Kompetisi Aceh Documentary Junior Wujudkan Mimpi Saya Menjadi Sutradara

Oleh Rizkia Tarisa Putri*

Ketika saya duduk di bangku kelas X MAN Model Banda Aceh, kakak dan abang kelas di sekolah memperkenalkan kepada kami bagaimana film, khususnya film dokumenter. Bagaimana serunya membuat sebuah film dan apa saja suka dukanya. Saya dan seluruh siswa MAN Model menonton hasil karya mereka yang diputar menggunakan layar tancap di musala sekolah. Terlintas dalam hati, suatu saat saya akan membuat sebuah film juga dan karya saya akan ditonton beramai-ramai seperti ini. Dapat membuat sebuah film itu sangat luar biasa dan tentu saja menjadi sebuah kebanggaan menjadi seorang sutradara. Apakah saya dapat membuat film yang luar biasa seperti karya-karya abang-kakak kelas itu?

Setelah film selesai kemudian dilanjutkan dengan sesi sharing dan tanya jawab. Saya memberanikan diri untuk bertanya, “Bagaimana kakak-abang bisa sampai membuat film sebagus ini? Ke mana kalian belajar? Saat itulah saya mengenal Aceh Documentary Junior (ADJ). Bagi saya, Aceh Documentary Junior akan sangat menarik untuk diikuti. Kabarnya, Aceh Documentary Junior melatih para pelajar untuk dapat membuat sebuah  film yang bernilai, dan bisa membawa perubahan kepada kehidupan sosial. Saya juga sangat senang ketika mendengar semua kegiatan selama di kompetisi dan belajar di Aceh Documentary Junior gratis tanpa dipungut biaya sama sekali. Aceh Documentary Junior adalah salah satu program tahunan dari Yayasan Aceh Documentary selain dari Aceh Documentary Competition dan Aceh Film Festival.

Bagi saya, membuat film bagaikan sebuah mimpi yang tak akan kesampaian, karena hal itu adalah pekerjaan kreatif yang biasanya tidak ada di Aceh. Tapi sejak diperkenalkan oleh kakak-abang di sekolah kala itu, semangat saya ingin membuat film datang kembali. Saya hanya butuh seorang teman yang sesuai dengan keinginan saya dan ingin membuat sebuah karya film dokumenter. Akhirnya saya mengajak teman sekelas bernama Rizqa Ananda Maharani Parisi, dan menceritakan apa saja kelebihan dari program Aceh Documentary Junior. Dia tertarik dan kami sepakat untuk ikut kompetisi Aceh Documentary Junior.

Februari 2016, Aceh Documentary membuka pendaftaran untuk program Aceh Documentary Junior. Ternyata formulirnya telah dikirim ke sekolah kami oleh panitia pelaksana kompetisi. Kompetisi ini tentu saja berbeda dengan kompetisi lainnya, ia bukan sekadar berkompetisi tetapi juga belajar segala hal. Saya pun mendaftar dengan ide cerita yang telah kami persiapkan dan melakukan riset sebelumnya. Banyak siswa lain yang juga mendaftar kala itu, karena Aceh Documentary Junior satu-satunya lembaga yang dapat mewujudkan cita-cita kami dalam membuat film. Persaingan untuk lolos pun sangat ketat. Tapi namanya takdir, saat hasil pengumuman diposting di akun Instagram official Aceh Documentary, muncul nama saya, dan itu membuat saya sangat senang serta bersyukur akan kelolosan ini.

Kami diinstruksikan untuk mengikuti proses basic training. Saat itu kami harus mengubah ide cerita dan itu membuat kami kesusahan dalam mencari ide cerita lain dan harus melakukan riset dari awal. Saya berkonsultasi dengan seorang alumni Aceh Documentary Junior 2015 yang juga siswi MAN Model Banda Aceh yaitu Nurhayatul Ulfa. Dia kemudian menyarankan untuk meriset tentang penyakit Thalasemia dan itu ternyata menjadi judul film yang kami angkat untuk difilmkan. 

Pada tahap berikutnya, kami diundang kembali untuk mengikuti in house taining. Dengan percaya diri kami membawa kisah tentang penderita Thalasemia dan berharap bisa membawa perubahan kepada si pasien. Ide cerita yang kami submit dan diterima. Di in house training, kami diberi pendidikan tentang cara menyusun naskah. Lanjut ke tahap berikutnya, kami mempelajari materi penyutradaraan serta teknik-teknik dalam mengoperasikan kamera, tentu saja belajar tentang editing film serta software-software-nya. Dari hasil riset, kami memilih judul “Setitik Asa dari Kita” untuk film ini.

Saat memasuki proses syuting, kami didampingi oleh seorang supervisi bernama Andri Syahputra, alumni Aceh Documentary Competition 2015. Andri mengajarkan bagaimana bersikap berani dan sopan dalam berkomunikasi dengan orang lain, proses mendekati narasumber, kepekaan terhadap isu dan keligatan mendapatkan momen. Perjuangan dari pagi hingga siang dan malam adalah sebuah pengorbanan demi proses produksi film yang kami ingin selesaikan. Tak dipungkiri kekecewaan, kesedihan, dan air mata turut serta dalam proses pengambilan gambar ini. Namun itu kemudian tergantikan saat nama kami dipanggil pada award night. Saya merasa masih bermimpi dan tidak percaya.

Saya sangat merasakan perubahan dari sebelum hingga setelah mengikuti Aceh Documentary Junior.  Sebelumnya saya hanya berteman dengan kawan-kawan yang sering muncul di lingkungan sekolah saya saja dengan sifat saya yang tidak terbuka terhadap lingkungan sosial di sekitar. Tetapi setelah mengikuti Aceh Documentary Junior ini saya terlatih untuk berani berkomunikasi kepada semua orang baik itu yang berhubungan dengan kedinasan/instansi pemerintah maupun lintas masyarakat dan profesi. 

Keberanian dalam menyikapi dan mengambil keputusan secara cepat, ketelitian dalam mencari informasi, sikap teguh pendirian, semangat yang tinggi, dan keahlian dalam mengelola emosi. Di Aceh Documentary, saya diajarkan tentang konsistensi dan komitmen atas pekerjaan. Kerja sama dalam tim, di mana kita harus saling percaya pada kemampuan orang lain, serta mengelola sifat ego dan keras kepala. Saya juga belajar bagaimana menerima kritikan dengan cara yang positif.

Aceh Documentary Junior sangat berkontribusi bagi pembentukan karakter dan proses berpikir kritis siswa-siswi di Aceh. Mereka memberi kesempatan dan kepercayaan kepada pelajar Aceh dalam mengembangkan  kreativitas dengan tema-tema yang bervariasi dan menarik dalam perfilman dengan mengangkat isu-isu terhangat di dalam masyarakat. Tema yang biasa dibawa oleh pelajar adalah menyangkut unsur tradisi, budaya, serta mengenai permasalahan sosial di Aceh. Aceh Documentary Junior juga menjadi pihak yang sangat besar pengaruhnya, mereka telah mencetak sineas-sineas muda dan mengenalkan karya pelajar Aceh ke nasional bahkan internasional. Sehingga karya-karya anak Aceh khususnya di dunia perfilman dapat bersaing dengan anak daerah lainnya di Indonesia. Jadi, apakah kalian masih ragu untuk ikut kompetisi Aceh Documentary Junior? Saya rasa kalian adalah orang beruntung selanjutnya yang akan menerima hal-hal besar di Aceh Documentary.[]

Rizkia Tarisa Putri, Alumnus Kompetisi Aceh Documentary Junior 2016

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK