintaan pasar. Akhirnya barang tersebut dikirim ke Jakarta meski diambil namun dengan harga murah.

“Namun dengan keyakinan dan kerja keras mau belajar dari kesalahan. Alhamdulillah usaha kini dapat berjalan lancar,” tutur Suhaimi.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK