Mengenang Limun, Mengingat Bireuen

Limun produksi Bireuen. Masih mempertahankan ciri khas lama. Minuman berkarbonasi itu kini kian tersudut oleh gempuran produk serupa hasil pabrikan luar yang iklannya bertebaran di berbagai media. Foto: Mutia Dewi untuk aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli*

Bireuen pernah memiliki minuman berkarbonasi multiguna yang legendaris. Namanya limun 66. Seperti iklan sebuah produk obat sakit kepala, demikian juga dengan limun 66, bisa diminum kapan saja dan di mana saja.

Dulu, di kampung saya Teupin Manee, Juli, sekitar 1990-an, limun bisa didapatkan di tiap warung kopi maupun warung kelontong. Dardanila dan sarsaparilla adalah dua varian rasa yang ditawarkan oleh perusahaan yang memiliki merek 66. Saya sudah lupa nama perusahaannya.

Kala itu, bagi generasi muda, limun adalah minuman pergaulan. Sembari nongkrong, mereka akan menikmati limun 66 dengan menggunakan sedotan plastik. tak jarang pula limun dituang ke dalam plastik dan dibawa ketika berangkat ke lapangan sepak bola. Di sana, limun akan diminum ketika usai bermain bola.

Bapak juga sering membeli limun bila sedang dilanda sakit kepala atau sakit gigi. Biasanya, limun dicampur dengan obat serbuk cap Rumah Tinggi atau “tepung cap rimueng”. Setelah diaduk, kemudian diteguk sampai ludes. Ada pula yang meminumnya dengan puyer tertentu. Tujuannya untuk melarutkan obat.

Bukan hanya itu, tiap kali ada proses ba ranup, atau intat linto, limun 66 selalu menyertai. Botol-botol limun akan dibalut dengan kertas krep warna-warni. Di kampung saya biasanya dengan menggunakan kertas layang. Dihias sedemikian rupa sehingga menjadi hantaran yang istimewa.

Limun juga satu-satunya hantaran yang paling menarik perhatian. Bila “khauri” sudah selesai, yang menjadi rebutan anak-anak adalah limun. Seberapa pun banyak dodoi, meuseukat, dan wajik yang menjadi penganan istimewa dan terhormat, tapi tak sedikit pun menarik minat anak-anak. Mungkin, sejak dulu penganan tradisional itu telah terlalu tua bagi anak-anak.

Saya punya pengalaman unik, ketika dua bersaudara, seusai bekerja di ladang, kemudian turun ke warung untuk membeli limun. Abang-adik itu kemudian memilih masing-masing rasa dan menepi di sudut bagian luar warung kelontong.

Sang adik dengan nikmat menyedot limun. Akan tetapi sang abang justru menunjukkan ekspresi berbeda. Ia seperti menemukan kejanggalan rasa limunnya. “Kesadaran intelektualnya” kemudian bangkit. Ia membaca tulisan di botol. “Soda water”. Rupanya dia telah salah ambil. Akhirnya, karena tidak memiliki uang lagi, ia dengan terpaksa harus meneguk sampai habis soda water itu.

Tahun 2000-an, dominasi limun 66 mulai tergeser oleh kehadiran “minuman internasional” yaitu Sprite. Minuman berkarbonasi produk Coca Cola Company itu tampil dengan kemasan lebih segar, botol warna hijau ramping, serta diiklankan di televisi.

Zaman pun berubah. Selera beralih. Kaum muda meninggalkan limun 66 dan memilih Sprite. Tetua adat juga menggeser limun dari seserahan pengantin, dan menggantikannya dengan Sprite. “Yang penting rasanya tetap agak asam bersoda,” kata tetua kala itu.

Orang-orang yang sakit kepala pun tidak lagi mencari limun untuk dicampurkan dengan obat serbuk Cap Rumah Tinggi. Mereka kian mudah menemukan obat seperti Saridon, Oskadon, dan don-don lainnya.

***
Satu bulan lalu, saya pulang ke Bireuen. Istri saya membeli limun. Tapi bukan 66. Merek lain, saya sudah lupa namanya. Awalnya sedikit yang suka. Tapi begitu saya ikut minum, seisi rumah juga ingin mencicipi rasanya. Akhirnya, kami membelinya setengah lusin.

Sembari meneguk limun, kami pun bernostalgia ke masa lalu. Di sana–masa lalu– kami menemukan diri masing-masing dengan botol limun di tangan.

kami merantau, menjelajah ruang waktu, menemukan kenangan tentang Bireuen, yang sempat terlupakan karena usia yang semakin menua. Hingga akhirnya tiba pada masa kala Bustanil Arifin mengatakan “gemilang datang padamu, bila tekad kukuh berpadu.” Diucapkan pada 8 April 1987, dua tahun setelah saya lahir ke dunia.[]

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK