Haram Baca Buku

Ilustrasi pembakaran buku. iStockphoto/Getty Images.

Oleh Muhajir Juli*

Dulu–saya tidak tahu kapan dimulai– banyak penceramah hingga tukang jual obat keliling, mewanti-wanti orangtua siapa saja, agar tidak mengantarkan anaknya ke sekolah umum. Karena –menurut mereka– anak-anak yang disekolahkan di lembaga pendidikan umum, kelak akan menjadi kafir.

Dulu, banyak penceramah dan juga penjual obat keliling, mengharamkan baca buku. membaca buku, apalagi mengambil ilmu dari buku, merupakan sesuatu yang tidak halal dilakukan. Karena dianggap buku bukan kitab. Juga buku bukan manusia. Sehingga siapa saja yang membaca buku dan kemudian mengambil ilmu dari buku itu, dianggap belajar pada setan. Membersamai setan, jangankan berguru, berteman saja dilarang.

Aceh, setidaknya memiliki dua fase abjad. Yaitu Arab dan Latin. ketika era kejayaan Kesultanan Islam di Syumutrah, banyak orang Aceh yang mampu membaca dan menulis dengan menggunakan abjad Arab. Mereka buta sama sekali pada huruf Latin yang diperkenalkan kemudian oleh orang-orang Eropa.

Dulu, “kitab-kitab” yang dipelajari oleh orang Aceh ditulis dalam bahasa Melayu menggunakaan huruf hijaiah. Bahkan, menurut cerita orang dulu, semua hal yang berkaitan dengan literasi, semuanya ditulis dalam bahasa Arab Jawi, mulai dari “kitab” hingga surat penagihan utang, sampai surat cinta yang isinya penuh puja-puji kepada lawan jenis.

kala orang Eropa berhasil masuk ke Aceh dan kemudian menguasainya, pelan-pelan eksistensi Arab Melayu pun pudar. Sekolah yang didirikan oleh bangsa Eropa menggunakan huruf Latin. Buku-buku pun didatangkan dari luar. berpuluh-puluh tahun kemudian, seiring dengan kekalahan pribumi, huruf Latin pun berhasil mengalahkan huruf hijaiah.

Kemenangan huruf Latin, bukan hanya di Aceh, tapi di seluruh dunia. Semua hal kemudian ditransfer dalam bentuk huruf Latin, termasuk kitab-kitab yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, yang semuanya menggunakan Latin.

***
Kebencian terhadap sekolah umum, kebencian terhadap huruf latin, pernah membawa Aceh ke zaman kegelapan. Aceh yang tertinggal dan rakyatnya yang penuh ketakutan. Kala itu, di tiap desa nyaris tak ada sarjana. Lulus SMA pun bahkan tak ada. Satu dua lulus SD. Mereka kelak dipercaya sebagai pemuka masyarakat karena tidak buta huruf, walau wawasannya sangat terbatas.

Era kegelapan itu, orang Aceh terisolir dalam kejumudan, terhipnotis dengan cerita-cerita tak masuk akal dan terkadang bertentangan dengan ilmu tauhid. Pemujaan terhadap sosok personal yang dilebih-lebihkan. Bahkan cerita-cerita tentang kekeramatan seseorang, bahkan bisa melampaui mukjizat Rasul Allah.

Di tengah kebencian terhadap buku, kebencian terhadap sekolah, semua cerita-cerita itu dipercaya begitu saja. Tak ada yang membantah. Tak ada yang berani mengkritik.

Orang Aceh–di era itu- hidup dalam delusi tak berujung. Merasa diri sebagai bangsa paling mulia. Bangsa paling beriman dan bangsa paling Islam di muka bumi. Itu hanya pengakuan keakuan yang tidak diakui oleh orang di luar Aceh. Karena tidak ada orang Aceh di berbagai belahan dunia, yang menjadi tokoh penting, yang memiliki pengaruh penting.

***

Saya pernah ditanya, apakah orang Aceh masih diharamkan membaca buku? Apakah masih diharamkan bersekolah di lembaga pendidikan umum?

Bila melihat angka statistik, tentu Aceh mengalami lompatan besar. Lembaga pendidikan umum bahkan elite, tumbuh bak jamur di musim hujan. Buku-buku beraksara Latin memenuhi ruang toko buku dan pustaka.

Dengan kondisi demikian, Aceh berhasil melompati dirinya. Tapi belum mampu melompati peradaban dunia. Ketika warga di belahan dunia maju sudah mampu terhubung dengan komunitas di luar mereka untuk kepentingan bisnis, di Aceh masih berkutat pada aktivitas saling menjegal satu sama lain.

Sibuk membuat larangan-larangan tak substansial. Membatasi pergerakan orang-orang kecil. Tapi segera ciut nyali ketika berhadapan dengan orang-orang berpangkat.

Di Negeri Bawah Angin, kita menjadi bangsa narsis yang merasa paling unggul. Padahal masih tertinggal puluhan tahun dari orang lain.[]

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK