Hamba

Oleh Muhajir Juli*

Ramses II adalah raja terbesar Mesir dari dinasti ke-19. Memiliki gelar Ramses Yang Agung alias Ozymandias. Memiliki kekuasaan absolut dan menganggap dirinya Tuhan pencipta semesta. Dalam cerita disebutkan bila ia membunuh bapaknya sendiri agar bisa menjadi raja.

Di tangannya Mesir menjadi negara besar, ditakuti dan disegani. Titah Ramses II tidak bisa dibantah, semua harus diikuti. Ia begitu super power atas semua kehendaknya.

Sebagai “Tuhan” Ramses II tidaklah mandiri dalam tiap keputusannya. Adalah Haman yang menjadi mentri, penasehat raja.

Mereka berdua membangun sebuah proyek menara yang akan digunakan oleh Ramses II untuk agenda membunuh Tuhan yang disembah oleh Nabi Musa. Dengan mempekerjakan 50.000 buruh, proyek itu selesai

Dari puncak menara kemudian Ramses II memanah Tuhan yang disembah Musa. Dengan rekayasa, kemudian Ramses mengaku telah memanah Allah hingga mati. Buktinya adalah busur panah berlumur darah.

Musa tentu saja tersenyum mendengar pengakuan itu. Tapi Firaun bergeming. Ia yakin telah berhasil mempermalukan Musa di depan pengikutnya.

Menara itu kemudian dirobohkan oleh Jibril menjadi tiga bagian yang menewaskan hampir seluruh pekerja. Haman jugalah yang menasihati Firaun untuk menolak dakwah yang disampaikan oleh Musa.

Firauan (Ramses II) oleh kesombongan diri dan hasil kocok-kocok orang di sekelilingnya, telah lupa bahwa dia adalah manusia biasa, yang butuh seks, butuh makan, butuh tidur, butuh teman dan butuh semuanya yang dibutuhkan manusia.

Sejarah kemudian menjawab tuntas, ketika Firaun dan Haman beserta tentaranya yang angkuh dibenamkan dalam Laut Merah, kala mengejar rombongan Nabi Musa yang “menghindar” dari kezaliman Ramses II.

Di dalam laut, Firaun tersadar bila ia bukan Tuhan. Nafsu amarah dan teman-temannya telah menjerumuskan dia ke jurang. Ramses tersadar bila ia hanya manusia biasa. Tapi sudah terlambat. El Maut datang menghujam ulu jantungnya. Ia mati buhuk dengan air asin. Tubuhnya tak membusuk. Jasadnya abadi dan dijadikan pelajaran moral bagi seluruh manusia. Ia dikutuk oleh Allah. Namanya bersama Haman diabadikan dalam Al Quran.

***
Telah terlalu banyak orang-orang besar yang keterlaluan ketika menjadi penguasa. Merasa diri paling benar, paling unggul, paling bersih dan paling visioner. Kita tentu mendengar nama besar Adolf Hitler, Mussolini. Di Turki juga ada Mustafa Kemal Pasya Attartuk. Mereka adalah orang-orang besar yang dikenal dalam sejarah sebagai pekerja keras, kemudian menjadi sangat buas kala menjadi penguasa. Kemal Pasya sampai sekarang jasadnya diseyamkan di museum. Menurut informasi, tubuhnya ditolak bumi. Adolf Hitler bunuh diri bersama istri tercinta.

Pemimpin, siapapun dia, adalah khalifah yang bukan saja bertanggungjawab terhadap dirinya, tapi juga kepada rakyat yang ia pimpin. Sebagai manusia, sebesar apapun nama seseorang, tetaplah memiliki kelemahan-kelemahan yang mendasar sebagai manusia.

Umar bin Abdul Aziz adalah Khalifah yang tersohor dengan keadilannya. Ia meninggalkan segala kebesaran sebagai seorang raja dan hidup layaknya fakir. Jubah yang dipakai di kepala adalah kain yang disiapkan sebagai kafan pembalut tubuhnya ketika meninggal dunia.

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang parlente, gemar merias diri dan mewah. Tapi kala diangkat sebagai khalifah, ia tanggalkan semua kemewahan dan mulai mawas diri dari orang-orang di sekelilingnya. Ia tidak serta merta mempercayai laporan para pembisik. Karena baginya, pemimpin adalah penanggungjawab. Bukan penerima laporan Asal Bapak Senang (ABS).

Tiap malam dia berjalan berkeliling kota, mengunjungi rakyat sembari menyamar serta rutin memeriksa kembali tiap laporan yang masuk. Maka tidak heran, tidak sampai lima tahun menjadi khalifah, Damaskus kaya raya. Baitul mal negara penuh dengan zakat. Rakyatnya sejahtera. Sehingga setiap yang menikah akan diberikan hadiah oleh negara.

Umar bin Abdul Aziz sadar bila ia hanya seorang hamba yang diberikan kesempatan sebagai pemimpin. Ia mengenal dirinya sebagai ciptaan Allah. Tidak super power dan kelak di akhirat, semua yang ia lakukan akan diminta pertanggungjawabkan di Yaumil Mizan.

Ia juga memahami para pembisik baik penasehat maupun agen handle yang datang padanya, semua punya kepentingan ekonomi sendiri. Mereka datang dengan segenap sanjungan, dengan sajak-sajak metafora penuh tipuan.

Umar bin Abdul Aziz mewanti-wanti bila jabatan hanyalah amanah. Semuanya tidak abadi. Karena tidak ada keabadian pada hamba, termasuk jabatan yang dimiliki.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

Sumber foto: Getty Image

KOMENTAR FACEBOOK