DPRA Nilai Program Padi Inpari Gagal Dikembangkan di Aceh

Ketua Komisi II DPR Aceh Nurzahri saat meninjau areal persawahan di Indrapuri, Jumat, 9 Agustus 2019. @ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Anggota Komisi II DPRA siang tadi turun lapangan ke Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Mereka ingin melihat hasil uji coba penanaman jenis padi Inpari melalui program yang dicanangkan oleh Pemerintah Aceh dan Kementerian Pertanian kepada petani setempat. Uji coba tersebut dinilai gagal karena pertumbuhan padi Inpari dinilai tidak tahan terhadap cuaca panas di Aceh.

Ketua Komisi II Nurzahri, melalui keterangan tertulis yang diterima aceHTrend mengatakan, ada dua program pertanian yang dikembangkan di Indrapri. Masing-masing di Gampong Lam Ilie Teungoh, merupakan program Pemerintah Aceh untuk Program IP 300 dengan luas sawah mencapai 500 ha yang ditanami padi jenis Inpari 32. Satu lagi program Kementerian Pertanian dengan luas sawah mencapai 5 ha yang ditanami Inpari 32 dan 42.

“Hasil pantauan lapangan terhadap kondisi padi ternyata ada sekitar 30 hektare yang gagal panen (rusak berat), 25 % rusak sedang, dan 50 % lagi rusak ringan. Sementara untuk program kementerian dari pantauan lapangan hampir 75% gagal panen atau rusak berat,” kata Nurzahri kepada aceHTrend, Jumat (9/8/2019).

Menurutnya, dari keterangan masyarakat petani dan geuchik setempat, salah satu penyebab gagal panen adalah karena kualitas benih yang tidak bagus, karena tidak tahan cuaca panas dan sebagian karena terkena hama wereng.

“Berdasarkan keterangan dari penyuluh, bibit jenis Inpari terutama Inpari 32 tidak tahan cuaca panas karena asal bibit jenis ini berasal dari luar daerah, walaupun sudah beberapa kali diuji coba di Aceh, salah satu faktor utama karena kondisi Aceh memiliki cuaca yang cukup panas,” katanya.

Ia menambahkan, Komisi II DPRA menyarankan agar ke depan dinas terkait tidak lagi menggunakan bibit jenis Inpari untuk pilot project Pemerintah Aceh.

“Tetapi menggunakan jenis bibit lokal yang telah teruji sejak zaman dahulu, dan secara turun temurun telah digunakan oleh petani kita di Aceh,” sebutnya.

Komisi II DPRA, sambungnya, meminta kepada Kementerian Pertanian untuk bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita oleh petani, akibat pemaksaan penggunaan benih Inpari 32 ini.

“Apalagi kerugian ini dihadapi ketika masyarakat menghadapi lebaran kurban, di mana seharusnya para petani dapat menikmati hasil panen untuk merayakan hari besar Islam,” jelasnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK