Revolusi Biru Sudan, Dibajak atau Menular?

Demonstran pro demokrasi Sudan. (Getty Image)

Affan Ramli*

Omar Bashir, setelah berkuasa tiga puluh tahun di Sudan akhirnya tumbang tiga bulan lalu. Ini masih kelanjutan revolusi Arab atau musim semi Arab. Gelombang protes jutaan rakyat di jalan-jalan satu persatu merontokan rezim-rezim yang telah berkuasa lama. Dimulai dari Tunisia, ke Mesir, Libya, Yaman, dan negara-negara lain di Asia Barat dan Afrika Utara. Memang, keruntuhan rezim Bashir ini tidak heboh. Tak seheboh tumbangnya Husni Mubarak (Mesir), Muammar Khadafi (Libya), atau Zine Abidin Ben Ali (Tunisia).

Publik Indonesia lebih banyak tahu Ustaz Abdul Somad pergi melanjutkan kuliah ke Universitas Omdurman, Sudan awal bulan ini. Ketimbang berita pembantaian ratusan demonstran revolusioner di jalan Omdurman, Khartoum, Ibu Kota Sudan awal bulan lalu. Setidaknya 118 orang tewas, kata Komite Sentral Dokter Sudan. Puluhan mayat dibuang ke Sungai Nil. Pembantaian dilakukan Dewan Transisi Militer, meminjam tangan kejam milisi Rapid Support Force (RSF).

Revolusi Sudan ini sebenarnya berbeda. Letak pentingnya bukan pada kejatuhan rezim Omar Bashir. Ada pertaruhan lain, lebih besar dari sekedar menggulingkan seorang Presiden. Ini jarang diamati dan dibahas. Protes jalanan membesar dan lebih intens setelah Bashir jatuh. Pembantaian demonstran sebagian besar terjadi pada Juni, padahal Bashir sudah jatuh di bulan April.

Sudan melihat pergerakan para pemain kawasan ikut campur. Nasib revolusi bisa berakhir tragis seperti Mesir, Yaman, atau Libya. Pengalaman di kawasan itu mengajarkan Sudan, bahwa revolusi rakyat sangat mudah dibajak. Lalu diambil alih kekuatan-kekuatan regional. Dalam hal ini, mengikut pola permainan sebelumnya, pihak paling dicurigai membajak revolusi Sudan adalah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Seperti diulas Max Bearak dan Kareem Fahim di Washington Post, ada slogan baru didengungkan kaum demonstran “kami tidak ingin bantuan Saudi bahkan jika kita harus makan kacang dan falafel!”

Slogan itu muncul setelah Arab Saudi dan UEA bersama-sama menjanjikan 3 miliar dolar kepada Pemerintah Sudan saat ini yang dikuasai Dewan Transisi Militer. Demonstran khawatir kedua kerajaan itu akan menggunakan kekayaan mereka medukung kubu kontra-revolusi. Seringkali dimainkan oleh para jendral lokal, seperti dilakukan dengan sempurna oleh Abdul Fatah Al-Sisi di Mesir dan Khalifa Haftar di Libya.

Membajak Revolusi

Profesor pada studi Afrika di Universitas McGill, Khalid Mustafa Medani menilai Saudi dan UEA pasti ikut campur membajak revolusi Sudan. Penting bagi Saudi-UEA memastikan pasca Bashir, Sudan tidak jatuh ke tangan pemain besar lainnya di kawasan itu, kubu Turki dan Qatar. Kedua negara poros Ikhwanul Muslimin ini sudah lama melakukan investasi besar-besaran di negara Hasan Turabi itu. Sudan diperebutkan karena posisinya sangat strategis di Laut Merah dan lahan pertaniannya melimpah.

Kepentingan Saudi-UEA, mengikut opini Medani, ada tiga. Pertama, mengamankan aliran Sungai Nil, dan ke dua, memastikan spirit revolusi Sudan tidak menularkan keberanian baru pada kaum aktifis revolusioner Mesir yang sekian lama sudah berhasil dijinakan paksa pakai tangan besi Jendral al-Sisi. Di samping itu, Saudi perlu memastikan ribuan tentara bayaran Sudan di Yaman tetap dipertahankan memerangi pemberontak Houthi. Ketiga kepentingan ini menguap bila Sudan mendekat ke Turki dan Qatar.

Sebab itu, Saudi dan UEA mencengkram kuat Dewan Transisi Militer Sudan di bawah komando Jendral Abdel Fattah al-Burhan. Dengan begitu, kejatuhan Omar Bashir tidak berdampak besar dalam perubahan geopolitik Afrika Utara. Orang-orang lama ingin dipastikan aman dan tetap menguasai panggung kekuasaan Sudan. Lebih kurang seperti rezim Orba pasca kejatuhan Soharto dan rezim militer Mesir setelah kejatuhan Husni Mubarak.

Skenario pembajakan revolusi selalu menyakitkan. Rakyat membatalkan perayaan kemenangan tumbangnya Omar Bashir dan memperbesar perlawanan. Kali ini faksi-faksi revolusioner bergabung membentuk Pasukan untuk Kebebasan dan Perubahan (FFC). Mereka menuntut proses transisi dikendalikan lebih besar oleh otoritas sipil. Mayoritas kursi di Dewan Presidensil harus diisi oleh wakil-wakil masyarakat sipil sampai Pemilu dilaksanakan tiga tahun ke depan.

Rupanya perjuangan mempertahankan garis revolusi dari bajakan aktor-aktor regional jauh lebih mematikan. Jumlah martir meningkat drastis. Pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan aktifis perempuan meningkat tajam. Untungnya, rakyat Sudan sudah siap membayar harga mempertahankan revolusi mereka berapa pun. Orang-orang Sudan diaspora gencar mengkomunikasikan revolusi mereka ke dunia luar. Lebih menakjubkan, sebagian intelektual muda ambil resiko, pulang kampung halaman bergabung dalam protes-protes jalanan.

Revolusi Biru

Di antara cerita paling populer, pulangnya insiyur muda Mohamed Mattar dan seniman Assil Diab ke Khartoum. Efek kehadiran keduanya cukup unik dan historik dalam revolusi Sudan saat ini. Mattar bergabung dalam demonstrasi depan markas militer pada 3 Juni dan terbunuh di ujung senjata paramiliter RSF. Saksi mata mengatakan, Mattar terkena peluru ketika ia berusaha melindungi dua aktifis perempuan dalam pembubaran paksa para demonstran.

Rym Bendimerad dan Natalia Faisal menceritakan dalam artikel mereka di Al Jazeera. Tiba-tiba publik dunia serentak membuat tagar #BlueforSudan di berbagai media sosial sebagai ekspresi solidaritas pada Mattar, yang diketahui warna kesukaannya adalah biru.Begitu Mattar terbunuh, teman-teman dan keluarganya mengubah foto profil mereka menjadi biru mengikuti selera warna Mattar. Kemudian orang-orang di dunia bergabung. Sekarang warna biru mewakili seluruh martir yang gugur dalam revolusi Sudan. Gelombang tagar #BlueforSudan meluas seluruh dunia sebagai bentuk dukungan pada revolusi Sudan.

Bagi kebanyakan orang, gelombang tagar biru hanya sebatas bentuk dukungan. Namun, saya ingin menandainya lebih dari itu. Saya memahami revolusi Sudan saat ini bukan revolusi biasa, seperti menumbangkan seorang diktator. Saya hendak memperkenalkan konsep baru dalam perbendaharan diskursus keilmuan seputar revolusi. Revolusi biru adalah gerakan rakyat menjaga garis revolusi dari pembajakan-pembajakan pasca tumbangnya sebuah rezim. Banyak rakyat berhasil menggulingkan pemerintahan, tapi gagal menjalankan revolusi biru. Revolusi itu mudah, revolusi biru lah yang paling sulit dan mahal.

Menjaga garis revolusi adalah satu hal, merawat spirit revolusi selalu hidup adalah hal lain lagi. Mattar penanda kuat untuk hal pertama dan Assil Diab merupakan icon paling menonjol untuk hal kedua. Diab, mantan pegawai televisi Al-Jazeera pulang dari Qatar memobilisasi rombongan seniman lukis di Khartoum dan kota-kota sekitar membuat mural dan grafiti para martir korban militer selama revolusi. Diab mengatakan, mural dibuat di dinding-dinding rumah para martir atau di dinding rumah tetangga.

Ia menghabiskan 635 dolar untuk setiap mural. Tapi hasilnya dahsyat. Para ibu, keluarga para martir dan warga secara luas merasakan para martir revolusi seakan masih hidup di tengah-tengah mereka. Para martir hidup kekal abadi dengan spirit mereka yang terus membakar semangat juang rakyat Sudan. Dengan cara seperti inilah revolusi Sudan tidak pantas diremehkan dan dipandang mudah dibajak kekeuatan-kekuatan dominan di kawasan Afrika Utara dan Asia Barat (Timur Tengah). Saya meyakini, revolusi biru Sudan segera menularkan gelombang perlawanan baru di negara tetangganya, Mesir dan Libya.

*)Penulis adalah penikmat kajian geopolitik.

KOMENTAR FACEBOOK