Pak Gagap yang (Tidak) Maksum

Boihaqi

Oleh Boihaqi*

Menurut cerita dari sahibul hikayat, nun di sebuah kota di Sumatera bernama Anchem, hiduplah seorang tabib bernama Pak Gagap. Ia adalah tabib terkenal karena kerap dicitrakan tegas dan berdedikasi tinggi. Pak Gagap kerap pula dipuji sebagai tokoh yang nyaris menyamai Semar, tokoh sentral dalam kisah Punakawan dalam Mahabrata versi Jawa.

Di kota itu Pak Gagap menjabat sebagai Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, sebuah jabatan yang mengurusi urusan tertentu di Pemerintahan Kota Achem. Dia oleh Bhattara Saptaprabhu yang berkolega dengannya. Pak Gagap dicitrakan nyaris maksum–bersih dari dosa dan cela, hingga selevel dengan Arjuna dan Ramyana. Padahal tidak demikian adanya.

Pak Gagap, selain sebagai Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, Konon ikut mengatur ritme politik negeri. Tentu tidak secara terang-terangan. Tapi berbisik melalui belakang tirai. Ya pada saat pemilihan pemilik rumah, Pak Gagap berhimpun di bawah bendera Pasangan Meriah, nah di situ dikenal pula dengan lobi domino.

Pak Gagap ini jago main domino, dia hampir tiap malam bertandang ke rumah pasangan meriah untuk bermain domino, berbagai masukan dan resep pun disuguhi, ya sang Pasangan Meriah pun sangat bersemangat sampai – sampai berucap, “meunjoe lon terpileh, dron otomatis jeut keu penguasa rumah tamu lam rumoh yang teungoh geutanyoe reubot nyan“.

Libido Pak Gagap naik drastis, “syur” kata bapak-bapak setengah usia, “horni” memimjam kata anak anak millenial. Ya, pak gagap bermanuver di Batavia, mencari donatur, mengatur pertemuan sehingga urusan remeh temeh pun diatur Pak Gagap ini.

Alhasil apa? Pasangan Meriah pun keok dalam pemilihan untuk menduduki rumah selama lima tahun. Dengan muka petak nan tebal bak dilapisi tepung terigu segitiga biru, pak gagap merapat ke pasangan yang menang.

Ya pak gagap ikut kemanapun sang pemenang pergi. Seolah olah pak gagap ini hanya dia yang mampu, hanya dia yang jago, dan pak gagap pun kembali terpilih oleh sang pemenang, pak gagap di amanah untuk mengelola satu dapu dalam Rumah itu.

Konon dikabar olehnya Se Nusantara hanya Pak Gagap yang bisa membuat dapu itu, oh ya dapu itu unik lo? Sampai dihiasi lampu hijau, kuning dan merah, seperti trafic Light di berbagai simpang jalan.

Di negeri Nusantara itu tidak dikenal dengan ada dapu ala Pak Gagap, tak elok bila disebut dapu ini adalah “ Ilegal “ dalam aturan rancang bangun program rumah itu.

Di dapu itu di mana Pak Gagap selalu merasa superior dengan pola mengirimkan pesan mengandung racun ke setiap pengisi kamar dalam rumah itu

“Ujung dari sms Pak Gagap itu tetap ada CC (cako cako) kepada pemilik rumah baik bos utama maupun sang wakil” .

Pak gagap ini dalam memimpin sebuah dapu juga kerap memberikan bola tanggung dalam berbagai rapat yang kabarnya evaluasi lampu hijau, kuning dan merah !

Bola-bola tanggung dengan deras disambut dengan smess yang menukik mengenai kepala kamar dalam rumah itu oleh pemilik rumah tanpa ampun, istilah Aceh hana diteumei dan dituho keunip.

lagi lagi Pak Gagap ini menunjukan dia superior, tapi Pak Gagap dengan bebas memberikan bola yang mengenai siapapun bawahannya atau kolega.

dan bila turun ke lapangan Pak Gagap dengan super hero bisa menentukan dan menggesek tuan rumah untuk pemutusan kontrak proyek bila penghitungan dengan resep tabieb gagap “(Hijau, kuning, merah)“ bertolak belakangan, tak peduli kelaparan orang, tak peduli masalah orang, yang penting tak tunduk dan ikut Pak Gagap kalian akan kubenamkan.

********
Pak Gagap ini pernah suatu hari dipanggil oleh Sang Pasangan Meriah, tahu apa dijawab Pak Gagap ? Maaf Bang saya bekerja di Perusahaan lain toke sekarang? Mohon Maaf saya tidak merapat karena sedang ikut seleksi sebagai penguasa ruang tamu di rumah itu.

Akhirnya sang Pasangan Meriah urut dada serta menghapus nomor HP Pak Gagap sembari mencoba melupakan romantisme balak enam domino bersama Pak Gagap yang pernah jadi tabib dikampungnya era 90-an.

Di luar beranda, para kawula dan jelata mulai murka. Citra manis yang dibuat oleh Bhattara Saptaprabhu, ternyata tidak demikian adanya. Pak Gagap hanya manusia biasa yang penuh dengan kelemahan-kelemahan. Ia tidak maksum seperti yang kerapkali dipoles oleh sang kolega. []

*)Penulis adalah warga Peusangan.

KOMENTAR FACEBOOK