Sabtu Malam Bersama Ableh di Lhokseumawe

Ableh @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Acehtrend.com, Lhokseumawe – “Di berbagai kesempatan, Mualem selalu meminta kita agar terus solid dan kompak, saling bergandengan tangan memikirkan nasib Aceh secara bersama-sama.”

Sepenggal kalimat itu mengawali obrolan santai bersama Ketua KPA Kuta Pase, Muchtar Hanafiah, alias Ableh pada Sabtu malam (3/7/2019) di salah satu kafe di Kota Lhokseumawe.

Sembari menyeruput segelas kopi, sosok yang akrab disapa Ableh ini terlihat semringah. Sekali-kali ia berkisah tentang penggalan-penggalan kisah hidupnya, mulai dari masa kecil hingga beranjak dewasa. Terlalu banyak kisah dan riwayatnya, dan itu tentu saja bukan untuk ditulis di sini secara mendetail. Sekilas Ableh terlihat sosok yang dingin, tertutup, dan hemat bicara. Tapi kenyataannya, pria bertubuh jangkung ini adalah sosok yang enak diajak bicara tatkala saya menyapanya.  

Terkadang, ia tertawa lepas saat mengenang kisahnya yang lucu, kadang juga mimiknya terlihat haru dan serius saat mengenang masa-masa bersama rekan seperjuangannya ketika masih bergerilya di pedalaman hutan Aceh.

Selama konflik berkecamuk di Aceh, ia bersama pasukan yang dipimpinnya sering menjadi incaran TNI. Maka tak heran, perang terbuka antara TNI dan GAM dipastikan terjadi. Ini dikarenakan pasukan Ableh merupakan pengawal pribadi Muzakir Manaf alias Mualem.

Saat perjanjian damai diteken pada 15 Agustus 2005 lalu, Ableh kembali ke kehidupan masyarakat. Sikap murah senyum dan kerendahan hatinya kini menjadi panutan mantan kombatan lainnya, sehingga dirinya kian disegani oleh rekan seperjuangannya. Menariknya lagi, meski sudah memegang tampuk sebagai Ketua KPA Kuta Pase, Ableh selalu bersikap sahaja dan enggan disanjung-sanjung. Bahkan, ke mana saja ia berbaur bersama warga, ia menolak dikawal oleh bawahannya. Ia beralasan, berbaur bersama warga tanpa pengawalan akan mempermuda dirinya berinteraksi dengan masyarakat tanpa ada sekat pembatas dengan semua pihak.

Meunyoe takalon, leupah rindu watee meusaboh lagee awai (jika dilihat, sungguh rindu jika kita bersatu seperti dulu),” kenang Ableh.

Ableh beralasan, mengelola pasukan pascadamai Aceh adalah sebuah tantangan paling sulit baginya. Meski demikian, ia tetap setia dan patuh di bawah komando Mualem selaku pimpinan tertinggi KPA/PA agar terus mengawal dan menjaga marwah Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA) agar terus berbenah menjadi lebih baik.

Seraya menarik napas dalam-dalam, Ableh lalu berujar, “Tantangan saya dan kami ini adalah rekan-rekan agar terus kompak. Untuk kepentingan nafsu pribadi, saya tegaskan tidak sanggup menyanggupinya. Sedangkan untuk kepentingan bersama, tidak ada masalah sama sekali. Tantangan di bidang politik dan pemerintah, bagi saya, tidak ada masalah, karena saya pribadi tidak pernah bercita-cita untuk duduk di kursi pemerintah, baik di eksekutif maupun legislatif. transformasi konflik yang paling berat!”

Ableh sangat menaruh perhatian besar bagi masyarakat Aceh, khususnya kalangan milenial agar selalu mencurahkan perhatian dalam membangun Aceh. Pasalnya, para pemuda merupakan tongkat estafet yang akan mengisi pembangunan Aceh ke depan. Oleh karena itu, tambah Ableh, generasi muda Aceh terus mengejar mimpi dan cita-citanya dengan mengedepankan dunia pendidikan.

“Masa depan Aceh kini berada di tangan adik-adik kita sebagai generasi muda. Kalianlah yang akan melanjutkan cita-cita dan perjuangan kami, yaitu membangun Aceh. Mari isi perdamaian Aceh yang sangat berharga ini dengan mengejar cita-cita dan mimpi kalian, karena adik-adiklah nantinya yang akan mengisi kursi-kursi di lembaga pemerintahan Aceh ke depan, pinta Ableh.

Malam hendak menuju pagi. Mata Ableh terlihat mulai berat. “Kapan-kapan kita sambung lagi,” ujar Ableh, menutup obrolan kami dengan sopan.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK