Pendidikan Berasrama Jadi Ancaman Perilaku Homoseksual?

Oleh Zulkifli, M. Pd*

Asrama ialah bangunan tempat tinggal bagi sekelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar dan dipimpin oleh seorang kepala asrama (KBBI).

Pendidikan berasrama merupakan program pendidikan yang komprehensif-holistik mencakup pendidikan keagamaan, pengembangan akademik, life skills (soft skills-hard skills), memupuk wawasan kebangsaan, dan membangun wawasan global, yang digunakan sebagai bagian integral dalam sistem penyelenggaraan program PPG untuk menghasilkan calon guru profesional yang memiliki kompetensi utuh, unggul dan berkarakter (Ditjen Belmawa, 2017, h. 6).

Pendidikan berasrama (boarding school) juga diartikan adalah lembaga pendidikan di mana siswa tidak hanya belajar, tetapi mereka bertempat tinggal dan hidup menyatu di tlembaga tersebu. Boarding School mengombinasikan tempat tinggal para siswa di institusi sekolah yang jauh dari rumah dan keluarga mereka dengan diajarkan agama serta pembelajaran beberapa mata pelajaran (Maksudin: Pendidikan Nilai Boarding School Di SMPIT Yogyakarta, Disertasi UIN Sunan Kalijaga, 2008, h. 111).

Pendidikan berasrama ini dilaksanakan oleh beberapa pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Lembaga pendidikan formal yang melaksanakan pendidikan berasrama adalah sekolah terpadu. Termasuk kampus-kampus yang menyediakan asrama untuk menggodok mahasiswa agar mempunyai kemampuan di bidang agama. Sedangkan pendidikan nonformal yang melaksanakan pendidikan berasrama adalah dayah-dayah atau pesantren-pesantren.

Dayah atau pesantren merupakan pusat pendidikan agama Islam untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang kaidah-kaidah agama, baik tentang ilmu akidah, fikih, tasawuf, hadis, dan keilmuan lainnya sebagai pedoman hidup untuk diamalkan dalam kehidupan berkelurga dan bermasyarakat.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q. S At-Tahrim: 6).

Sistem pendidikan yang dilaksanakan di dayah adalah sistem pendidikan berasrama, dan ini sudah dilaksanakan bertahun-tahun lamanya semenjak adanya dayah. Banyak pakar-pakar agama Islam telah dilahirkan dari dayah yang sekarang menjabat di berbagai instansi pemerintah dan nonpemerintah. Pimpinan-pimpinan dayah dilahirkan dari pendidikan dayah, imum chik mesjid, imum gampong, pakar agama, akademisi juga ada yang dilahirkan dari dayah atau pesantren yang pendidikan mereka tempuh itu merupakan pendidikan berasrama.

Jadi secara garis besar, pendidikan berasrama adalah bertujuan untuk menjadikan generasi yang lebih bertanggung jawab, toleransi, mandiri, disiplin, berkarakter, dan berakhlakul karimah.

Siswa atau santri yang telah mendapatkan pendidikan berasrama, mereka memiliki sifat yang lebih ta’dhim kepada gurunya, orang tuanya dan mampu beradaptasi dengan lingkungannnya, ini dapat dilihat dari karakter, sikap dan adab mereka. Namun ada juga yang sudah diasramakan tetap masih berperilaku tidak baik.

Apakah setelah diasramakan mereka masih berperilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam adalah salah pendidikan berasrama? Atau kembali kepada individu masing-masing? Karena hasil ini akan didapatkan dengan melakukan penelitian sehingga dapat diketahui berapa persentase siswa yang terbentuk baik atau menyimpang setelah dilaksanakan pendidikan berasrama. Bukan sekadar berasumsi dengan hanya terungkap kasus pelecehan seksual (homoseksual) di salah satu yayasan di Lhokseumawe (Serambi Indonesia, 12/07/2019), karena untuk kebenarannya perlu putusan hakim dan sebelum putusan tersebut tetap berazaskan prasangka tidak bersalah.

Asrama Penyebab Lahirnya Perilaku Homoseksual?

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama (Wikipedia).

Homoseksual juga diartikan adalah makna rasa ketertarikan perasaan (kasih sayang, hubungan perasaan dan atau secara erotik). Baik secara eksklusif terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama yang berhubungan fisik atau tidak berhubungan fisik (PPDGJ II, Depkes RI, 1983).

Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka) bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.” (Q. S Al-A’raf: 81).

Homo seksual merupakan suatu perilaku yang sangat dilarang dalam Islam, bahkan status hukum syar’inya adalah haram dengan ketentuan sanksi yang jelas.

Dan (Kami) juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala ia berkata kepada mereka: Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” (Q. S Al-A’raf: 80).

“Ulama sepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Swt telah mencelanya dalam kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah saw beliau mencelanya.” (Ibnu Qudamah)

Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali.” (Hadits).

Dalam Wikipedia juga disebutkan bahwa ilmuwan tidak tahu secara pasti apa yang menentukan orientasi seksual seseorang, tetapi mereka menduga bahwa orientasi seksual dipicu oleh kombinasi faktor genetik, hormon, dan lingkungan, dan bukanlah suatu pilihan. Mereka mengacu kepada teori-teori yang berbasiskan pada biologi, yang menyebut faktor genetik, lingkungan awal diuterus, atau keduanya. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pengalaman pada masa kecil berperan terhadap orientasi seksual. Selain itu, upaya untuk mengubah orientasi seksual juga tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah.

Dr. Margaretha Sih Setija Utami, M. Kes, Dekan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata mengatakan banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi gay, di antaranya adalah kondisi biologis sejak lahir, perubahan hormonal heterogen menjadi homoseksual, dan kondisi sosial, contohnya satu grup dengan homoseks, lama-lama bisa ikut homo (Tribun Jateng, 29/05/2017).

Juga penyebab homoseksual pada seseorang adalah faktor herediter, berupa ketidakseimbangan hormon-hormon seks, seperti cairan dan kelenjar endokrin pada fase-fase pertumbuhan yang kritis dapat memengaruhi arah dari dorongan-dorongan seksual dan tingkah laku. Faktor pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual yang normal, seperti individu yang besar di lingkungan yang terdiri atas para homoseksual. Faktor seseorang selalu mencari kepuasan relasi homoseksual karena pernah menghayati pengalaman homoseksual yang menggairahkan pada masa remaja, seperti laki-laki yang sudah pernah melakukan homoseksual pada masa remajanya. Faktor seseorang anak laki-laki pernah mengalami traumatis dengan ibu (Kajian Pustaka.Com).

Beberapa sebab lahirnya perilaku homoseksual bagi seseorang itu disebabkan oleh genetik yang ada padanya, perubahan hormon dan dan kondisi sosial.

Pendidikan berasrama di dayah-dayah atau sekolah-sekolah terpadu tidak pernah mengajari para sanrtri atau siswanya untuk melakukan perbuatan homoseksual. Namun mereka yang digodok di asrama untuk dimanusiakan secara sempurna, sehingga suatu saat ketika mereka keluar dari asrama telah terbentuk manusia yang berakhlakul karimah, yang berpengetahuan dan beradab mulia.

Mari kita melihat pendidikan berasrama dengan bijak, kesalahan oknum bukanlah kesalahan keseluruhan, berpendapat yang kontroversial dapat melahirkan kaum yang anti dan ini bisa berefek negatif terhadap pemikiran dan asumsi mereka. Dayah dengan model pendidikan berasrama adalah tetap suatu solusi terhadap pendidikan bebas dengan kondisi lingkungan sosial yang demikian rupa. Game online, judi online, narkoba di mana-mana, perilaku penyimpangan seks bebas dan kehidupan jam malam adalah musuh kita bersama. Pendidikan bersama dan diasramakan atau tidak adalah tanggung jawab kita bersama, demi generasi yang dapat dibanggakan oleh agama dan bangsa.

Lingkungan sering menjadi alasan kegagalan Anda, tapi ambillah tanggung jawab atas segala kegagalanmu, jangan terbiasa menyalahkan lingkungan, setitik nira tidak mungkin lebih berharga dari sebelanga susu.[]

*Penulis adalah Guru di MTsN 6 Aceh Utara

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK