Pulot Ijo dan Senda Gurau Usamah di Batee Geulungku

@aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Fortuner yang ditumpangi Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El Madny, beserta rombongannya terus menyusuri lintasan jalan Banda Aceh–Medan, Sabtu (3/8/2019). Perjalanannya kali ini dalam rangka monitoring sekaligus bersilaturrahmi dengan sejumlah teungku-teungku dayah di wilayah Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Saat menyusuri perbatasan Pidie Jaya–Bireuen, tepatnya di kawasan Batee Iliek, telepon genggam milik Usamah berdering.

“Assalammualaikum, pat droeneuh jinoe, Pak?” tanya seseorang di balik layar telepon genggamnya yang bervolume besar.

“Waalaikumsalam, lon nyoe teungoh bak jalan, rencana menuju u Lhokseumawe siat. Kiban peu na hai, teungku?” balas Usamah El Madny.

Selang beberapa menit kemudian, Usamah beserta rombongannya pun tiba di lokasi yang dimaksud. Di sana, seorang pria berpostur tambun dengan pakaian khas “aneuk dayah” telah menanti kehadirannya, tepatnya di warung Kak Er. Ia bernama lengkap Teungku Hafidz, salah seorang pengurus Dayah Ihyaul Uum Al-Aziziyah, Desa Cot Batee Geulungku, Kabupaten Bireuen.

Neupiyoh Pak Kadis, sinoe na makanan khas, pulot ijo. Nyan teumon ie u muda atawa ie tubee,” ujar Tgk Hafidz seraya menyalami Usamah dan rombongannya.

Tak lama berselang, sebuah mobil kemudian tiba-tiba terlihat menepi. Di balik kaca mobil tersebut, seorang pria paruh baya terlihat tersenyum sambil melambaikan tangannya. Pria tersebut adalah Tgk. H. Muniruddin atau akrab disapa Waled Kiran. Pimpinan Dayah Babul Ilmi, Kecamatan Jangka Buya, Pidie Jaya itupun kemudian ikut nimbrung bersama Usamah El Madny. Awalnya, Waled Kiran mengaku juga hendak membeli pulot ijo.

Keunoe neupiyoh laju Waled, tapajoh pulot ijo ngon ie tubee. Sinoe sira ta tuka pikiran tentang perkembangan dayah,” ujar Usamah El Madny kepada Waled Kiran.

Sembari meneguk segelas air tebu dan legitnya pulot ijo khas Bireuen yang dikemas dengan obrolan santai di bawah teduhnya rangkang bambu. Sekali-kali terdengar tertawa cekikikan tatkala mengenang kisah dan pengalaman Usamah tatkala dirinya masih “nyantri” di Dayah Bustanul Ulum Samalanga.

Di atas rangkang bambu itu, Usamah berharap peran dan dukungan teungku-teungku dayah dalam menyelesaikan beragam problematika pada pendidikan dayah. Menurutnya, peran alim ulama dayah terhadap eksistensi dayah merupakan wujud dan komitmennya dalam membangun Aceh Carong. Hal ini sesuai dengan visi-misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Irwandi–Nova yang termaktub dalam program Aceh Hebat.

“Saya berharap ada doa restu dari Abu-Abu sekalian agar dimudahkan Allah Swt untuk bisa selalu bersilaturrahmi ke dayah-dayah. Kontribusi dan dukungan Abu-Abu merupakan bentuk solidaritas yang nyata dalam membangun pendidikan Aceh berbasis dayah sesuai dengan visi-misi Pemerintah Aceh, yaitu Aceh Hebat yang termaktub dalam turunan Aceh Carong dan Aceh Meuadab,” ujar Usamah El Madny.

Matahari sudah mulai rebah ke barat. Kadis bersarung itupun segera berpamitan kepada Waled Kiran dan Tgk Hafidz.

Saat mobilnya bergerak pelan menjauh dari warung dan menuruni perbukitan, legitnya pulot ijo dan ramahnya Tgk Hafidz serta Waled Kiran masih terbayang dalam ingatan Usamah El Madny.

“Insyaallah di berbagai kesempatan lain, kita akan singgah lagi kemari. Minimal bisa beristirahat sebentar sembari menikmati segarnya air tebu dan pulot ijo. Tapi bek sabee cit, enteuk lalee bak taduek sinan,” seloroh Usamah yang disambut gelak tawa kami selama perjalanan.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK