Rektor Unsyiah Sampaikan Kriteria Ideal Calon Pimpinan DPRA

Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal (kemeja putih) dan Kepala Atsiri Research Center Unsyiah Syaifullah Muhammad @ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Samsul Rizal,M.Eng., mengatakan ada beberapa kriteria yang patut dipertimbangkan partai politik ketika menunjuk kadernya sebagai pimpinan DPRA.

Kepada aceHTrend, Selasa (30/7/2019) Samsul Rizal mengatakan kriteria yang harus dimiliki oleh calon pimpinan DPRA, track record bagus, memiliki pengalaman di pemerintahan, mengerti hukum, serta mampu membangun komunikasi dua arah. Juga mampu mensinergikan antara misi partai dan misi kesejahteraan rakyat.

Rektor menjelaskan, ke depan tantangan Aceh semakin besar. Dengan dana APBA terbesar di luar Jawa–kecuali Kalimantan Timur– Aceh belum mampu lepas sebagai daerah pemegang peringkat pertama termiskin di Sumatera dan nomor enam untuk seluruh Indonesia.

Di sisi lain indeks sumber daya manusia juga bermasalah. Kualitas lulusan SMA di Aceh berada pada peringkat 26 se Indonesia.

“Besarnya APBA, karena ditopang oleh Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Ini tidak akan lama lagi. Sehingga bila Aceh gagal keluar dari persoalan-persoalan pembangunan, ke depan akan lebih sulit lagi,” ujar Prof Samsul.

Di sini, fungsi pimpinan DPRA sangat vital. Karena tiga fungsi legislatif yang melekat pada dirinya, sangat ditentukan oleh kualitas personalnya.

Pimpinan DPRA ke depan, haruslah sosok yang memiliki pengalaman pemerintahan–setidaknya demikian– yang tentu ditopang oleh kemampuan komunikasi, serta memiliki gagasan besar.

Aceh, menurut Rektor Unsyiah, sudah harus memiliki program-program besar dalam rangka melangkah lebih cepat menuju Aceh hebat. Misal, memasukkan modal besar ke Bank Aceh, menyiapkan dana abadi pendidikan, serta memodali Kawasan Ekonomi Khusus.

“KEK itu sesuatu yang sangat penting. Tapi hari ini nasibnya bagaimana? KEK Arun sudah seperti apa? Belum berjalan. Pemerintah Aceh belum menempatkan modalnya di sana. Saham yang paling besar dimiliki Pemerintah Aceh. tapi saham kosong. Pelindo, Pertamina dan PIM, bagaimana? tanpa ikut sertanya modal dari pemerintah Aceh, mereka tentu tidak akan mau menaruh uangnya di sana. Bilapun ada, tentu uang yang kecil,” ujar Rektor dengan nada prihatin.

Di sini, visi besar pimpinan DPRA sangat penting. Tanpa gagasan besar, tentu semua dana yang masuk ke Aceh akan tidak ada artinya. “Kita butuh yang berpengalaman. Menguasai persoalan, memahami aturan, serta tentunya memiliki rekam jejak yang bagus,” imbuh cendekiawan Aceh tersebut.