Plt Kepala BPMA: Fasilitas Fabrikasi Industri Migas Baru Ada di Batam

Azhari Idris, Plt Kepala BPMA. Foto: aceHTrend/Muhajir Juli.

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Sejak dilantik sebagai Plt Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Azhari Idris langsung digoyang dengan berbagai tudingan. Mulai dari “ejekan” karena dia sarjana pendidikan, hingga dituding tidak berpihak kepada Aceh karena peralatan pengeboran dipabrikasi di Batam.

Ditemui di ruang kerjanya di kawasan Lampineung, Banda Aceh, Selasa (16/7/2019) Azhari Idris mengatakan membangun fasilitas fabrikasi untuk keperluan perusahaan migas tidaklah murah. Investasinya besar dan harus berkelanjutan. Di Indonesia baru Batam yang menyediakan fasilitas tersebut. Batam bukan saja melayani kebutuhan perusahaan migas di Indonesia yang jumlahnya sekitar 200, tapi juga melayani kebutuhan perusahaan yang bekerja di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Azhari Idris, Dari Chevron ke BPMA

Alumnus University of York Inggris tersebut menjelaskan, bila Aceh melakukan pembangunan anjungan lepas pantai ke depan dengan jumlah produksi besar, akan sangat mungkin pebisnis membangun fasilitas pendukung perminyakan di Aceh.

Saat ini masih masa explorasi dan kegiatan pengeboran hanya berlangsung maksimal 6 bulan, setelah itu perusahaan akan berhenti berkegiatan, bisa 3-5 tahun hingga kegiatan produksi dilakukan. Ketika kegiatan produksi besar akan dilakukan, saat itulah kebutuhan fasilitas pendukung migas seperti fasilitas fabrikasi dan maintenance akan dibutuhkan.

Dengan demikian, tentu investor akan berinvestasi karena masa produksi biasanya antara 20-30 tahun. “Nah saat ini sedang eksplorasi mencari-cari dan belum tentu akan berhasil. Karena itu belumlah ekonomis bila harus membangun fasilitas fabrikasinya di Aceh. Tidak akan ada investor yang bersedia. Karena pihak yang akan bermitra tentu sangat minim,” jelas Azhari.

Baca juga: Memotong Comfort Zone Pegawai BPMA

Dia juga menjelaskan, walau menjadikan Batam sebagai tempat fabrikasi, bukan berarti BPMA mengabaikan Aceh sama sekali. Untuk semua bahan yang sudah diolah dan dirakit di Batam, kemudian akan dibawa ke Pelabuhan Pelindo di Lhokseumawe. Mengapa Pelindo? Karena di sana semua fasilitas pendukung sudah tersedia.

Pun demikian, BPMA sudah membangun komunikasi dengan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) untuk mempersiapkan pelabuhan yang bisa menunjang kebutuhan fabrikasi peralatan pengeboran perusahaan migas yang beroperasi di Aceh.

Baca juga: Azhari Idris: BPMA untuk Genjot Industri Hulu Migas di Aceh

“BPMA akan mengedukasi BPKS tentang itu. Mereka harus diberitahu fasilitas apa saja yang dibutuhkan, juga model pelabuhan yang bagimana harus dibangun untuk mendukung tujuan besar tersebut,” ujar Azhari.

Azhari sangat serius menjadikan Sabang sebagai marine logistic suplly base. Untuk menunjukkan keseriusannya, ia sudah beberapa kali duduk dengan BPKS membicarakan tentang konsep membangun pelabuhan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan fabrikasi alat pengeboran migas di Aceh. []