Uniknya Simeulue, Satu Pulau Ada Empat Penutur Bahasa Lokal

Warga Simeulue memainkan seni nandong @kebudayaan.kemendikbud.go.id

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dinas Pendidikan Aceh mengadakan kegiatan diskusi terpumpun atau FGD bagi sejumlah guru dari Kabupaten Simeulue selama tiga hari di Hotel Grand Permata Hati Ulee Lheue Banda Aceh, Jumat-Minggu (19-21/7/2019).

Ketua panitia pelaksana dari Dinas Pendidikan Aceh, Zulbahri, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menggali potensi bahasa, sastra, seni, dan pariwisata dari Pulau Simeulue dengan mendatangkan pendudukan dan penutur asli Simeulue.

“Para peserta FGD adalah guru-guru dari Simeulue. Nanti mereka bisa menyisipkan potensi kearifan lokal setempat dalam materi ajar di sekolah-sekolah. Kita tidak mau bahasa minoritas di pulau itu akan hilang karena kurangnya kepedulian. Jadi, kegiatan ini bagian dari upaya menjaga dan melestarikan bahasa dan potensi budaya lokal setempat,” jelas Zulbahri melalui keterangan tertulis yang diterima aceHTrend.

Kegiatan tersebut sengaja diberikan kepada guru-guru yang memang penduduk dan penutur asli Simeulue dengan anggapan pendudukan dan penutur asli lebih paham dengan kondisi daerahnya. Di antara peserta ada penutur bahasa Devayan, penutur bahasa Haloban, penutur bahasa Lekon, dan penutur bahasa Simolul.

Menurut Zulbahri, selama ini hanya dua bahasa yang diakui dari Simeulue. Namun, para peserta mengungkapkan ada empat bahasa yang hidup dan berkembang di Simeulue. Menurut para peserta, keempat bahasa itu bukan dialek, melainkan bahasa tersendiri. Selain soal bahasa, para peserta juga mengidentifikasi sastra, seni, tradisi, dan potensi pariwisata dari pulau tersebut.

“Dari sisi pariwisata kuliner, ternyata ada banyak sekali nama khas makanan dan masakan dari Simeulue. Semua digali oleh peserta dengan detail. Ini akan menjadi sumber kekayaan kuliner tradisional Aceh yang harus diketahui oleh publik,” tegas Zulbahri.

Sebelum FGD, para peserta terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan umum mengenai bahasa dan sastra dengan mendatangkan pemateri dari Balai Bahasa Aceh. Selain itu, lanjut Zulbahri, para peserta juga mendapatkan pengetahuan umum mengenai potensi pariwisata dan seni yang dipaparkan oleh Kasi Sumberdaya dan Pengembangan Lembaga pada Bindang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

“Untuk FGD, dinas mengundang fasilitator dari Unsyiah dan UIN. Ada Herman RN dan Sehat Ihsan Shadiqin. Ada juga dari unsur Dinas Pendidikan, Baihaqi,” tambah Zulbahri.

Salah seorang fasilitator, Herman RN, mengaku terkesima atas hasil paparan para peserta. Kata dia, ternyata sangat banyak potensi bahasa, seni, dan pariwisata di Pulau Simeulue yang selama ini jarang diketahui publik.

“Untuk kuliner, misalnya, selama ini hanya dikenal lobster dan makanan ringan memek. Lebih dari itu, sagu saja bisa diolah sedikitnya lima macam masakan. Belum lagi kue-kue khas Simeulue. Ini dahsyat! Potensi wisatanya juga, mulai dari Batu Berlayar sampai Batu Siambung-Ambung ada di sana,” papar Dosen FKIP Unsyiah itu.

Menurut Herman, semua itu adalah kekayaan Aceh yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Aceh. “Jangan hanya melihat beberapa daerah yang sudah populer saja, amati juga Simeulue dan daerah lain. Aceh ini bisa menjadi central of tourism jika dikelola dengan baik, bijak, adil, arif,” jelas Herman RN.[]

KOMENTAR FACEBOOK