Transformasi Wajah Kepulauan Banyak

Oleh Muhajir Al-Fairusy*

Penghujung era 80-an, saat cengkeh dan karet mulai banyak mati, sebagian besar penduduk Kepulauan Banyak (baca: Pulo Banyak) mulai mengonversi mata pencaharian mereka menjadi palawik (nelayan). Kondisi ini juga ditandai berakhirnya hubungan dagang dan relasi ekonomi dengan Sibolga sebagai sentra ekonomi penting era kolonial Belanda, yang telah berlaku ratusan tahun sejak masyarakat mulai ada di kepulauan ini.

Keberadaan Sibolga sebelum jalur ke Singkel dibuka menjadi sangat penting bagi Urang Pulo, karena seluruh aktivitas ekonomi dan kebutuhan bahan pokok dipasok dari sana. Karena itu, eksistensi Melayu pesisir Sibolga telah ikut mempengaruhi corak dan kultur kehidupan Urang Pulo kemudian hari terutama bahasa. Kini, seluruh aktivitas ekonomi Pulo Banyak beralih ke daratan Singkel dan Medan-Sumatera Utara sebagai pemasok ikan terbesar ke dua kawasan ini. Melimpahnya produksi ikan di Pulo Banyak dipengaruhi oleh masih stabilnya keberadaan terumbu karang. Bahkan, menurut seorang nelayan di sana, era 90-an, mereka bisa dua kali melaut dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan pasar ikan di Medan. Namun, sejak terumbu karang banyak rusak, dan penggunaan alat tangkap yang bersifat eksploitasi oleh segelintir pemodal muncul, produksi ikan menurun dan melemah. Pun demikian, masih banyak palawik yang masih terus bertahan dengan pekerjaan ini dengan produksi yang cukup.

Dalam satu dekade terakhir ini, perlahan tapi pasti wajah Kepulauan Banyak sedang bertransisi dari kampung nelayan ke kawasan wisata. Eksotisme pantai di jejeran pulau-pulau yang berserak di kawasan Kepulauan Banyak sudah lama menarik minat wisatawan mancanegara. Tahun 2011 saja, saat pertama sekali saya menginjak kaki ke Pulo Banyak puluhan turis asing saban hari membanjiri kawasan ini. Mereka datang dari Medan menuju Singkel, selanjutnya menyeberang ke Pulo Banyak menggunakan kapal boat, speed boat, atau kapal feri yang berangkat terjadwal.

Salah satu view Pulau Banyak. Foto: Muhajir Al Fairusy.

Saya sendiri setiap ke Pulo Banyak selalu memiliki kesempatan bertemu dengan turis asing, umumnya mereka datang dari Eropa dan sebagian Amerika. Informasi tentang Pulo Banyak umumnya mereka peroleh dari media sosial. Minggu lalu saja (28 Juni 2019) saat akan kembali menyeberang ke Pulo Banyak, satu keluarga dari Spanyol dan rombongan dari Republik Ceko tampak memenuhi kapal boat yang akan menyeberang ke sana. Antusiasme pengunjung mancanegara terutama dari daratan Eropa menunjukkan Pulo Banyak akan menjadi destinasi wisata bahari strategis kemudian hari. Apalagi, kawasan ini diapit oleh dua provinsi langsung (Sumatera Utara dan Aceh).

Eksotisme Pulo dan Eksistensi Orang Luar

Tidak ada data pasti identitas siapa dan berapa orang turis dan pelancong mancanegara yang berkunjung ke Pulo Banyak saban hari. Dapat dipastikan, setiap hari ada saja wajah “bule” yang berkunjung ke pulau paling ujung di perbatasan Aceh ini. Mereka biasanya terlihat berjalan-jalan kaki di kawasan dermaga Kota Singkel sebelum menyeberang ke Pulo Banyak. Umumnya, turis asing ini datang langsung dari Medan, setelah terbang selama hampir 30 jam dari negara asal, lalu transit di Kuala Lumpur dan Kuala Namu, selanjutnya menuju Singkel.
Dibanding Medan, perjalanan paling jauh hingga tiba di Kepulauan Banyak membutuhkan waktu hampir 18 (delapan belas) jika dilakukan dari Provinsi Aceh. Jarak ini memang tergolong amat jauh bagi pengunjung yang berangkat dari Banda Aceh. Karena itu, rute lewat Medan menjadi pilihan utama yang hanya membutuhkan waktu tujuh hingga delapan jam perjalanan darat ke Singkel, dan menambah tiga jam berikutnya melalui laut. Karena itu, keberadaan Pulo Banyak sejatinya amat menguntungkan pihak Sumatera Utara dibanding Aceh. Apalagi, tak ada kesiapan matang dari Provinsi Aceh mendorong kunjungan ke sana dari Aceh, terutama seperti pembehanan bandara Singkel.

Selain itu, kunjungan dan kedatangan orang luar ke Pulo Banyak sudah lama dimulai, bahkan salah satu nama tempat di Pulo Banyak disebut “Ujung Amerika,” berdasar cerita masyarakat tempatan, karena dulu di sana sempat dihuni oleh pengunjung dari Amerika. Pascatsunami, mereka meninggalkan kawasan tersebut, namun nama “Ujung Amerika” masih melekat hingga sekarang. Bahkan, di era kolonial Belanda, Pulo Banyak menjadi salah satu kawasan penting bagi mereka. Singkel masuk dalam wilayah Onderrafdeeling (Kewedanan) yang dikepalai oleh Controleur, kewedanan ini membawahi empat Landschap (Kecamatan) yaitu Singkil, Pulau Banyak, Simpang Kiri dan Simpang Kanan yang masing-masing kecamatan dikepalai oleh Zelfbestuurder (Camat) yang juga membawahi empat kemukiman. Kondisi ini menunjukkan eksistensi orang luar lebih mengakar dibanding fenomena mencuatnya eksotisme Pulo Banyak dalam satu dekade terakhir.

Senjan di salah satu sudut Pulau Banyak. Foto; Muhajir Al Fairusy.

Eksotisme Pulo Banyak kini teruji lewat pengalaman turis dan pengunjung lokal. Sebagian besar pantai pulau-pulau di sana amat menawan, tidak berlebihan jika pujian keindahan membanjiri pulau ini. Kata-kata pengakuan beberapa turis seperti “…its paradise, no island,” serta semakin tinggi minat turis datang kembali lagi ke sana menunjukkan kekaguman mereka pada tempat ini.

Apalagi, sebagai gugusan pulau di kawasan tropis, keindahan Pulau Banyak diperkaya dengan tanaman tropis, seperti pohon kelapa yang menjulang tinggi, bunga-bunga laut, kian menambah daya tarik pengunjug saat dilihat dari radius beberapa meter. Tak pelak, kekaguman pengunjung juga diekspresikan dengan memberi julukan beragam terhadap eksotisme Pulau ini, seperti “Raja Ampat-Sumatera,” dan lainnya yang berafiliasi pada rasa kagum.

Hamparan jejeran pulau di sana yang terkesan ‘banyak,’ menjadi indikasi nama wilayah tersebut dinamai “Pulo Banyak” (banyak pulau) oleh masyarakat tempatan. Konon, dari informasi masyarakat, terdapat hampir 99 (sembilan puluh Sembilan) jumlah pulau dan interinsuler yang tersebar di wilayah Kepulauan Banyak. Angka yang diidentikkan dengan sifat dan nama-nama Tuhan dalam Islam (Asmaul Husna). Simbol ini menunjukkan keterkaitan dengan kepercayaan religi masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam. Meskipun, jumlah keseluruhan pulau tidak sebanyak itu.

Berdasar keterangan masyarakat setempat, beberapa pulau bahkan telah tenggelam sejak tsunami menerjang Aceh tahun 2004 dan gempa Nias tahun 2006. Hamparan kepulauan di sana memiliki ukuran luas yang berbeda-beda, ada yang begitu luas dan terlalu kecil. Bahkan, ada pulau yang hanya nampak permukaan pasir saja dan hanya dapat dilihat dalam hitungan jam saat air laut surut.

Wisata & Tantangan bagi Lokal

Transisi wajah Kepulauan Banyak akan membawa banyak perubahan ke depan. Persentuhan dengan dunia luar dipastikan berdampak luas terhadap struktrur dan kultur masyarakat. Pun demikian, sejauh ini, perubahan ke arah wisata ikut disikapi oleh elit kampung di sana, dengan memanfaatkan dana gampong membangun beberapa pulau seperti Pulo Panjang berbasis BUMDes sebagai tujuan wisata. Berperannya elit kampung sebenarnya bagian dari upaya membendung masifnya pemodal luar yang ikut melirik Pulo Banyak sebagai potensi keuntungan dalam pasar wisata. Jika dulu, sebagian besar penginapan dimodali oleh pihak luar, peran elit gampong dengan dana desa perlahan mulai menandingi dan menggeser kuasa pemodal luar. Kini, sebagian tempat wisata dibangun atas nama desa bersifat komunal yang keuntungannya juga untuk desa.

Munculnya nama Pulo Banyak dalam peta sebagai salah satu tujuan wisata dalam banyak laman media sosial yang kian menggempur kehidupan umat manusia bukan berarti tak ada persoalan. Keberadaan sampah adalah masalah utama yang dihadapi oleh Pulo Banyak sejak lama. Meskipun kini kesadaran terhadap sampah mulai digaungkan secara massif oleh sebagian aktivis lingkungan yang berkunjung ke Pulo Banyak. Terbatasanya tempat pembuangan akhir sampah menjadi kendala, di samping kebiasaan sebagian urang pulo yang masih melihat laut sebagai tempat pembuangan akhir. Pemandangan melempar kantong plastik ke laut, dan banyaknya sampah di area laut sekitar pemukiman penduduk Pulo Banyak masih menjadi pemandangan dengan segudang persoalan di sana. Tentu, butuh keseriusan dengan seabrek aturan lokal untuk mengubah perilaku ini. Apalagi, pesatnya pengunjung saban tahun akan kian menambah tumpukan plastik jika tak diatur dengan aturan lingkungan yang ketat.

Muhajir Al Fairusy. Antropolog Aceh.

Selain itu, beberapa kendala mewujudkan Pulo Banyak sebagai kawasan wisata yang layak tampaknya belum disahuti serius oleh Pemerintah Singkel selain upaya menciptakan festival dan ritual perayaan even budaya di sana sebagai bentuk pormosi. Terbatasnya transportasi, dan kebijakan-kebijakan yang membawa Pulo Banyak ke arah yang destinasi wisata berbasis lokal belum dilakukan maksimal. Bahkan, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Budaya (SDB) lokal sejauh ini belum mendapat sentuhan. Sebut saja tindakan strategis menyiapkan generasi muda Pulo Banyak melek bahasa Inggris, untuk menghadapi serbuan kunjungan wisatawan yang selama ini justru banyak menguntungkan guide luar. Selain itu, promosi kuliner dan kerainan lokal sebagai bentuk komodifikasi juga tak mendapat perhatian serius. Padahal, melalui dinas terkait, kesiapan menghadapi perubahan wajah Pulo Banyak harus terus digenjot. Bukankah selama ini, Kabupaten Singkel “banyak diuntungkan” dengan keberadaan salah satu kawasan ini (Pulo Banyak). Maka, perhatian untuk Kepualaun ini juga harus “banyak-banyak” dilakukan.

*)Mahasiswa Doktoral Anthropologi UGM & Peminat Studi Perbatasan Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK