Aceh Troe, Teuga & Hebat

Oleh Muhajir Juli*)

Seorang lelaki muda berkacamata masuk ke dalam sebuah warkop. Dua lelaki yang sudah duluan di sana, menguluk senyum. Salah seorang di antara mereka berkata: “Dia itu luar biasa. Masih muda sudah lulus doktoral dan dipercaya sebagai dekan kampus Universitas Alam Terbuka (UAT).”

“Benar, dia adalah aset bangsa ini. Di tangannya anak-anak bangsa digembleng menjadi generasi hebat,” timpal teman di sampingnya.

Hari itu adalah Minggu. Orang Aceh tidak meninggalkan warung kopi sebagai tempat berinteraksi utama. Lelaku yang masih diteruskan dari generasi ke generasi.

Aceh, kala itu bukan lagi negeri yang surplus “ahli” tapi telah berubah menjadi daerah penting yang pola pikir masyarakatnya sudah menerapkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Tidak ada yang merasa mampu melakukan semuanya. Tidak ada yang merasa paling benar. Tidak merasa sebagai paling ahli. Semua menganggap diri masih harus terus belajar. Semua merasa diri membutuhkan persatuan untuk memajukan daerah. Semua orang merasa bahwa semua orang memiliki keunggulan di bidang masing-masing.

Tidak ada makian. Tidak ada ejekan. Tidak ada yang menaruh racun dalam kopi teman semeja. Tidak ada yang saling agitasi untuk melengserkan teman dari posisi penting, kemudian menempatkan orang lain yang bisa diajak kolusi.

Aceh kala itu sudah berhubungan dengan dunia luar. Sayur mayur produksi Aceh dikonsumsi masyarakat dunia. Ikan segar dari Aceh dijual di semua swalayan besar di se antero benua. Anak-anak Aceh menjadi diaspora yang penting dalam pergaulan dunia.

Aceh menjadi negeri yang penting. Bandar-bandarnya bersandar kapal para niagawan dan wisatawan.

Manusia di seluruh dunia ada di Aceh. Mereka berniaga, bekerja dan juga berwisata. Aceh bergerak 24 jam. Tak ada jeda untuk berhenti. Tak ada waktu untuk mengupat orang lain.

Warung kopi sebagai warisan budaya, telah mengubah diri menjadi pusat kuliner antar bangsa, menjadi tempat bertemu untuk merajut silaturahmi. Tempat untuk membicarakan gagasan baru yang berguna bagi bangsa.

Gubernur, bupati, rektor, kepala dinas dan pejabat-pejabat penting lainnya mudah ditemui. Tak ada yang meminta modal usaha kepada mereka. Mereka ditemani oleh rakyat untuk sekedar minum kopi bersama sembari membincangkan apa yang harus dilakukan Aceh, agar semakin diakui sebagai daerah yang berhasil membangun diri dan berguna untuk masyarakat dunia.

Aceh penyuplai angkatan kerja penting ke seluruh dunia. Aceh daerah kaya di Asia Tenggara, Aceh pusat transit bisnis dunia. Aceh tempat belajar Islam ternama.

Kala itu Aceh telah hebat, teuga, troe, asoe syuruga, dan sebagainya.

Tapi saya tidak tahu, entah kapan itu akan tiba masanya.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK