Hantu

Suzanna. Sumber foto: Kaskus.Id

Oleh Muhajir Juli*

Ketika kecil saya seringkali menonton sinema horor produksi dalam negeri. Suzanna adalah sosok hantu yang paling membekas di benak saya. Nada bicara, suara tertawa serta tatapan mata nan tajam, membuat bulu kuduk bergidik. Suzanna benar-benar sukses menimbulkan rasa takut di dalam hati. Kemana saja saya pergi, di tempat-tempat sunyi, seakan-akan Suzanna selalu mengikutinya di belakang.

Ketika masih kecil, saya sangat takut kepada lintah. Bagi saya binatang yang masuk sub kelas hirudinea filum annelida, adalah monster yang memiliki kemampuan di atas maop. Apalagi dengan banyaknya cerita tentang orang-orang yang hidup dengan lintah di dalam perutnya hingga beranak pinak. Sungguh mengerikan.

Dulu, cerita Hantu Kojet sempat meneror warga kampung saya ketika Daerah Operasi Militer (DOM) digelar di Aceh. Setiap ditemukan mayat tak beridentitas, selalu dikat-kaitkan dengan Hantu Kojet.

Juga cerita tentang pancuri ule. Dalam cerita itu disebutkan bahwa tiap kali pembangunan jembatan rangka baja dan jembatan beton dilakukan, maka dibutuhkan kepala manusia (tengkorak) sebagai ganjalan agar memiliki kekuatan luar biasa. “Nak bek patah maka diboh ule ureung.” (agar tidak patah, maka ditaruh kepala manusia) demikian kata “pendahulu”. Nyaris semua percaya begitu saja. Sehingga tiap kali ada pembangunan jembatan, maka anak-anak di kawasan itu akan ketakutan luar biasa.

Dalam hidup kita kerap memiliki ketakutan berlebih kepada sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki daya apapun untuk menghancurkan. Ketakutan-ketakutan itu merupakan akumulasi dari pendeknya daya kritis atas sebuah “peugaba” yang dibuat-buat dengan cerita yang dilebih-lebihkan.

***
Walau mayoritas beragama Islam, ada satu kekurangan fundamental orang Aceh, yaitu tidak gemar tabayyun. Di negeri ini kabar bohong begitu mudah tersebar, karena orang-orang di sini kebanyakan tidak memiliki tameng untuk memeriksa kembali kabar yang diterima. Apalagi bila kabar tersebut disampaikan oleh orang yang dihormati, maka secara beramai-ramai akan dipercaya sebagai kepercayaan kolektif. Padahal dalam Islam sudah terang benderang dijelaskan bahwa ketidakhati-hatian akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesengsaraan.

Semua orang berpotensi melakukan kesalahan. Semua orang berpeluang melakukan kejahatan. Selain rasul tidak ada manusia yang maksum (terbebas dari dosa). Allah melalui surat Al-Hujurat/49:6. menyampaikan:”Jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”

*) Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK