Polisi Geledah Pabrik Ekstasi di Sawang Aceh Utara

Dir Narkoba Polda Aceh Kombes Pol MUH. Anwar. R, S.H, S.I.K didampingi Ka Lapfor Cab Medan Kombes Pol Wahyu Marsudi, M.Si, Wakapolres Lhokseumawe, Kompol Mughi Prasetyo Habrianto SIK dan Kasat Resnarkoba, Iptu Zeska Julian Wijaya mengerakan konferensi pers terkait pengungkapan home industry tempat produksi narkotika di Mapolres Lhokseumawe. @aceHTrend/Mulyadi Pasee

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Personel Satuan Reserse Narkoba Polres Lhokseumawe berhasil menggeledah sebuah gubuk yang dijadikan sebagai “pabrik” untuk memproduksi narkoba jenis ekstasi di Gampong Alu Garot, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara pada Senin (15/7/2019).

Dir Narkoba Polda Aceh Kombes Pol Muh Anwar dalam konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe siang tadi mengatakan, polisi awalnya mendapatkan informasi dari masyarakat. Hasil penyelidikan di lapangan baru satu tersangka yang berhasil diringkus, yakni MI (19), yang berasal dari Kecamatan Muara Satu. Ketika itu tersangka sedang melakukan transaksi jual beli pil ektasi.

Saat digeledah, petugas menemukan 2 ribu pil ekstasi dalam saku celananya, serta tepung yang diduga bahan baku membuat pil tersebut. Dari pengakuan MI, kata Anwar, tersangka tidak bekerja sendiri melainkan ada rekannya yang sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), masing-masing berinisial B, J, dan D.

Kemudian petugas melakukan pengembangan lebih lanjut dengan mendatangi sebuah gubuk di Desa Alu Garot. Menurut keterangan MI, kata Anwar, obat sejenis pil ekstasi itu dibuat dengan alat tradisional.

Dari hasil penggeledahan itu tim berhasil mengamankan barang bukti lainnya berupa satu buah blender, dua wadah plastik, satu talam besi, satu batang balok kayu, satu batang kayu berbentuk kubus, satu buah baut, satu besi, dua lembar kertas obat sakit kepala, dua buah terong berduri dan bahan-bahan dasar pembuatan ekstasi lainnya.

Tersangka mengaku praktik terlarang itu sudah dilakukan selama lima bulan terakhir, sedangkan tempat produksi pil ekstasi itu milik bersama. Tiga DPO lainnya ada yang menjadi pemberi modal, pemasok bahan-bahan, dan bertugas sebagai pembuat serta mengedarkan. MI sendiri bertugas rangkap sebagai pembuat dan pengedar.

Mereka sudah pernah memproduksi obat tersebut sebanyak 3 ribu butir, bahkan sudah didistribusikan ke provinsi lain, yakni Lampung dan Medan (Sumatera Utara). Sedangkan 2 ribu butir yang ditemukan polisi tersebut rencananya akan diedarkan di Aceh.

“Dengan perbuatannya pelaku dijerat dengan pasal 112 ayat (2), 113 ayat (2), 114 ayat (2), dan 115 ayat (2) UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati, seumur hidup, dan paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun kurungan penjara dengan denda paling banyak 1 miliiar,” pungkasnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK