Aceh Seperti Kapal Patah Kemudi

Khairil Miswar.

Oleh Khairil Miswar*

Dulu, dalam kontestasi pilgub pertama pasca MoU Helsinky pada tahun 2006 yang saat itu dimenangkan Irwandi-Nazar, salah satu spirit yang diembuskan pasangan itu adalah “tapuwo keulaji maruwah bansa njang dile meugah ban sigom donja.” Spirit yang kemudian dijadikan slogan ini bukan baru muncul pada tahun 2006 ketika perwakilan GAM pertama kali menempelkan pantatnya di tampuk kekuasaan. Tapi spirit itu sudah dikonstruk dengan sangat rapi melalui “indoktrinasi” selama puluhan tahun, ketika GAM masih diburu oleh aparat Republik.

Meskipun pelan dan perlahan, dukungan rakyat yang luas kepada GAM di masa perang dan beberapa saat pasca damai juga tidak terlepas dari spirit ini; spirit mengembalikan kejayaan Aceh di masa lalu. Saat itu GAM telah sukses membentuk imajinasi kolektif – bahwa nantinya Aceh akan merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Imajinasi tentang kemerdekaan, kemakmuran dan kejayaan ini kemudian memberikan harapan baru kepada rakyat Aceh melalui slogan lainnya: “Sibak rukok teuk.”

Jika slogan tapuwo keulaji maruwah bansa njang dile meugah ban sigom donja diinterpretasikan sebagai roman kerinduan akan kejayaan masa lalu – yang oleh karena itu harus dikembalikan seperti semula, maka slogan sibak rukok teuk dapat ditafsirkan sebagai “kehampiran” yang menandakan imajinasi dan realitas itu sama sekali tidak berjarak dan akan segera tercapai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sibak rukok teuk bukanlah penantian yang lama, tapi ia bagaikan tarikan napas. Sedemikian dekatnya.

Namun sayangnya setelah empat belas tahun MoU Helsinky yang oleh sebagian kalangan ditafsirkan sebagai kemerdekaan dalam bentuk yang lain, sibak rukok teuk belum juga “terbakar” sehingga maruwah bansa njang dile meugah ban sigom donja pun tak kunjung hadir di Aceh. Sampai saat ini ia masih terkurung dalam ruang imajinasi dan bahkan semakin jauh dari realitas. Jika pun kemegahan itu diyakini telah hadir, maka ia hanya sebatas kemegahan di lingkaran kuasa yang menemukan wujudnya dalam ruang berAC, mobil yang silih berganti, istri yang terus bertambah, gaji yang tak putus-putus; dan sesekali ditambah dengan fee proyek dan tour ke luar negeri. Dengan demikian slogan meugah ban sigom donja pun menyusut dan mengecil menjadi meugah sabe-sabe keudro.

Tanpa perlu melihat atau setidaknya “melihat-lihat” data statistik tentang bagaimana kondisi kemiskinan, pendidikan, pembangunan, kasus narkoba, pelecehan seksual dan hal-hal lainnya yang merupakan cerminan dari maruwah bansa, siapa pun akan tahu bahwa imajinasi yang dulunya digelorakan semakin jauh dari harapan. Padahal sudah hampir tiga periode Aceh berada di bawah kendali “orang-orang terbaik.” Bahkan di periode ketiga ini kita dihadapkan pada kondisi tak diharapkan, di mana Irwandi Yusuf yang berhasil memenangkan pertarungan kedua kalinya justru telah dipaksa “hijrah” dari pusaran kuasa dan meninggalkan wakilnya sehingga frasa Aceh hebat yang awalnya optimistik berubah menjadi frasa satire: “Hebat that kah, sapu han keumah.”

Oleh sebab itu tak perlu sok terkejut ketika misalnya tersiar kabar bahwa kemiskinan Aceh berada pada posisi “juara kelas” di tingkat Sumatera dan enam besar di tingkat nasional. Kita juga tidak perlu pura-pura heran ketika ada kabar bahwa kemiskinan Aceh mengherankan dunia, toh kita sangat menikmati keheranan itu. Keheranan yang telah menaikkan taraf kebahagiaan sehingga melahirkan kemiskinan yang membahagiakan.

Menyimak kondisi ini, tentunya tidak berlebihan jika kita menyebut bahwa Aceh saat ini tak ubahnya kapal yang patah kemudi. Akibatnya ia pun terapung di lautan lepas tanpa jelas ke mana akan menuju. Dalam keterapungan itu terkadang ia dihantam badai sehingga tubuhnya terguncang dan terancam tenggelam. Dalam kondisi itu biasanya nakhoda akan memberikan sugesti kepada penumpang untuk tetap tenang bahwa badai akan segera berlalu dan “kita akan segera berlabuh.” Sama halnya seperti sugesti Plt Gubernur kita beberapa waktu lalu bahwa kebun sawit tidak merusak lingkungan.” Kalimat itu tidak bisa dipahami secara literal, tapi harus ditempatkan dalam konteks satire bahwa kondisi sebenarnya adalah lingkungan yang justru merusak kebun sawit.

Demikian pula dengan informasi yang menyebut daya serap anggaran di Aceh sedemikian lemah sehingga terjadinya SiLPA, juga harus dipahami dalam konteks keagungan Aceh yang meugah ban sigom donja bahwa “uang sisa” itu adalah tabungan dalam bentuk yang lain demi mengamalkan hadih maja: “Peng siribe tinggai seureutoeh.” Hadih maja ini mengajarkan kita agar tidak boros dalam berbelanja; bahwa jika kita memiliki uang seribu, maka yang patut dibelanjakan adalah sembilan ratus, sedangkan seratus lagi harus tinggai sebagai simpanan – yang dalam terminologi modern disebut SiLPA.

Nah, jika memang demikian, lantas apa yang tersisa dari perjalanan Aceh pasca damai yang kononnya akan meugah ban sigom donja? Mungkin hanya imajinasi!

Bireuen, 24 Juli 2019.

*)Penulis adalah guru sekolah rendah.

KOMENTAR FACEBOOK