Buah Manis Perjuangan Nurliza Mengadu Nasib sebagai Perawat di Kota Mekkah

Maulida Nurliza @ist

Pemilik nama lengkap Maulida Nurliza ini sudah 14 bulan bekerja di salah satu rumah sakit (RS) di Kota Mekkah, Jalan Ajiziyah ad 1 Privat Hospital, Arab Saudi. Kepergiannya menempuh jarak bermil-mil meninggalkan daerah asalnya Aceh Selatan, tidak lain karena impiannya yang ingin mencari pengalaman kerja ke luar negeri. Namun, pilihannya jatuh ke tanah suci Mekkah yang merupakan tempat tujuan muslim dalam melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu haji.

“Saya memilih bekerja di Arab Saudi, tepatanya di Kota Mekkah. Sebenarnya niat utamanya ialah untuk ibadah, kalau yang lain sih bonus. Jadi, dengan bekerja di sini akan lebih mudah untuk melaksanakan ibadah haji dan ibadah lainnya. Alhamdulillah, tahun lalu saya sudah melaksanakan ibadah haji. Doakan tahun ini juga lancar,” ujar perempuan yang akrab disapa Liza ini kepada aceHTrend, Rabu (24/7/2019).

Menurut Liza, untuk bisa bekerja di luar negeri cukup mudah, hanya butuh kemauan dan ketekunan yang kuat untuk mendapatkannya. Seperti dirinya yang lulus pada tes kedua saat diterima sebagai perawat di luar negeri. Pada saat tes pertama, Liza belum menamatkan sekolah profesi perawat (ners) dan belum melaksanakan ujian kompetensi (ukom) untuk perawat sehingga ia tidak bisa memenuhi sesuai persyaratan yang diminta.

Namun, niat perempuan kelahiran Lembang, 24 September 1993 ini tidak hanya berhenti di situ. Liza menyelesaikan sekolah ners-nya dan mengikuti ukom serta berhasil lulus ujian pada tes pertama. Dia pun langsung mengambil kesempatan kedua tersebut, melanjutkan niatnya untuk melamar pekerjaan sebagai perawat di Arab Saudi, meskipun persyaratan penting lainnya yaitu Surat Tanda Registrasi (STR) Perawat, belum ia terima. 

“Karena kesempatan kedua itu penempatannya di Kota Mekkah, makanya nggak mau disia-siakan. Padahal STR saya belum keluar karena kalau nggak ada STR sudah dipastikan saya gagal berangkat. Akhirnya saya ke Jakarta untuk mengurus STR dan langsung ke Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) pusat meminta agar STR saya bisa dikeluarkan lebih awal. Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan saya sehingga saya mendapatkan STR tersebut dan akhirnya jadi berangkat pada awal Ramadan tahun 2018,” ujarnya.

Liza membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk mempersiapkan persyaratan yang diminta sejak lowongan kerja di Arab Saudi itu dibuka. Menurut Liza, prosesnya cukup mudah karena tidak diminta nilai Test of English as a Foreign Language (ToEFL) atau Test of Arabic as a Foreign Language (ToAFL). Dia cukup mengikuti tes tulis dan wawancara yang dibuat oleh Biro Kerja Sama Luar Negeri (BKLN). Setelah dinyatakan lulus, ia pun mempersiapkan berkas yang diminta seperti ijazah, akte kelahiran, STR, surat keterangan sehat, dan izin dari orang tua. Setelah itu, Liza mendapatkan orientasi kerja oleh BKLN. Sesampainnya di Jeddah, Arab Saudi Liza pun juga mendapatkan pelatihan sebelum akhirnya dilepas bekerja sebagai perawat di Privat Hospital Kota Mekkah.

Bekerja di luar negeri, tentunya mempunyai hambatan tersendiri terutama terkait dalam budaya dan bahasa yang digunakan penduduk setempat. Hal itu, juga dialami Liza karena sebelum berangkat ke Mekkah, dia tidak sempat mempersiapkan diri les bahasa karena kesibukan coas semasa pendidikan ners.

“Untungnya saya penempatan di Mekkah yang umumnya pendatang dari luar, seperti India, Pakistan, Philipina, Bangladesh, dan Mesir. Jadi, nggak masalah kalau kita menggunakan bahasa Inggris. Namun, sesekali ada juga pasien yang orang Arab Saudi asli. Mau nggak mau sebagai perawat kita harus melayani pasien tersebut dan menggunakan bahasa mereka. Alhamdulillah, selama di sini saya nggak membutuhkan waktu lama bisa berbahasa Arab. Minimal untuk pengucapan yang umum bisalah karena sudah sering dengar, tapi yang paling susah bila ada pasien yang hanya bisa bahasa Urdhu. Jadi saya harus cari penerjemah dulu untuk mengetahui maksud yang disampaikan pasien.”

Tentunya pengalaman ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Liza, di mana ia menemukan banyak orang dari berbagi negara dan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada mereka. Liza sangat bangga menjadi seorang perawat karena dengan profesi itu dapat mengantarkannya ke Kota Mekkah dan bisa melaksanakan ibadah haji. Dia juga sangat beruntung menjadi perawat karena selain pekerjaannya yang mulia, yaitu merawat orang sakit, tapi profesi ini juga memungkinkan untuk bisa berkeliling dunia asalkan mau berusaha.

Dalam melaksanakan profesinya, Liza mengatakan tidak jauh berbeda dengan tugas perawat di dalam negeri. Hanya saja kalau di Mekkah, beberapa prosedur yang harusnya dikerjakan dokter, tidak diberi wewenang kepada perawat karena perawat mempunyai tugas mandiri yang berbeda dengan dokter. Sistem pembagian tugas pun juga jelas sehingga tidak ada tumpang tindih dengan profesi lain.

“Perawat di sini cukup dihargai sehingga tidak ada pembedaan dengan tim medis lainnya. Baik itu dokter, perawat, ahli farmasi, dan tenaga medis lainnya statusnya sama, tidak ada yang lebih tinggi satu dengan yang lainnya. Setiap profesi mempunyai tugas masing-masing dan harus bertanggung jawab terhadap tugasnya. Intinya saya merasa begitu dihargai sebagai perawat,” kata Liza yang merupakan alumnus dari Fakultas Keperawatan Unsyiah ini.

Untuk persoalan gaji, tentunya juga lebih besar dibandingakan di Indonesia. Menurut Liza, untuk sekitaran Mekkah gaji per bulan perawat rata-rata Rp10 juta. Namun, gaji perawat di sana juga bisa dinego sesuai dengan pengalaman kerja, bila perawat tersebut sudah mempunyai pengalaman kerja di luar negeri bertahun-tahun dan kerjanya bagus, bisa ditawar dengan gaji di atas Rp15 juta. Sedangkan untuk tempat tinggal disediakan oleh pihak rumah sakit tempat bekerja.

Mendapatkan pekerjaan yang diinginkan dan fasilitas yang membahagiakan, ditambah dengan bonus bisa beribadah di baitullah membuat Liza berat untuk meninggalkan pekerjaan ini. Namun, bekerja di luar negeri tidak untuk selamanya karena pada waktunya harus kembali ke tanah air.

“Untuk saat ini, saya ingin di sini dulu mencari ilmu dan pengalaman. Terutama karena tempat kerja sangat cocok dan dekat dengan rumah ibadah yang saya impikan. Kalau penghasilan, itu sih bonus sebagai persiapan untuk bekal pulang. Saya berharap nanti saat pulang bisa menjadi orang yang berdampak baik dan bermanfaat bagi banyak orang, mengingat kalau pulang sekarang dan bekerja di daerah cukup miris,” ungkap anak sulung dari empat bersaudara ini.

Sebelum bekerja sebagai perawat di Arab Saudi, Liza pernah bekerja sebagai perawat bakti di salah satu puskesmas di Aceh Selatan selama tiga bulan. Ia hanya dibayar sekali selama bekerja di sana, bahkan untuk keperluan bensin motor sehari-hari ke puskesmas harus dibiayai oleh orang tuanya. Atas dasar itulah Liza memutuskan untuk melangkah lebih jauh mencari pekerjaan lebih baik walau jauh dari orang tuanya.

“Malu rasanya sama orang tua kalau bekerja seperti itu, niat ingin meringankan beban justru menjadi beban orang tua. Penghasilan perawat masih di bawah standar, kecuali kalau yang sudah PNS, tapi kalau yang masih bakti atau honor, mending cari penghasilan lain dari pada bekerja di puskesmas. Kalau dengan standar keilmuan kita dibayar rendah, apa bedanya dengan orang yang tidak sekolah bahkan bisa menghasilkan lebih. Padahal untuk menjadi seorang perawat membutuhkan waktu 4 tahun kuliah dan 1 tahun profesi yang tentunya membutuhkan uang banyak. Sayang banget kan kalau hanya digaji ala kadarnya?” keluh Liza yang juga heran dan kasihan kepada perawat dan teman-temanya yang masih bertahan bekerja di puskesmas.

Pendidikan di Indonesia cukup mahal untuk profesi perawat, untuk memperoleh strata S1 butuh waktu 4 tahun paling cepat. Bila biaya satu semester untuk universitas negeri Rp4 juta, maka 8 semester Rp32 juta. Lain lagi uang masuk, uang pembangunan, praktik, dan beli buku serta biaya hidup. Bisa dihitung sendiri berapa biaya yang dibutuhkan.

Itu belum lagi biaya pendidikan profesi selama satu tahu, ditambah biaya ujian kompetensi perawat, biaya pembuatan Nomor Induk Registrasi Perawat (NIRA) dan biaya lainnya. Tentu tidak murah bukan? Itu hanya perhitungan kasar yang tentunya akan banyak lagi jumlahnya dan tak pantas bila dibandingkan dengan gaji perawat di Indonesia ala kadarnya.

Sebuah keputusan yang tepat diambil oleh Liza yang merupakan anak dari pasanganMuhammad Ali dan Syarifah Nura ini. Ia mampu mengkaji situasi tersebut dengan memilih bekerja di luar negeri, tepatnya di Arab Saudi karena begitu menghargai profesinya ini. Liza ingin pendidikannya yang mahal itu bisa berproses meningkatkan kualitas keilmuannya karena menurutnya tidak semua terbayarkan hanya dengan modal ikhlas saja.

Liza berharap ke depan agar dirinya bisa lebih produktif lagi dan mendapatkan kesempatan belajar melanjutkan pendidikan ke strata berikutnya. Kepada generasi muda Aceh, Liza berpesan supaya terus belajar dan mencari pengalaman ke mana pun, bahkan sejauh mungkin meninggalkan negeri. Namun, setelah itu kembalilah untuk negeri karena pada saat itu kita akan merasakan bagaimana rasanya rindu dan cinta yang begitu mendalam terhadap tanah air sendiri.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK