Politik Pink Amerika Latin, Sekarat?

Nicolas Maduro, Presiden Venezuela baru-baru ini memberitahukan Amerika Serikat, negaranya siap berperang. Ini merespon pengumuman Trump minggu lalu. Amerika berencana memblokade  Venezuela. Sebagai lanjutan kebijakan ‘tekanan maksimum’ rezim Trump terhadap pemerintahan Maduro. Sebelumnya, Trump sudah menjatuhkan sanksi atas industri minyak, pertambangan emas, dan Bank Sentral Venezuela.

Niat tekanan maksimum Trump sederhana. Ia ingin Maduro mundur. Digantikan  Juan Guaido, pemimpin oposisi dukungan Barat. Juan sudah memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela awal tahun ini. Ia mengkudeta Maduro. Lebih dari 50 negara, terutama negara-negara Barat memberi dukungan. Beberapa negara tetangga di kawasan Amerika Latin seperti Brasil, Kolombia, Chili, Peru, Argentina, dan Paraguay juga menginginkan Maduro jatuh.

Beberapa tahun lalu, negara-negara tetangga ini masih bersetiakawan pada pemerintah Bolivarian Venezuela. Kecuali Kolombia, Brasil dibawah Lula dan Dilma, Chili dibawah kepemimpinan Lagos dan Bachelet, Peru dibawah Garcia dan Humala, Argentina di bawah Kirchner dan Cristina, dan paraguay   dibawah Fernando Lugo merupakan sekutu-sekutu kunci Caracas. Mereka satu blok politik. Sama-sama mengalami, mengikut istilah BBC, gelombang kemenangan politik pink (Pink Tide).

Pink Tide, sebutan untuk gerakan sosialisme Amerika Latin, karena kurang “merah”. Merah itu, simbol komunisme. Pelabelan pink Ini bisa dalam banyak makna. Sosialisme Amerika Latin dipandang berbeda dari komunisme ala Soviet, Kuba, Cina, Vietnam, dan Korea Utara. Berbeda, sejak dari akar pemikiran, pandangan-dunia, ideologi, strategi perjuangan, sampai pola-pola kebijakan dan pengelolaan negara setelah menang. Keduanya cuma berkongsi musuh. Ialah rezim kapitalisme, neoliberalisme, dan imperialisme.

Sebagian intelektual menamai gerakan pink ini dengan neososialisme, atau Kiri Baru. Hugo Chaves menyebutnya, Sosialisme Abad-21. Gerakan kiri ini, merujuk Marta Harnecker, berangkat dari tradisi pemikiran yang sangat majemuk. Mulai dari teologi pembebasan, nasionalisme Bolivarian, Marxisme, Anarkisme, sampai Indegenisme (masyarakat adat).

Michael Lebowitz menerangkan Sosialisme Abad kedua puluh satu dengan lima kecirian. Pertama, bukan masyarakat yang membiarkan ‘kemampuan bekerja’ mereka diarahkan dan dimanfaatkan pihak-pihak yang lebih mementingkan keuntungan ketimbang pemenuhan kebutuhan. Ke dua, bukan masyarakat dimana pemilik alat produksi menekan serendah mungkin upah melalui pemisahan antara buruh dan komunitas.

Ketiga, bukan masyarakat negaraisme dimana keputusan-keputusan dan seluruh inisiatif bersifat top-down. Keempat, bukan masyarakat yang menyandarkan hidup pada negara dan pemimpin kharismatik, sebaliknya rakyat aktif mengelola dirinya di tempat kerja, lingkungan, dan komune. Ke lima, bukan totalitarianisme, dimana masyarakat diseragamkan aktivitas produksinya, pilihan konsumsinya, dan gaya hidupnya.

Spektrum

Rangkuman kecirian seperti itu terlalu menyederhanakan. Kenyataannya lebih beragam. Meski sesama kiri, model-model yang dikembangkan di Brasil dan Argentina berbeda jauh dari pola gerakan Venezuela, Bolivia, dan Ekuador. Wajah sosialisme Amerika Latin lebih tepat diletakan dalam sebuah spektrum yang bergerak dinamis. Kita bisa meminjam tipologi yang ditawarkan Raúl Madrid dalam tulisannya The Origin of the Two Lefts in Latin America. Kita menaruh model-model berbeda gerakan dan kebijakan politik kiri antara negara amerika selatan itu dalam spektrum lentur.

Bahwa di kawasan itu, politik kiri bergerak dinamis kembang-kencup dari titik ‘Kiri Liberal’ pada satu sisi dan ‘Kiri Intervensionis’ di sisi lainnya. Kiri Liberal diwakili model Lagos dan Bachelet di Chili, Lula dan Dilma di Barasil, juga Vaques dan Mujica di Uruguay. Mereka lebih pragmatis, kompromis, dan realistis. Memperbaiki pelayanan sosial dan pembaruan agraria, saat bersamaan mempromosikan kebijakan ekonomi pasar. Mesra dengan Chaves dan George. W. Bush sekaligus.

Pada sudut lainnya, Kiri Intervensionis diwakili model Chavez di Venezuela, Morales di Bolivia, dan Correa di Ekuador. Mereka membuat kebijakan radikal. Dari pengalokasian anggaran sosial, pembaruan agraria, sampai nasionalisasi industri-industri migas, pengusiran perusahaan-perusahaan asing. Kebijakan politik luar negerinya pun radikal. Dari retorika permusuhan terbuka terhadap kekuatan imperialisme, hingga pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika dan Israel. Di waktu yang sama, negara-negara ini menggandeng mesra para pesaing Amerika, seperti Rusia, Cina, dan Iran.

Pun spektrum keragaman sosialisme Amerika Latin di antara dua titik ujung relatif jauh, mereka berkongsi fondasi bersama. Setidaknya, merujuk Nur Iman Subono, ada tiga pijakan dasar sosialisme abad kedua puluh satu: komitmen tinggi terhadap kesetaraan, keinginan kuat menggunakan negara mengendalikan ekonomi pasar bebas, dan mengutamakan kemampuan rakyat terlibat dalam proses-proses pengambilan keputusan.

Naik Turun

Pijakan dasar politik kiri baru ini berhasil menarik perhatian rakyat Amerika Latin. Lebih 350 juta rakyatnya teryakinkan. Ragam corak kiri baru ini diberi ruang dan panggung kekuasaan. Awalnya dimulai dengan kemenangan politik kiri di Venezuela pada pemilu 1998, dilanjutkan ke Chili (2000), Brasil (2002), Argentina (2003). Secara berurutan terus menular ke Panama, Uruguay, Honduras, Bolivia dan ke berbagai negara lainnya di kawasan itu. Hingga tahun 2009, partai-partai politik kiri sudah menguasai pemerintahan 15 dari 21 negara Amerika Latin.

Kini arah angin politik Amerika Latin sedang berubah. Pemerintahan kiri mulai berguguran. Beberapa tokoh kiri berpengaruh digugat rakyatnya. Di awali dengan kekalahan partai kiri Chili pada 2010, disusul kekalahan mereka di Paraguay pada 2013 dan di Argentina pada  2015.  Satu tahun berikutnya, kubu kiri kalah di Peru. Di tahun itu juga, rekan mereka, presiden Brazil, Dilma Rousseff, dimakzulkan parlemen akibat isu korupsi dan krisis ekonomi.

Pukulan serius juga dialami Evo Morales, presiden kharismatik dari kubu politik kiri Bolivia. Morales mengalami kekalahan dalam referendum konstitusi 2016 yang memungkinkan dirinya menjabat presiden kali ke empat. Ekonom radikal dan presiden Ekuador, Rafael Correa, dipaksa meletakan jabatannya akibat gagal mengatasi resesi ekonomi.

Pemerintahan Bolivarian Maduro pun digoyang tanpa ampun sejak kubu oposisi memenangkan pemilu legislatif pada tahun 2015. Kubu politik sayap kanan neoliberal menduga Maduro bisa dikalahkan pada pilpres 2018. Nyatanya, Maduro menang lagi dengan pengumpulan suara 67,7 %. Dalam krisis ekonomi akut Venezuela saat ini dan tren kekalahan politik kiri di negara-negara tetangga, kemenangan Maduro dianggap aneh dan tak masuk akal.

Guru Besar Sosiologi, James Petras sudah memberi penjelasan paling masuk akal. Baginya, kemunduran kubu politik kiri Amerika Latin, dalam sepuluh tahun terakhir, akibat melemahnya komitmen pada kerja-kerja pengorganisasian dan edukasi rakyat. Setelah berkuasa, para pemimpin kiri menarik jarak dari basis-basis massa ideologis mereka. Mitra utama merebut kekuasaan. Tapi Petras mengingatkan, meski partai politik kiri melemah, gerakan sosialnya menguat.

Di sini letak ulasannya, mengapa Maduro masih kuat. Di Venezuela, sejak mendiang Chavez, pengorganisasian dan edukasi rakyat intens dilakukan di Barrios, Dewan-dewan komunal, dan Komune. Berbekal rakyat terorganisir itu, Venezuela mungkin menjadi benteng terakhir Sosialisme Abad kedua puluh satu paling tangguh. Di tengah terpaan badai krisis ekonomi saat ini paling bergemuruh.

KOMENTAR FACEBOOK