Pengalaman Berkesan Mengikuti Tradisi Minum Teh di Jepang

Oleh Rezka Kenara Bintang Putra*

Memasuki awal Agustus ini kurang lebih sudah enam bulan saya di Jepang. Tentu sudah ada perkembangan sejak pertama sampai di Jepang hingga saat ini, setidaknya saya sudah bisa berbicara meski kadang harus berjuang mengingat kata baru yang belum sepenuhnya saya pahami.

Memasuki bulan Agustus, musim penghujan telah berakhir dan memasuki musim panas. Jadi saat ini cuaca di Jepang terasa panas, kurang lebih seperti panasnya Banda Aceh saat sedang terik-teriknya. Bedanya, kalau di Jepang semakin panas malah terlihat semakin meriah. Di mana-mana diselenggarakan festival menyambut musim panas. Selama musim panas semua siswa juga mendapat libur yang panjang hingga 40 hari. Sedangkan untuk kantor jumlah liburnya bervariasi, mulai dari lima hari hingga paling lama sepuluh hari.

Musim panas mendatangkan kebahagiaan bagi semua orang. Mereka pun memiliki kewajiban baru, yakni membawa botol minum yang berisi minuman dingin. Bahkan saya melihat beberapa orang membawa botol berukuran sangat besar dengan kapasitas 2-3 liter, benar-benar seperti termos air panas yang ada di rumah-rumah warga di Aceh khususnya.

Saya menanyakan pada beberapa orang yang ada di sekitar saya, apa sebenarnya yang diisi dalam botol tersebut dan jawabannya adalah minuman dingin seperti teh hitam, teh hijau, atau minuman lain. Di sini yang sedikit berbeda adalah minuman yang dibuat dingin tidak ditambah gula, jadi yang kita rasa hanyalah rasa teh dan dingin tidak ada rasa manis sama sekali.

Salah satu yang berkesan selama di Jepang ialah pengalaman mengikuti seremoni minum teh. Ceritanya minggu lalu, tepat seminggu sebelum kegiatan seremoni teh dilaksanakan, sensei (sebutan guru di Jepang) memberi informasi pada saya bahwa akan ada kegiatan seremoni teh dan dilanjutkan dengan belajar membuat teh dengan pendekatan budaya Jepang.

Sensei juga menginformasikan beberapa hal yang harus dipersiapkan, seperti perubahan jadwal kereta api kepulangan karena akan pulang lebih cepat, menggunakan kaus kaki warna putih, dan membawa sapu tangan.

Di Jepang mereka sangat baik dalam menyiapkan semua bentuk kegiatan, tidak peduli kegiatan besar atau kecil. Semua kegiatan akan dipersiapkan jauh sebelum hari H dan terus dilakukan pengecekan hingga hari H selesai dan berlalu. Bahkan jika ada jadwal sekolah yang berbeda dari biasanya sudah diinformasikan satu bulan sebelum hari itu agar semua persiapan dapat dilakukan dengan baik. Awalnya saya pikir ini terlalu berlebihan karena hal yang dilakukan terlalu kecil, tetapi persiapannya begitu cepat jauh sebelum hari kegiatan. Lalu waktu menjawab, dengan persiapan jauh hari tidak banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan karena bisa dilakukan sedikit demi sedikit tanpa menggangu aktivitas lainnya sehingga semua kegiatan yang dilakukan bisa tetap berjalan dengan baik.

Akhirnya hari kegiatan ceremoni teh telah dekat, satu hari sebelum hari H kami mendapat briefing tentang bagaimana cara duduk, pakaian yang dikenakan, dan hal lain yang dianggap sebagai informasi dasar sehingga kami bisa meminimalisir kesalahan dan barang-barang yang terlupa. Hari seremoni teh pun tiba dan kami berkumpul di gedung sekolah, kemudian bergerak menuju ke lokasi pembuatan teh. sampai di lokasi saya langsung terpukau sekaligus antusias karena saya melihat bangunan dengan ornamen khas Jepang dan saya akan masuk ke sana. Ini pertama kali juga bagi saya masuk ke rumah asli orang Jepang karena sepertinya membawa tamu asing ke rumah bukan sesuatu yang sangat lumrah di sini.

Sebelum masuk ke rumah tersebut kami membuka sepatu dan mengganti kaus kaki dengan kaos kaki putih yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Seperti biasa semua sepatu diletakkan dengan sangat rapi dan ini berlaku di semua tempat. Bahkan jika ada sepatu yang tidak rapi kita harus membantu merapikannya agar orang setelah kita juga tetap rapi. Memasuki rumah tersebut saya langsung melihat betapa sederhananya rumah di Jepang, tidak ada ornamen-ornamen mewah seperti keramik besar, sofa besar, atau lampu ruang tamu yang mewah. Saya hanya melihat ruangan yang disekat-sekat dengan pembatas berbahan kayu dan kertas, kemudian sebuah meja kayu yang mengkilap. Kemudian kami mendapat sambutan dan briefing singkat mengenai rangkaian kegiatan yang akan kami laksanakan.

Kegiatan dimulai, kami dituntun menuju salah satu bagian rumah untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan juga dengan peralatan yang sangat sederhana, sebuah gayung dengan gagang panjang yang semua bagiannya terbuat dari kayu, kemudian gentong air yang terbuat dari tanah liat yang di atasnya mengalir alir sangat pelan. Cara mencuci tangannya sama seperti biasa tapi di bagian akhir kita mencuci tangan sambil mencuci gagang gayung agar tetap bersih.

Selanjutnya selesai mencuci tangan kami masuk ke sebuah ruangan baru melalui pintu yang sangat kecil, tidak bisa masuk dengan posisi berdiri kita hanya masuk dengan posisi membungkuk. Akhirnya masuklah kami di sebuah ruangan yang di sana sudah ada beberapa orang menggunakan pakaian kimono, ada dua laki-laki dan tiga perempuan. Kemudian kami diarahkan untuk duduk ala Jepang, tetapi kalau kita tidak bisa melakukannya kita dapat duduk bersila atau duduk di atas kursi kecil. Saya memilih duduk di atas kursi karena saya tidak mampu duduk lama dengan gaya ala Jepang dan dengan duduk di kursi saya juga lebih leluasa melihat semua prosesnya.

Selama proses peragaan pembuatan teh semua ruangan sangat hening dan khidmat semua orang memperhatikan proses dengan sangat baik. Proses pembuatan tehnya juga sangat teratur dan tenang dengan gerakan-gerakan yang sangat rapi dan teratur dan proses yang sangat runtut. Bagaimana air dituang, peralatan dilap, dan minuman diaduk semuanya benar-benar sangat perlahan dilakukan.

Setelah minuman selesai dibuat, lalu diberikan kepada tiga orang yang sedari tadi sudah menunggu dan juga melihat proses pembuatan teh. Matcha yang dibuat tidak disajikan dalam gelas tapi dalam sebuah cawan. Matcha diminum segera setelah disajikan karena minuman ini baiknya diminum dalam suhu sekitar 70 derajat celsius agar kafeinnya dapat berfungsi maksimal. Matcha yang disajikan rasanya pahit, tetapi ada juga rasa teh sehingga enak sekali. Dari penjelasan yang diberikan rasa teh bisa menjadi manis semua tergantung bagimana perasaan pembuat dan penikmat matcha.

Meminum matcha juga ada aturannya. Di bagian luar cawan terdapat tanda yang menunjukan bahwa itu adalah bagian depan cawan dan saat meminum matcha bagian penanda depan cawan diletakkan di tangan sebelah kanan. Setelah selesai meminum matcha kemudian pembuatnya mempresentasikan alat dan bahan yang digunakan. Dari mana bubuk matchanya berasal, kapan pemanenan dan diproses, hingga cawan yang digunakan dibuat oleh siapa dan beberapa pertanyaan yang lain yang berhubungan dengan matcha yang disajikan.

Akhirnya bagian yang ditunggu-tunggu tiba, kami masing-masing mempraktikkan pembuatan matcha. Saya mendapat kesempatan pertama mencobanya, awalnya saya pikir semua sangat mudah tapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Beberapa proses masih terbolak-balik saya lakukan, tapi kami didampingi oleh ahlinya sehingga dia membantu menuntun saya membuat matchanya. Akhirnya saya berhasil dan di bagian mengaduk matcha saya mendapat pujian, karena saya mengaduk dengan benar dan menghasilkan buih matcha yang banyak. Mungkin ini semua berkat sering membuat telur dadar yang kurang lebih prosesnya mirip.

Akhirnya, setelah semua kegiatan selesai saya sempat diwawancarai televisi lokal dan beberapa koran mengenai bagaimana tanggapan saya dengan kegiatan ini dan bagaimana perasaan saya. Kegiatan ditutup dengan ucapan terima kasih dan foto bersama.[]

Penulis saat ini sedang mengikuti program pelatihan di Okabayashi Farm, perusahaan perkebunan dan pengolahan jeruk di kota Ochi Provinsi Kochi, Jepang.Program ini kerja sama antara Pemerintah Jepang diwakili oleh JICA dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK