BMKG Ingatkan Ancaman Megathrust

Kondisi bangunan dan jalanan yang rusak akibat gempa 7,4 SR dan fenomena likuifaksi pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 2 Oktober 2018. Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa. ANTARA/Muhammad Adimaja

JAKARTA — Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono mengatakan, gempa di Banten dengan magnitudo 6,9 pada Jumat (2/8) berpotensi memicu gempa megathrust. Megathrust merupakan gempa bumi dahsyat yang terjadi akibat tumbukan lempeng Indo Australia dan lempeng Eurasia.

Adapun daerah yang diperkirakan terpapar ancaman ini yakni sepanjang pantai barat Sumatra yang berjarak 200-250 kilometer di laut lepas. “Di Laut Jawa jaraknya juga sama. Ini terus sampai ke Bali, kemudian ke arah timur. Lalu, di sisi utara Papua ada juga (potensi) dari tumbukan (lempeng) Pasifik,” kata Rahmat dalam konferensi pers di kantor BMKG, Jakarta Pusat, Sabtu (3/8).

Dia pun mengimbau masyarakat untuk mewaspadai megathrust sebagai ancaman nyata. Sebab, gempa bumi yang melanda Banten pada Jumat malam berkaitan dengan ancaman megathrust ini.

Apalagi, gempa bumi di Banten juga terasa hingga Jakarta dan Lampung. “Megathrust dengan skala besar pada sumber yang dangkal bisa memicu tsunami,” tuturnya.

Dijelaskan, pertemuan Indo Australia dan lempeng Eurasia berpotensi terjadi dari Sumatra hingga Papua. Oleh karena itu, ancaman megathrust ini sebenarnya bisa dirasakan hingga Jawa, Bali, dan utara Papua. Oleh karena itu, kata Rahmat, masyarakat di sepanjang jalur pertemuan lempeng tersebut harus selalu siaga.

Apalagi, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi. “Mohon kebijaksanaan masyarakat memahami bencana di daerah masing-masing, kemudian memahami jalur evakuasi, tahu apa-apa yang harus dilakukan saat bencana datang,” ujar dia.

Jika ada peringatan tanda bahaya, tutur Rahmat, masyarakat harus sudah tahu jalur mana yang bisa dilalui. “Termasuk salah satunya lokasi evakuasi warga,” tambah Rahmat.

Latihan kebencanaan

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo mengajak semua warga memahami pentingnya latihan kebencanaan secara rutin sampai di tingkat keluarga. Terlebih untuk masyarakat kawasan pantai selatan Banten yang rawan menghadapi kejadian gempa dan berpotensi tsunami.

“Latihan dan simulasi kebencanaan harus sampai menyentuh tingkat paling bawah, yaitu tingkat keluarga, termasuk juga kepada anak-anak sekolah,” kata Doni saat meninjau lokasi dampak gempa di Desa Panjang Jaya Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Sabtu.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita juga berharap masyarakat Banten, khususnya Pandeglang, dapat melek terhadap kondisi kerawanan bencana di daerah tersebut.

“Suka tidak suka, Pandeglang ini khususnya, harus menyadari punya potensi rawan gempa. Maka ada satu kebutuhan agar masyarakat secara umum yang ada di Pandeglang itu bisa melek terhadap kesiapsiagaan dari bencana ini sendiri,” kata dia saat meninjau lokasi terdampak gempa di Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan penanganan dampak bencana gempa Banten pada Jumat (2/8) malam. Penanganan meliputi korban yang terluka serta rumah-rumah maupun fasilitas umum yang rusak karena gempa.

“Pasti itu ditangani juga dengan baik, prosedurnya (penanganannya) ada,” ujar JK saat melakukan kunjungan kerja ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan sudah tidak ada pengungsi yang bertahan di tempat pengungsian pascagempa yang mengguncang Banten dan sekitarnya. BNPB memastikan seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

“Sekarang sudah tak ada pengungsi bertahan,” kata Plh Kepala Pusat data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam konferensi pers.

Kendati demikian, Agus mengatakan, BNPB dan BPBD masih berada di lapangan untuk memastikan kondisi dan melakukan pendataan yang diperlukan, seperti tentang pertambahan korban atau kerusakan. Pemantauan lapangan akan dilakukan hingga Senin (5/8).

Usai diguncang gempa bermagnitudo (M) 6,9 yang berpusat di Sumur, Banten, warga Sukabumi, Jawa Barat, dikejutkan dengan gempa susulan M 4,4 yang berpusat di Kabupaten Sukabumi. “Getarannya cukup kencang dirasakan, bahkan durasinya pun lama sehingga membuat kami kembali khawatir dan takut masuk rumah karena dibayang-bayangi gempa susulan,” kata warga Kelurahan Kebonjati, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Ida Farida, di Sukabumi, Sabtu.

Gempa yang terjadi pada Sabtu, pukul 00.22 WIB, itu dirasakan sebagian warga Kota dan Kabupaten Sukabumi. Meski kekuatannya tidak sebesar gempa Banten pada Jumat malam, kejadian tersebut membuat warga panik. Bahkan, warga yang tinggal di daerah pesisir pantai masih banyak yang mengungsi ke dataran tinggi.

“Kami masih khawatir untuk turun, apalagi rumah saya dekat pantai sehingga untuk sementara ini memilih mengungsi sampai tidak ada lagi gempa-gempa susulan,” kata salah seorang warga Pangsor, Kelurahan Palabuhanratu, Pipit.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten Kusmayadi mengatakan, data laporan petugas di lapangan menyatakan, terdapat sekitar 176 bangunan yang rusak ringan, dua bangunan rusak sedang, tetapi tidak ditemukan bangunan rumah yang rusak berat. “Jumlah tersebut tersebar di beberapa kecamatan di tiga kabupaten,” kata Kusmayadi.

Sementara, BPBD Cianjur, Jawa Barat, mencatat sembilan rumah di beberapa kecamatan mengalami kerusakan akibat gempa M 6,9. Gempa mengakibatkan lima rumah rusak berat di Desa Neglasari dan satu di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Agrabinta, satu rumah rusak ringan di Kecamatan Pasirkuda, dan dua rumah rusak berat di Kecamatan Cibeber.

Sekretaris BPBD Cianjur Sugeng Supriyatno menjelaskan, petugas masih melakukan pendataan ke lokasi untuk melakukan penanganan tanggap darurat karena beberapa rumah mengalami retak di bagian dinding.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK