Essai: Bukan Haji Cowboy

Oleh Muhammad Haikal*

“Ya, ini bukan haji cowboys,” kata Qomar menegaskan. Pembicaraan kami di Madrasah Indonesia Umul Hamam, Riyadh Saudi Arabia, mulai terang. Aku yakin apa kata dia. Qomar sebagai usahawan Hamlah, sejenis travel, pasti mengerti benar menjalankan bisnis ini. Ini pun bukan pertama kali dia melakukannya.

Tahun 2012 suasana haji pemberangkatan domestik yang didominasi TKI agak tegang. Pemeriksaan berlapis sebelum sampai ketujuan.

Memang bergabung dengan Hamlah ini dari sisi harga tawarannya sangat menarik. Hanya 3500 riyal mencakup transportasi Riyadh ke Makkah, Makkah ke Madinah, Madinah ke Riyadh, akomodasi selama perjalanan, plus makan minum selama musim haji. Saat itu 1 SAR = Rp 2500. Gaji TKI non formal yang sudah cukup lama bekerja mendekati SAR 2000 perbulan. Bagiku, bukan masalah murah tapi inilah kesempatan aku bisa berhubungan dengan para TKI secara intens. Aku butuh mereka.

Untuk persoalan haji, Pemerintah Saudi benar-benar menerapkan pemeriksaan ketat. Pos-pos mengarah ke Mekkah siaga. Bus yang penuh siap-siap dihentikan. Mereka cuma bertanya igamah—semacam KTP. Dalam percakapan sehari-hari orang Saudi, memang qaf sering berganti dengan gain, sehingga, iqamah menjadi igamah.

Igamah memiliki informasi terpusat, termuat di dalamnya data diri, data perusahaan bahkan nama kafil (majikan) yang menampung selama berkerja di Saudi. Apabila Anda tidak memiliki igamah, dan juga bukan turis, maka bersiagalah. Sebab, proses akan menjadi panjang. Bahkan, bisa-bisa berujung ke penjara. Pemeriksaan seperti ini menjadi lebih intensif selama bulan haji.
Namun bagi Qomar tidak menganggap ini sebagai masalah.

Bagiku sendiri, perjalanan ini sedikit ngeri dalam hal legalitas. Kami tidak pegang idakkka—sepenggal kertas izin masuk Makkah. Walau ada yang mengatakan bahwa tasreh itu ada dan dipegang secara kolektif oleh Qomar, tapi jumlah tasrehnya tidak mencukupi semua penghuni bus. Atau, tidak semua orang di bus terdata dalam tasreh. Apapun pendapat beredar, telah terjadi khilaf sesama penghuni bus mengenai tasreh. Qomar juga tidak jelas mengenai hal ini, semacam informasi bersifat confidential demi masa depan hamlah dia.

Tasreh ini dikeluarkan oleh otoritas haji. Data kependudukan yang kuat memungkinkan mereka mendeteksi siapa yang boleh haji. Imigran pekerja dan bahkan penduduk mereka sekalipun Cuma diizinkan haji 5 tahun sekali. Kita bisa cek data kita sendiri apakah eligible atau tidak melalui website. Tidak memegang tasreh, artinya kita menganggap diri kita eligible secara sepihak.

Tasreh itu nanti, saat depan Makkah. Perjalanan masih jauh, nikmati saja dulu. Ada cobaan lain yaitu igamah itu sendiri.

Lalu kemudian, persoalan bertambah pelik.

Temanku yang lagi kuliah di Saudi menitipkan ibunya, yang sedang berkunjung, untuk naik haji. Tanpa igamah dan tasreh,. Berlapis sudah ketentuan yang dilewati. Bus pun melaju menuju Thaif. Di sana kami akan miqat,mandi dan berganti pakaian ihram.

“Aku titip ibuku,”kata temanku. Aku lupa kenapa ayahnya tidak bisa disertakan. Apa karena Qomar hanya bisa menyerap risiko satu orang saja. Ayah temanku tidak bersama kami. Dia dan ayahnya mencari jalan lain. Mungkin jalan cowboy.

Ibunya di depan bagian perempuan. Kami lelaki di belakang. Ibunya barisan depan berarti beliau yang duluan ketemu untuk diperiska. Doa dipanjatkannya sepanjang jalan. Tanpa henti. Aku terngiang kembali bahwa ini bukan haji cowboy.
Lalu, dari tempat dudukku di belakang,aku tidak lagi melihat Qomar.

*)Seorang essais.

KOMENTAR FACEBOOK