Politik Sektarian Arab, Bisakah Berakhir?

Oleh Affan Ramli*

Mousa Abu Marzouk, Kepala Biro Hubungan Internasional Hamas Palestina diwawancarai Media Rusia, Sputnik dua hari lalu. Ia menegaskan hubungan Hamas dan Iran, meski pernah rusak, kini dalam kondisi terbaik. Hamas butuh pengaruh Iran di kawasan itu. Terutama saat ini, Palestina sedang menghadapi badai ‘Kesepakatan Abad’ ini rancangan Amerika. Suatu naskah petajalan damai memenangkan kepentingan Israel. Negara-negara Arab teluk seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Jordania, dan Arab Saudi dalam perkara ini tak bisa diharap. Mereka mendukung kesepakatan itu, di bawah tekanan rezim Trump.

Abu Marzouk, berbeda dari pimpinan politik Hamas sebelumnya, Khaled Mashal. Mashal mudah terperosok dalam permainan politik sektarian. Di tangan Mashal, hubungan Hamas dengan Iran dan proksi-proksinya berantakan. Setelah puluhan tahun menikmati dukungan persenjataan dan finansial Iran, Hamas pada 2012 mendadak bermain dengan isu kemazhaban. Ia menghadap-hadapkan Suni dan syiah dalam persaingan geopolitik Timur Tengah. Langkah politik keliru itu kemudian dibayar dengan memakzulkan Mashal dari pimpinan politik Hamas.

Abu Marzouk menolak narasi sektarian. Ia diam-diam bertandang ke Beirut, Libanon bertemu Hasan Nasrallah, Sekjen Hizbullah. Situs berita Timur Tengah, Al-Monitor dapat bocoran pertemuan rahasia keduanya sudah berlansung dalam beberapa putaran. Meski sesama organisasi perlawanan (muqawamah), Hamas dan Hizbullah sebenarnya sudah tidak akur lama. Gara-gara beda pendangan menyikapi perang saudara di Suriah. Hamas mendukung kubu oposisi anti-Assad mewakili Suni dan Hizbullah membela Assad, dianggap merepresentasi Syiah. Kerja keras Abu Marzouk terbukti tidak sia-sia. Kini hubungan Hamas dan Hizbullah terpulihkan kembali.

Selain rekonsiliasi Hamas-Hizbullah, ada peristiwa penting lainnya di dunia Arab yang ikut mengendorkan retorika politik sektarian. Ialah krisis Qatar. Beberapa negara teluk Suni pimpinan Saudi kompak memutuskan hubungan diplomatik dan mengisoloasi Qatar. Reuters, Midle East Eye, dan Centre for Research on Globalization melaporkan konflik Saudi Cs melawan Qatar telah mendorong faksi-faksi pemberontak (sesama Suni) dari pion-pion kedua belah pihak saling berperang di Provinsi Idlib, Suriah. Publik Arab sedikit sadar, perang di kawasan itu bukan soal mazhab sama sekali.

Hamas sudah insaf. Begitupun Qatar. Setelah bertahun-tahun mempropagandakan permusuhan Suni-Syiah melalui Al-Jazeera, sekarang Doha aktif merangkul Iran menjadi sekutunya. Qatar News Agency mengutip pidato Emir Tamim bin Hamad Al-Thani dalam sebuah upacara militer. Ia memuji Iran sebagai kekuatan besar dan bagian dari kekuatan Islam.

Mitos Sabit Syiah

Jejak langkah Hamas dan Qatar sialnya tidak diikuti negara-negara teluk lainnya. Kebanyakan mengekor di belakang Arab Saudi. Rezim-rezim teluk sepenuhnya percaya pada propaganda geopolitik Amerika. Bahwa Iran sedang membangun sebuah koridor darat yang menghubungkan Tehran-Baghdad-Damaskus menuju laut miditerania. Iran Corridor ini konon akan digunakan untuk memasok peralatan militer kepada Hizbullah Libanon dan tentara Suriah. Mereka ingin membebaskan dataran tinggi Golan dari pendudukan Israel. Raja Abdullah II Yordania pada tahun 2004 menyebut koridor Iran itu pada akhirnya akan membentuk sebuah aliansi strategis sektarian yang ia sebut dengan ‘Bulan Sabit Syiah’.

Amerika dan sekutu teluknya, secara konsisten menghidupkan narasi Sabit Syiah sebagai cara menjelaskan ambisi politik Iran di kawasan itu. Mitos Sabit-Syiah ampuh menakut-nakuti pemerintah negara-negara Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Dari ilusi itu, Saudi membentuk semacam NATO Islam dari negara-negara suni. Sebagai taktik Saudi menghadapi Iran dan proksi-proksinya.

Dalam situasi demikian, sangat sulit membayangkan nalar politik sektarianisme Suni-Syiah dapat dilenyapkan di Timur Tengah. Nalar itu selalu dijaga dan tertancap jauh dalam kesadaran sebagian pemimpin politik Arab. Amerika, Israel, dan Arab Saudi kompak membangun sektarianisme itu sebagai satu-satunya cara paling jitu melumpuhkan kekuatan politik rakyat Arab yang berhasrat pada independensi dan kedaulatan dalam gelombang revolusi musim semi Arab (Arab Spring).

Shiah Crescent (Sabit Syiah) seringkali menjadi kata kunci dalam berita-berita media besar Barat mengulas perkembangan perang di Suriah. Kemajuan-kemajuan di berbagai front yang berhasil diraih pasukan Suriah bersama milisi-milisi dukungan Iran, terutama sejauh itu terkait perang di perbatasan Suriah-Irak terasa tidak dapat dijelaskan dengan lengkap di koran-koran Barat tanpa membesar-besarkan ambisi Iran mendirikan Bulan Sabit Syiah.

Poros Perlawanan

Padahal ilusi Bulan Sabit Syiah adalah cara menenggelamkan narasi otentik yang sungguh ada dan dibangun oleh aliansi Iran di kawasan itu. Koran Libia Al-Zahf Al-Akhdar pada tahun 2002 menyebut narasi otentik itu dengan ‘axis of resistance’ (poros perlawanan), yang pada awalnya untuk menjelaskan sikap politik aliansi Iran, Suriah, Irak, Hizbullah, dan Hamas melawan hegemoni Amerika dan Israel di seluruh kawasan Timur Tengah.

Payam Mohseni dan Hussein Kalout dalam artikel mereka ‘Iran’s Axis of Resistance Rises’ pada Januari 2017 di Foreign Affair mengatakan, poros perlawanan pimpinan Iran itu belakangan sudah memiliki jaringan jauh lebih luas. Meliputi jaringan negara (Iran, Suriah, Irak) dan kekuatan rakyat seperti Hizbullah Libanon, Hamas Palestina, Syrian National Defence (SND) Suriah, Hashad Syakbi (Popular Mobilization Force) Irak, Houthi Yaman, Brigade Zainab Pakistan, dan Pasukan Fatemiyon Afghanistan. Perluasan jaringan poros perlawanan ini terjadi dalam beberapa tahun terakhir merespon penyebaran kelompok-kelompok ekstrimis wahabis seperti ISIS dan Al-Qaida di Irak dan Suriah.

Payam dan Hussein kemudian membuktikan axis of resistance ini tidak bisa disebut sebagai Bulan Sabit Syiah. Karena di dalamnya melibatkan orang-orang Kristen, Druz, Yazidi, Kurdi, dan Suni. Ini terjadi pada kasus Syrian National Defence Suriah, Hashad Syakbi Irak, dan Hizbullah Libanon. Ditambah keterlibatan Hamas yang sepenuhnya bermazhab Suni. Data-data ini menjelaskan masyarakat Timur Tengah sesungguhnya telah membangun nalar dan narasi politik alternatif. Berusaha meninggalkan doktrin sektarian yang dipromosikan Arab Saudi, Amerika, dan Israel.

Nalar resistensi atau muqawamah membuka cakrawala kesadaran baru warga Timteng. Bahwa ancaman eksistensial mereka adalah kerakusan imperialis dan pendudukan zionis atas sumberdaya alam dan tanah Arab. Musuh mereka bukan Suni dan Syiah, bukan Kurdi, Yazidi, Druz, Yahudi, dan Kristen. Semua etnik dan sekte Timteng seharusnya bergabung dalam poros resistensi. Menurut saya, itulah satu-satunya jalan terlurus merekonstruksi Suriah, Irak, Yaman dan Arab lainnya pasca kehancuran ISIS, Al-Qaida dan faksi ekstrimis lainnya. Dari nalar muqawamahlah, Arab dapat ditata kembali dalam citarasa peradabanya yang gemilang sesudah perang.

*)Peminat kajian geopolitik.

KOMENTAR FACEBOOK