Perjamuan di Teuku Umar

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bertemu di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2019). - Istimewa

Oleh Muhajir Juli*

Masih di meja ini
Yang selalu ku datangi
Saat sakit ini
Rindu datang lagi
(Gigi Band)

Megawati bukan politikus biasa. Ia terlampau istimewa untuk disebut biasa saja dalam pentas politik Indonesia. Putri Putra Sang Fajar itu memiliki pengaruh dalam arus utama bangsa ini. Mega, perempuan yang coba dibungkam oleh Orba, dicintai di mana-mana. Hanya Aceh yang membencinya, atas kesalahan yang tidak sepenuhnya harus ia pikul.

Usai Pilpres 2019, Jakarta sempat berdarah-darah. Aksi brutal beberapa pihak yang ingin mengintervensi hasil pemilu menghasilkan sejumlah korban jiwa. Pemerintah dimaki-maki. Prabowo semakin diagungkan sebagai presiden rakyat, walau berkali-kali tumbang di perhelatan pemilihan umum. Narasi curang semakin massif dikembangkan. Hingga Mahkamah Konstitusi menolak seluruhnya gugatan Tim Hukum Prabowo-Sandi, hoaks terus ditebar bahwa Jokowi-Ma’ruf menang secara ilegal.

Polisi bekerja keras. Satu persatu dalang di balik rusuh Jakarta yang kegiatan demo dibalut dalam nuansa religi, dikuak. Aktor lapangan diringkus. Hingga kemudian muncul nama-nama penting di balik semua kericuhan itu.

Banyak purnawirawan mendadak menjadi jaminan untuk pembebasan seorang jenderal purna tugas. Mantan-mantan tokoh intelijen harus turun gunung untuk “menyelamatkan” Kivlan Zein, yang diduga berkontribusi besar dalam rusuh pasca pemilu.

***
Rabu “keramat”. Siang yang penuh tanya. Prabowo, 24 Juli 2019, bertandang ke kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Sebuah pertemuan penting. Mega menunggu momen itu dengan persiapan khusus. Ia memasak nasi goreng secara khusus.

Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan dalam pertemuan tertutup itu. Deal-deal politik memang bukan untuk dibuka ke publik. Publik hanya perlu tahu hasil akhir.

Sejatinya Mega dan Prabowo bukanlah musuh pasca tumbangnya penguasa otoriter nan kejam Soeharto. Mereka sempat berduet pada Pilpres 2009. Jauh sebelumnya, mereka juga bukan musuh. Keluarga Soekarno dan keluarga Soemitro setiap tahun menggelar pertemuan bersama.

“Bu Mega sama Pak Prabowo tuh kayak kakak-adik. Mereka tuh bersahabat, sangat bersahabat,” kata Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono.

***
Apa yang disampaikan oleh Arif, sesuatu yang tidak pernah dikatakan ketika kontestasi Pilres 2019 berlangsung. Kala itu, pemilihan umum kepala negara, “dioramakan” seumpama perang suci antara Islam dan kafir. Di luar kelompok Prabowo-Sandi, semua dicap sebagai penista agama, pelaku kriminalisasi ulama, pro aseng, agen komunis. Politikus Gerindra dan PDIP serta kelompok pendukung di belakang masing-masing terbelah menjadi seumpama perang Bharatayudha.

Itulah politik dan kekuasaan. Semua cara akan dihalalkan untuk mencapai tujuan. Usai kontestasi, yang kalah akan menghitung kerugian, yang menang menghitung potensi kerugian bila tidak merangkul tokoh utama “oposisi”. Ini bukan tentang agama dan agama. Ini tentang kekuasaan, kekuasaan, kekuasaan, kekuasaan.

Pertemuan Prabowo dan Megawati bukan rekonsiliasi. Karena tak ada luka antara keduanya. Perilaku bablas dan tak beradab hanya dilakukan oleh pendukung. Bukan oleh keduanya.

Politik tidak seperti air dan api.

Politik adalah seni.

Politik selalu memiliki koma, bukan titik.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK