Menghalau Cina Pakai Islam, Masihkah Ampuh?

Affan Ramli*

Tun Mahathir, Perdana Menteri Malaysia mengejutkan banyak analis politik regional. Tadinya diramal, Malaysia di bawah kepemimpinannya akan menarik jarak dari Cina. Sebagai bentuk koreksi atas kebijakan ekonomi pro-Cina Najib Razak yang ia gulingkan dalam Pemilu pertengahan 2018. Ini penanda baik bagi Amerika, pesaing utama Cina berebut pengaruh di kawasan Asia Tenggara. Rupanya nujum meleset, Mahathir mempertegas, Ia lebih suka Cina ketimbang Amerika Serikat.

Sikap Mahathir tampaknya mewakili tren negara-negara Asia belakangan. New York Times melaporkan setiap negara Asia sekarang dua kali lebih banyak berdagang dengan Cina daripada Amerika. Pada kasus Asia Tenggara, negara-negara sekutu penting Amerika, seperti Filipina, Malaysia, dan Indonesia kini mengubah posisi mereka. Lebih condong kepada Cina dengan pola relasi yang lebih mutualistik. Tak kira negara-negara sekutu tradisional Tiongkok, seperti Laos, Kamboja, dan Myanmar. Negara-negara ini membeli senjata lebih banyak dari Cina ketimbang Amerika.

Cina mengakhiri dominasi Amerika di kawasan Asia Tenggara. Setidaknya dalam persaingan ekonomi. Kepanikan meningkat di Washington, bila dominasi ekonomi dikapitalisasi jadi kekuatan dominasi politik dan keamanan Asean. Tidak dapat dipungkiri, pemilu terakhir di Filipina, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia dimenangkan oleh orang-orang yang welcome dengan kepemimpinan Cina di kawasan ini. Dalam artikelnya di Asia Time, Richard Javad Heydarian menyebut Cina sebagai pemenang geopolitik terbesar di Asia Tenggara.

Respon panik Amerika lebih terasa ketimbang adu strategi jitu. Pengaruh Cina dihalau dengan beberapa propaganda. IMF menakuti negara Asean bakal terjerat hutang dan diperbudak Cina. Militer Amerika mengatur tensi ketegangan di perairan Laut Cina Selatan. Ormas-ormas ekstrimis Islam disetir kembali menyebar ketakutan kebangkitan komunisme Cina dalam masyarakat muslim Asean. Dan media-media massa Barat intensif membombardir publik dengan informasi penindasan kaum muslim Uighur oleh pemerintah Cina.

Dua isu terakhir adalah cara mengadu Cina dengan kekuatan Islam kawasan. Strategi lama ini coba diulangi lagi. Meski kegagalannya sudah diketahui sejak awal. Survei yang dilakukan Saiful Mujani Reseacrh & Consulting (SMRC) terhadap 1.220 responden pada tahun 2017, membuktikan 86,8 persen masyarakat Indonesia tidak percaya dengan kebangkitan komunisme di Indonesia.

Sebuah media independen berbasis di Kanada, Centre for Research on Globalization melaporkan kegagalan media-media mainstream Barat mempengaruhi opini publik seputar penindasan Muslim Uighur. Sejak rombongan diplomat dan jurnalis diberi kesempatan mengunjungi pusat-pusat pendidikan dan pelatihan di Xinjiang -lokasi yang dituduh sebagai kemp konsentrasi pemenjaraan sejuta muslim Uighur oleh Pemerintah Cina- isu ini telah berhasil dipatahkan.

Pada bulan ini, Duta Besar 37 negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan surat tandingan atas kecaman terhadap perlakuan Cina kepada Muslim Uighur yang sebelumnya dilayangkan 22 perwakilan negara Eropa dan sekutu Barat. Sebagian besar dari 37 negara pendukung Cina adalah negara-negara Muslim. Di Indonesia, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, minggu lalu menjamin berita diskriminasi dan kekerasan terhadap etnis Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang tidak valid. Itu Hoaks. Aqil Siradj sudah mengunjungi Xinjiang dan mengamati sendiri kondisi Muslim Uighur sebenarnya.

Pengaruh Cina di negara-negara Muslim makin tak terbendung. Setengah abad lalu, kondisi semacam ini tak bikin Amerika pusing. Lawan-lawan dapat dipukul mundur menggunakan tangan kelompok-kelompok ektrimis Islam. Seperti pengakuan Hillary Clinton saat diwawancarai reporter Fox News, Greta Van Susteren. Amerika, kata Hillary, membentuk kekuatan-kekuatan mujahidin, mempersenjatai mereka berperang melawan Uni Soviet di Afghanistan. Dalam level proksi yang berbeda, Nahdatul Ulama dan Ormas Islam lainnya di Asia Tenggara pernah bekerja menghalau pengaruh komunisme Cina tahun 60an. Sukses melayani kepentingan Amerika.

Kondisi sudah berubah. Ormas-ormas Islam terbesar, seperti NU dan Muhammadiah hari ini tumbuh dengan kecerdasan geopolitik tajam. Kaum intelektual yang mengendalikan NU hari ini menyadari dosa generasi tua mereka, lugu menghadapi kontestasi kekuatan liberalisme Amerika dan komunisme Cina di Asia Tenggara. Keluguan geopolitik paling tragis, memudahkan Amerika menggunakan sentimen Islam memukul remuk pesaing geopolitiknya di kawasan. Berakhir pada peremukan kekuatan rakyat kita sendiri. Tapi Keluguan itu sudah tamat.

Di Indonesia, ketangguhan ormas-ormas besar Islam cerdas geopol ini mengunci ruang gerak kelompok-kelompok mujahidin jaringan “Islam garis keras”. Saat ini tak ada opsi lain, jaringan “radikalisme” merupakan satu-satunya kekuatan Islam Asia Tenggara paling bersetia jadi alat tarung ekonomi politik dan geopolitik Amerika. Ini mudah dipahami. Mengingat induk sekaligus sumber pendanaan “Islam radikal” dunia, Arab Saudi merupakan sekutu kunci Amerika mengontrol semua kawasan hunian muslimin, dari Afrika Utara, Asia Barat, Asia Selatan, sampai Asia Tenggara.

Di Asia Tenggara, orientasi politik “Islam radikal” secara umum ditandai dengan dukungan pada ide khilafah. Dilanjutkan dengan kampanye delegitimasi negara-negara modern berbasis kebangsaan dan semi-sekuler. Ide khilafah punya dua model, model Hizbut Tahrir dan model ISIS. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, kelompok-kelompok mujahidin di berbagai negara Asean lebih banyak berbaiat kepada khalifah ISIS ketimbang Hizbut Tahrir. Seringkali baiat dilakukan terbuka. Seperti kelompok Moute dan Abu Sayyaf di Mindanau, Filipina. Kelompok Wolf pack di Malaysia. Terbanyak di Indonesia, seperti Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Tauhid Wal Jihad (JTWJ), Darul Islam Ring Banten (DI Ring Banten), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan Forum Aktivis Syariat Islam (FAKSI). Abu Bakar Basyir pula disinyalir telah berbaiat kepada ISIS.

Jaringan mujahidin “Islam garis keras” ini dapat dimobilisasi Amerika, setiap kali diperlukan menghadapi pengaruh Cina di kawasan ini. Persis dengan pola serupa mengalahkan Soviet di Afghanstan, menyerang poros perlawanan Iran di Asia Barat, dan mengalahkan faksi-faksi politik anti-Amerika di Afrika Utara. Dalam kasus Asia Selatan dan Afrika Utara, pola ini ampuh. Tapi kurang teruji pada medan Asia Barat dan Asia Tenggara.

Secara bergelombang, isu ketakutan pada hantu komunis dan tirani Cina mendiskriminasi komunitas Muslim di negara Tirai Bambu itu terus beralunan didengungkan. Harap hati dapat mencoreng citra Cina dan mengendorkan pengaruhnya di Asean. Faktanya menyakitkan. Menghalau Cina memakai sentimen Islam sudah tak berguna. Paling banter, diterima sebagai berita gembira di kelompok-kelompok Islam ekstrimis, dan disebarluaskan di komunitas-komunitas sesama mereka.

Benar belaka sabda Mahathir. Cina tetangga kami 2000 tahun, kami tak pernah ditaklukan. Bangsa Eropa (kini menguasai Amerika) datang ke kawasan ini 400 tahun lalu, lansung menjarah kekayaan alam kita. Bukankah tidak ada seperempat alasan pun kami menggundahkan dominasi Cina di kawasan ini.

*)Penulis adalah pengamat geopolitik.

Sumber foto: www.artileri.org.

KOMENTAR FACEBOOK